Talenta Adaptif Jadi Kunci ‘New Collar Workforce’ di Era Baru, Lanny Wijaya Tekankan Retensi Karyawan
![]() |
| Lanny Wijaya Menjelaskan New Collar Workforce |
Depok, Stapo.id – Kemampuan beradaptasi dan terus belajar menjadi fondasi utama dalam membentuk New Collar Workforce di masa depan. Hal ini mengemuka dalam acara Brain Capital Investment Buka Bersama Peace HR yang digelar di Sudirman Mansion pada 23 Februari 2026 yang juga bertepatan dengan perayaan empat tahun komunitas Peace HR Society, dengan Lanny Wijaya, Head of Government and Public Sector Indonesia, sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa perusahaan modern tidak lagi hanya bergantung pada gelar formal, melainkan pada kualitas talenta yang memiliki kombinasi kecerdasan kognitif, emosional, serta kelincahan belajar.
Lanny menjelaskan konsep Brain Capital sebagai aset strategis organisasi yang mencakup kemampuan berpikir, penilaian, kecerdasan emosional, dan learning agility. Menurutnya, organisasi yang mampu mengelola Brain Capital dengan baik akan memiliki talent velocity tinggi, yaitu kemampuan membaca kebutuhan skill secara real time, membangun kompetensi dengan cepat, dan memobilisasi sumber daya manusia secara tepat sesuai kebutuhan bisnis. Ia menegaskan bahwa perusahaan dengan tingkat retensi karyawan tinggi serta talent pool berkualitas cenderung menghasilkan performa bisnis yang lebih kuat dan kepuasan kerja yang lebih baik. Ia menyampaikan bahwa ketika organisasi menjaga talenta terbaiknya, pendapatan bisnis akan mengikuti karena stabilitas tim menciptakan efisiensi dan inovasi berkelanjutan.
Sesi Diskusi Panel Dengan Peserta
Dalam sesi diskusi, Lanny memberi kesempatan peserta untuk menentukan satu hal paling penting yang ingin mereka pelajari di tengah perubahan dunia kerja. Pertanyaan tersebut memicu refleksi mendalam di antara hadirin mengenai prioritas pengembangan diri. Yulius Buloh dari Partner menyatakan bahwa fokus utamanya adalah meningkatkan kelincahan belajar dan kemampuan adaptif. Lénaud, desainer UX asal Prancis, menambahkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan menuntut profesional untuk terus menyesuaikan diri agar tetap relevan. Pernyataannya menegaskan bahwa adaptasi teknologi bukan lagi pilihan melainkan kebutuhan.
Diskusi tersebut juga menyoroti tren global yang sedang membentuk lanskap ketenagakerjaan saat ini. Peningkatan upskilling berbasis AI mendorong lahirnya tenaga kerja dengan kemampuan hibrida antara manusia dan teknologi. Di saat yang sama perusahaan mulai mengutamakan perekrutan berbasis keterampilan dibanding gelar akademik. Namun terdapat tantangan berupa menurunnya mobilitas tenaga kerja yang membuat perusahaan harus lebih aktif membangun strategi retensi. Kondisi ini memperkuat argumen bahwa investasi pada pengembangan talenta internal menjadi langkah krusial.
Apa Itu New Collar Workforce Sebenarnya?
Konsep New Collar Workforce sendiri merujuk pada tenaga kerja yang memperoleh keterampilan melalui jalur nontradisional seperti pelatihan profesional, sertifikasi, bootcamp, atau pengalaman praktis. Model ini menandai pergeseran paradigma dari klasifikasi tenaga kerja lama menuju pendekatan berbasis kompetensi. Adaptabilitas menjadi faktor penentu karena teknologi, model bisnis, dan kebutuhan industri terus berubah dengan cepat. Diskusi di acara tersebut menegaskan bahwa kemampuan belajar berkelanjutan merupakan mata uang baru dalam dunia kerja modern, baik bagi individu maupun organisasi yang ingin bertahan dan tumbuh di era transformasi digital.
Transformasi Brain Capital sebagai Mata Uang Baru Organisasi
Paparan Lanny Wijaya dalam forum Peace HR Society menandai pergeseran fundamental dalam cara perusahaan memandang nilai seorang karyawan. Di tahun 2026, ijazah formal bukan lagi satu-satunya tiket emas menuju karier cemerlang. Konsep Brain Capital—yang mengintegrasikan kecerdasan kognitif dengan learning agility—menjadi aset strategis yang jauh lebih cair dan bernilai. Organisasi yang cerdas tidak lagi hanya menghitung jumlah kepala, tetapi mengukur talent velocity, yaitu seberapa cepat tim mereka bisa mempelajari keterampilan baru dan menerapkannya dalam solusi bisnis nyata. Dalam ekosistem digital yang bergerak sangat cepat, stabilitas perusahaan justru lahir dari kemampuan karyawannya untuk terus “berubah”, bukan dari kepatuhan pada deskripsi pekerjaan yang kaku.
Menariknya, kaitan antara retensi karyawan dan pendapatan bisnis yang disampaikan Lanny memberikan landasan ekonomi bagi kebijakan HR yang humanis. Ketika perusahaan berinvestasi pada pengembangan otak (brain investment) karyawannya, mereka sebenarnya sedang mengurangi biaya rekrutmen yang mahal dan risiko kegagalan adaptasi. Stabilitas tim yang memiliki kelincahan belajar tinggi menciptakan budaya inovasi yang berkelanjutan. Di era ini, perusahaan yang sukses adalah yang mampu mengubah kantor mereka menjadi “laboratorium pembelajaran”, di mana setiap tantangan baru dianggap sebagai kesempatan untuk meningkatkan nilai Brain Capital organisasi secara kolektif.
Kebangkitan New Collar Workforce di Tengah Disrupsi Kecerdasan Buatan
Pergeseran menuju New Collar Workforce merupakan respons alami terhadap disrupsi teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), yang telah mengubah lanskap pekerjaan secara permanen. Berikut adalah poin-poin penting yang menjadi sorotan dalam diskusi tersebut:
- Keterampilan Melampaui Gelar: Jalur non-tradisional seperti bootcamp, sertifikasi profesional, dan pengalaman praktis kini setara dengan jalur akademik formal. Fokus industri telah bergeser dari “Apa yang Anda pelajari?” menjadi “Apa yang bisa Anda lakukan?”.
- Adaptasi AI sebagai Kebutuhan Mutlak: Seperti yang ditegaskan dalam diskusi, profesional di bidang kreatif maupun teknis harus memiliki kemampuan hibrida. Kemampuan untuk berkolaborasi dengan AI akan membedakan talenta yang relevan dengan yang tertinggal.
- Tantangan Retensi dalam Mobilitas Rendah: Menurunnya mobilitas tenaga kerja global menuntut perusahaan untuk lebih kreatif dalam menjaga talenta terbaik mereka. Program upskilling internal bukan lagi sekadar bonus, melainkan strategi pertahanan agar perusahaan tidak kehilangan kompetensi inti.
- Kelincahan Belajar (Learning Agility): Ini adalah kemampuan untuk membuang ilmu lama yang sudah tidak relevan (unlearn) dan mempelajari hal baru dengan cepat (relearn). Dalam dunia kerja modern, kecepatan belajar adalah keunggulan kompetitif yang paling sulit ditiru.

