EventPilihan

CEO Speak Project: Kunci Public Speaking Bukan Definisi, Tapi Kesabaran Waktu

Depok, Stapo.id – Chief Executive Officer Speak Project, Sandika Dewi, menegaskan bahwa kunci utama menguasai public speaking bukan terletak pada hafalan definisi atau teknik instan, melainkan pada kesabaran waktu dan konsistensi dalam melatih pola pikir. Pesan tersebut ia sampaikan dalam acara Become a Great Public Speaker and Graduation Master Class yang digelar di Atamerica Pacific Place, Jakarta, pada 24 Januari 2026.

Dalam sesinya, Sandika mengajak para peserta untuk tidak terburu-buru ingin tampil fasih tanpa memahami terlebih dahulu alasan dan tujuan mereka belajar berbicara di depan umum. Menurutnya, banyak orang ingin mahir public speaking, namun tidak benar-benar memahami untuk apa keterampilan itu dibutuhkan dalam hidup dan karier mereka. Tanpa tujuan yang jelas, proses belajar justru berpotensi menjadi tidak terarah dan mudah membuat peserta kehilangan motivasi di tengah jalan.

Sandika menjelaskan bahwa persoalan utama yang sering membuat seseorang gagap atau berbicara tidak runtut bukan semata karena rasa gugup, melainkan karena struktur berpikir yang belum tertata. Ketika pikiran tidak terstruktur, maka pesan yang disampaikan pun akan terdengar berantakan. Karena itu, ia menekankan pentingnya melatih cara berpikir sebelum melatih cara berbicara.

Metode Sederhana Pada Kemampuan Public Speaking

Salah satu metode sederhana yang ia sarankan adalah melatih kemampuan mendeskripsikan suatu benda dari berbagai sudut pandang, bukan sekadar mengandalkan definisi. Ia mencontohkan, saat diminta menjelaskan tentang sebuah lampu, kebanyakan orang spontan akan menjawab dengan definisi formal. Padahal, yang lebih penting adalah bagaimana seseorang mampu menceritakan detail lampu tersebut, mulai dari bentuk, fungsi, alasan keberadaannya, hingga konteks penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara ini, pola berpikir akan terasah menjadi lebih sistematis dan kaya perspektif.

Lebih jauh, Sandika menekankan bahwa Speak Project tidak menawarkan janji instan untuk menjadi pembicara hebat dalam waktu singkat. Ia menyebut public speaking sebagai sebuah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran dan ketekunan. Menurutnya, tidak ada jalan pintas untuk menjadi mahir berbicara di depan umum, selain dengan latihan yang konsisten dan kesediaan untuk terus belajar dari proses.

Ia menambahkan, Speak Project hadir bukan untuk menjanjikan seseorang langsung lancar dan jago, melainkan membekali peserta dengan pemahaman tentang bagaimana cara belajar public speaking yang benar. Ketika seseorang sudah memahami metode belajarnya dan mau melatihnya secara berkelanjutan, maka kemampuan berbicara akan berkembang secara alami seiring waktu.

Graduation Peserta Speak Project Batch 8 (24/1) 

Pesan yang Ingin Disampaikan Sandika Tentang Public Speaking

Melalui pesan tersebut, Sandika berharap publik tidak lagi memandang public speaking sekadar sebagai keterampilan tampil di atas panggung, melainkan sebagai proses membangun cara berpikir yang jernih, terstruktur, dan matang. Bagi Sandika, keberhasilan dalam public speaking pada akhirnya bukan soal seberapa cepat seseorang bisa berbicara lancar, tetapi seberapa sabar dan konsisten ia menempa dirinya dalam perjalanan itu.

Redefinisi Public Speaking: Dari Sekadar Bicara Menjadi Seni Menata Pikiran

Pernyataan Sandika Dewi dalam Master Class di Atamerica membawa perspektif segar yang mendobrak mitos “instan” dalam dunia komunikasi publik. Di era digital di mana semua orang ingin hasil cepat, penekanan pada kesabaran waktu dan konsistensi adalah sebuah antitesis yang sangat diperlukan. Public speaking sering kali disalahpahami hanya sebagai keterampilan teknis di atas panggung—seperti olah vokal atau gestur tubuh—padahal esensi utamanya terletak pada kedalaman kognitif. Ketika Sandika menyebut bahwa “persoalan utama bukan gugup, melainkan struktur berpikir yang belum tertata,” ia sedang menunjuk pada akar masalah komunikasi: kekosongan substansi. Tanpa kerangka berpikir yang kuat, teknik retorika secanggih apa pun hanya akan menghasilkan pembicaraan yang hampa dan tidak berbekas bagi pendengar.

Metode deskripsi benda yang disarankan—menjelaskan lampu dari berbagai sudut pandang—merupakan latihan lateral thinking yang sangat efektif. Teknik ini memaksa otak untuk keluar dari zona nyaman definisi kamus yang kaku dan mulai membangun narasi yang kontekstual. Dalam praktik profesional, kemampuan mendeskripsikan konteks dan fungsi jauh lebih dihargai daripada sekadar memuntahkan data mentah. Ini adalah transisi dari menjadi seorang “pembicara” menjadi seorang “penutur cerita” (storyteller). Dengan melatih cara melihat satu objek dari sepuluh perspektif berbeda, seorang pembicara secara otomatis sedang membangun jalur sinapsis baru di otak untuk tetap tenang dan kreatif saat menghadapi situasi tak terduga di atas podium.

Lebih jauh lagi, keberanian Speak Project untuk tidak menjanjikan kelancaran instan adalah bentuk integritas edukasi yang patut diapresiasi. Komunikasi adalah otot mental yang perlu dilatih secara anaerobik; setiap kegagalan bicara adalah beban yang memperkuat otot tersebut. Pendekatan ini menggeser fokus peserta dari “hasil akhir yang sempurna” menjadi “proses belajar yang benar.” Pada akhirnya, public speaking yang matang adalah refleksi dari pikiran yang jernih. Pesan Sandika ini menjadi pengingat penting bagi siapa pun bahwa sebelum mulut terbuka untuk meyakinkan orang lain, pikiran harus lebih dulu selesai meyakinkan diri sendiri melalui struktur yang logis dan tujuan yang jelas.