Chief People Officer tiket.com Ungkap Nilai Ramadan untuk HR Lebih Unggul
![]() |
| Dudi Arisandi selaku Chief People Officer tiket.com (arsip stapo.id) |
Depok, Stapo.id – Dudi Arisandi selaku Chief People Officer tiket.com menegaskan bahwa nilai nilai Ramadan dapat menjadi fondasi transformasi peran human resources menjadi fungsi strategis yang memberi manfaat luas bagi organisasi maupun karyawan. Hal itu disampaikannya dalam sesi talkshow Hearts at Works How Ramadhan Values Transform HR Excellence pada acara Workplace Happiness HR Networking with Jobstreet by Seek yang berlangsung 25 Februari 2026 di kantor RDTX Tower lantai 45. Dalam forum profesional tersebut, ia memaparkan bahwa pendekatan HR modern tidak cukup hanya berbasis proses administratif, tetapi harus berakar pada nilai empati, kepedulian, dan kesabaran.
Menurut Dudi, prinsip Khoirunnas anfa’uhum linnas atau sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain merupakan refleksi penting bagi praktisi HR. Ia mengajak peserta merenungkan peran mereka sebagai pihak yang membuka pintu rezeki bagi banyak orang melalui proses rekrutmen hingga pengembangan karier. Ia menilai pekerjaan HR yang dijalankan dengan niat baik bukan sekadar aktivitas profesional, melainkan kontribusi nyata terhadap kehidupan banyak individu. Dalam perspektifnya, Ramadan adalah momentum pelatihan karakter yang memperkuat kualitas personal sekaligus profesional seorang praktisi HR.
![]() |
| Prinsip Khoirunnas anfa’uhum linnas atau sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain kata Dudi di Kantor Jobstreet by Seek di RDTX. (arsip stapo.id) |
Materi presentasi yang ditampilkan dalam sesi tersebut menekankan pentingnya praktik terbaik HR dalam membangun budaya inklusif. Ditekankan bahwa kesadaran budaya, perayaan keberagaman, lingkungan kerja yang saling menghormati, serta kepemimpinan yang berempati merupakan elemen kunci organisasi modern. Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari kinerja bisnis, tetapi juga dari kualitas hubungan antarindividu di dalamnya. Dudi menilai organisasi yang mampu menciptakan ruang aman dan inklusif akan memiliki fondasi SDM yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Peran Kepemimpinan Selama Ramadhan
Selain nilai inklusivitas, ia juga menyoroti peran kepemimpinan selama Ramadan sebagai contoh nyata penerapan nilai spiritual di tempat kerja. Pemimpin, menurutnya, harus mampu menunjukkan kepedulian melalui tindakan konkret, bukan sekadar pernyataan. Hal ini termasuk menyediakan ruang ibadah, memberi fleksibilitas waktu, serta memastikan keseimbangan kerja dan ibadah bagi karyawan. Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan loyalitas sekaligus kesejahteraan psikologis tim.
Ia juga memaparkan bahwa strategi fleksibilitas menjadi praktik nyata yang telah diterapkan di perusahaan, seperti penyesuaian jadwal rapat, opsi kerja jarak jauh, hingga pengurangan beban kerja menjelang periode mudik. Perusahaan bahkan mendorong tim untuk memperlambat ritme kerja dua minggu sebelum libur panjang agar karyawan dapat mempersiapkan kebutuhan pribadi tanpa tekanan pekerjaan. Selain itu, fasilitas kesejahteraan seperti area istirahat, dukungan nutrisi, serta penyediaan makanan sahur dan berbuka bagi karyawan bertugas 24 jam menjadi bagian dari pendekatan holistik terhadap kesejahteraan tenaga kerja.
Dudi yang merupakan lulusan Magister Teknik Industri dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menekankan bahwa komunikasi terbuka menjadi kunci utama terciptanya kebahagiaan karyawan. Ia menyatakan bahwa organisasi yang mampu membangun dialog transparan antara manajemen dan tim akan memiliki indeks kebahagiaan kerja lebih tinggi. Baginya, nilai Ramadan bukan hanya relevan selama bulan suci, tetapi dapat dijadikan prinsip kepemimpinan sepanjang tahun untuk menciptakan ekosistem kerja yang berorientasi pada manfaat, keberkahan, dan keberlanjutan.
Spiritual Capital dalam Transformasi Human Resources Modern
Pemaparan Dudi Arisandi di kantor RDTX Tower membawa perspektif yang sangat manusiawi di tengah derasnya arus digitalisasi manajemen sumber daya manusia. Konsep Spiritual Capital yang diangkat—yakni menjadikan nilai-nilai Ramadan sebagai fondasi profesionalisme—merupakan antitesis yang segar terhadap praktik HR yang sering kali terjebak dalam kakuya data dan administrasi. Ketika seorang Chief People Officer menekankan prinsip Khoirunnas anfa’uhum linnas, ia sebenarnya sedang menggeser paradigma HR dari sekadar “penjaga aset” menjadi “penyedia manfaat”. Dalam lanskap industri kompetitif tahun 2026, perusahaan yang mampu menyentuh sisi spiritual dan emosional karyawannya akan memiliki tingkat retensi yang jauh lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang hanya mengandalkan kompensasi finansial.
Pendekatan empati dan kesabaran yang disebutkan Dudi bukan sekadar retorika moral, melainkan strategi bisnis yang terukur. Ramadan menjadi laboratorium kepemimpinan di mana fleksibilitas kerja, seperti penyesuaian jadwal rapat dan opsi kerja jarak jauh, diuji efektivitasnya. Praktik “memperlambat ritme kerja” dua minggu sebelum libur panjang adalah langkah psikologis yang sangat cerdas. Secara teknis, ini mengurangi risiko burnout dan kesalahan kerja akibat kelelahan fisik saat berpuasa. Dengan memberikan ruang bernapas bagi karyawan untuk mengurus kebutuhan pribadi, perusahaan sebenarnya sedang menanam “investasi loyalitas” yang akan dipanen dalam bentuk produktivitas yang lebih stabil pasca-libur panjang.
Implementasi Empati sebagai Penggerak Indeks Kebahagiaan Kerja
Penerapan nilai Ramadan di tempat kerja, sebagaimana dipraktikkan oleh tiket.com, memberikan pelajaran berharga bagi para pemimpin organisasi mengenai pentingnya harmoni antara kebijakan operasional dan kebutuhan personal. Berikut adalah poin-poin krusial yang dapat diadaptasi oleh perusahaan lain:
Inklusivitas Bukan Sekadar Jargon: Menciptakan ruang aman dan menghormati keberagaman budaya adalah fondasi utama organisasi berkelanjutan. Lingkungan yang inklusif memungkinkan setiap individu merasa dihargai secara utuh, bukan hanya sebagai unit produksi.
Kepemimpinan Berbasis Tindakan Nyata: Penyediaan fasilitas fisik seperti ruang ibadah, dukungan nutrisi, hingga makanan sahur bagi tim shift 24 jam adalah bentuk kepedulian konkret. Hal ini lebih efektif dalam membangun hubungan emosional daripada sekadar pernyataan visi-misi di dinding kantor.
Komunikasi Transparan sebagai Kunci Kebahagiaan: Dialog terbuka antara manajemen dan karyawan meminimalkan friksi dan ketidakpastian. Ketika karyawan merasa didengarkan dan dilibatkan dalam penyesuaian ritme kerja, rasa kepemilikan (sense of belonging) terhadap perusahaan akan meningkat secara signifikan.
Keberlanjutan Nilai Sepanjang Tahun: Tantangan terbesar bagi praktisi HR adalah bagaimana menjaga api empati dan kesabaran ini tetap menyala setelah bulan Ramadan usai. Nilai-nilai ini harus dilembagakan ke dalam sistem penilaian kinerja dan budaya perusahaan agar menjadi karakter permanen organisasi.
Langkah strategis yang diambil Dudi Arisandi menunjukkan bahwa kebahagiaan karyawan tidak lahir dari ketiadaan beban kerja, melainkan dari adanya dukungan sistem yang memahami kondisi manusiawi pekerjanya. Organisasi yang berorientasi pada manfaat dan keberkahan, pada akhirnya, akan menjadi magnet bagi talenta-talenta terbaik yang mencari makna di balik pekerjaan mereka.


