Ancaman PHK Akibat AI di Indonesia Meningkat pada 2025

Depok, Stapo.id – Intel Indonesia memberikan peringatan serius mengenai ancaman PHK massal yang muncul akibat adopsi kecerdasan buatan.
Tommy Ferdianto selaku Direktur Inovasi Pendidikan dan Kemitraan Intel Indonesia menyampaikan data tersebut secara rinci. Ia menyoroti potensi kehilangan pekerjaan bagi 88.519 orang di Indonesia pada tahun 2025.
Tommy berbicara dalam acara Dies Natalis IKAPUNIJA ke-16 di Politeknik Negeri Jakarta Gedung Pusat Unggulan Teknologi (PUT) pada Sabtu (23/5). Ia menjelaskan bahwa otomatisasi kini merambah berbagai sektor industri vital di tanah air.
Sektor logistik, kesehatan, manufaktur, hingga energi kini mulai mengandalkan teknologi canggih untuk operasional. Tommy menilai pengalaman kerja selama puluhan tahun bukan lagi jaminan keamanan karier yang mutlak.
Efisiensi Teknologi Mengubah Dunia Kerja
Tommy mengingatkan semua pihak agar tidak terjebak dalam zona nyaman di tengah gempuran teknologi. Ia menyarankan para profesional untuk terus melakukan evaluasi terhadap nilai jual mereka.
“Apakah saya masih relevan setelah 15 tahun? Dan kira-kira apakah saya masih mampu berlari?” ujar Tommy. Pertanyaan reflektif ini muncul saat ia melihat kecepatan perkembangan kecerdasan buatan atau AI saat ini.
Ia menegaskan bahwa AI mampu meningkatkan efisiensi kerja perusahaan secara sangat signifikan. Pekerjaan yang sebelumnya memakan waktu berhari-hari kini selesai hanya dalam hitungan jam saja.
Banyak perusahaan raksasa dunia seperti Meta dan Microsoft tetap melakukan restrukturisasi besar-besaran. Langkah strategis ini mereka ambil meskipun kondisi keuangan perusahaan sedang berada dalam posisi stabil.
Tommy berpendapat bahwa pengurangan karyawan sering terjadi karena kebutuhan reorganisasi proses bisnis. Adaptasi terhadap sistem kerja baru menjadi alasan utama di balik setiap keputusan sulit tersebut.
“Jangan-jangan pekerjaan saya ini besok bisa langsung diotomatisasi saat ada orang baru yang masuk,” tutur Tommy. Ia meminta masyarakat waspada terhadap perubahan pola kerja digital.
“Jadi, hal inilah yang membuat kita mesti berhati-hati dan tidak boleh terlalu nyaman,” tambahnya kemudian. Narasi ini menekankan pentingnya kewaspadaan setiap individu dalam menjaga relevansi mereka.
Menghadapi Ancaman PHK dengan Keterampilan Baru
Fenomena global ini menunjukkan transformasi besar dalam persyaratan keterampilan bagi seluruh tenaga kerja. Tommy mencatat adanya kesenjangan keterampilan atau skill gap yang mencapai angka 63 persen.
Angka ini memperkuat alasan munculnya ancaman PHK bagi pekerja Indonesia yang kurang beradaptasi. Namun, ia juga membawa kabar positif mengenai peluang kerja baru yang akan muncul nantinya.
Potensi lapangan kerja baru secara global diperkirakan mencapai angka 170 juta posisi berbeda. Transformasi industri yang masif dan cepat menuntut setiap individu untuk terus belajar hal baru.
Tommy mendorong para lulusan perguruan tinggi untuk memiliki mentalitas pembelajar sepanjang hayat. Ia percaya bahwa kreativitas manusia tetap menjadi aset berharga yang sulit tergantikan sepenuhnya.
Sinergi antara kecerdasan manusia dan mesin akan menciptakan ekosistem kerja yang lebih produktif. Masyarakat perlu menyikapi perubahan ini dengan persiapan matang dan peningkatan kompetensi digital yang relevan.
Restrukturisasi industri merupakan proses alami yang harus kita lalui demi kemajuan ekonomi nasional. Keberanian untuk bertransformasi menjadi kunci utama dalam menghadapi persaingan kerja di masa depan.
