InsightPilihan

Grace Suryadi: Budaya Kerja dan Komunikasi Efektif Jadi Kunci Retensi Talenta

Direktur HR PT Amcor Flexibles Indonesia, Grace Suryadi (arsip stapo.id)

Depok, Stapo.id – Direktur HR PT Amcor Flexibles Indonesia, Grace Suryadi, menegaskan bahwa lingkungan kerja ideal tidak hanya ditentukan oleh besaran gaji, tetapi juga oleh budaya perusahaan, kualitas relasi tim, serta komunikasi yang sehat di dalam organisasi. Hal itu ia sampaikan dalam Talkshow Workplace Happiness HR Networking yang digelar oleh Jobstreet by Seek pada 25 Februari 2026 di kantor mereka di RDTX Tower lantai 45, Jakarta Selatan.

Dalam paparannya, Grace menyoroti fenomena generasi muda yang cenderung menjadikan kompensasi sebagai faktor utama dalam memilih pekerjaan. Ia menjelaskan bahwa realitas dunia kerja tidak selalu sesederhana itu karena setiap posisi memiliki kelebihan dan kekurangan. Menurutnya, gaji tinggi biasanya sejalan dengan tanggung jawab besar, target ketat, serta risiko evaluasi kinerja yang lebih keras. Ia menekankan bahwa ekspektasi karier harus dibangun secara realistis agar karyawan tidak terjebak pada persepsi semata.

Grace menambahkan bahwa ada faktor lain yang justru lebih menentukan keberlangsungan karier seseorang di perusahaan, yakni kesesuaian nilai, budaya organisasi, serta kerja sama tim. Lingkungan kerja yang suportif dan rekan kerja yang menyenangkan dinilai memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja. Ia menyebut banyak karyawan memilih mengundurkan diri bukan karena pekerjaan itu sendiri, melainkan karena atmosfer kerja yang tidak sehat atau hubungan interpersonal yang kurang harmonis.

Dalam sesi diskusi, Grace juga mengutip temuan survei McKinsey yang menunjukkan bahwa peningkatan engagement hingga 55 persen berkontribusi besar terhadap kemampuan perusahaan mempertahankan karyawan dan talenta terbaik. Oleh karena itu, ia menilai program kesejahteraan karyawan menjadi investasi strategis, bukan sekadar fasilitas tambahan. Program tersebut dapat mencakup dukungan kesehatan mental, konsultasi profesional, hingga pelatihan manajemen stres guna membantu karyawan menghadapi tekanan kerja yang intens.

Komunikasi Efektif Lintas Level

Selain isu budaya kerja, Grace menekankan pentingnya komunikasi efektif lintas level organisasi. Ia menjelaskan bahwa pesan perusahaan akan lebih mudah dipahami jika disampaikan dengan bahasa sederhana yang sesuai dengan latar belakang audiens. Menurutnya, penggunaan istilah teknis yang terlalu kompleks justru berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Pendekatan komunikasi yang jelas dan relevan membuat pesan lebih mudah diingat sekaligus memperkuat kepercayaan antara manajemen dan karyawan.

Ia mencontohkan bahwa informasi keuangan perusahaan yang rumit dapat dijelaskan melalui analogi sederhana dari kehidupan sehari hari, sehingga karyawan di berbagai tingkatan dapat memahami konteksnya dengan cepat. Strategi ini dinilai efektif untuk menjembatani kesenjangan pemahaman sekaligus memastikan pesan strategis perusahaan tersampaikan secara konsisten.

Melalui diskusi tersebut, Grace menegaskan bahwa peran HR saat ini telah berevolusi menjadi mitra strategis organisasi. HR tidak hanya bertugas mengelola administrasi karyawan, tetapi juga membangun ekosistem kerja yang sehat, inklusif, dan komunikatif. Ia menutup sesi dengan menekankan bahwa perusahaan yang mampu mengelola budaya kerja dan komunikasi secara seimbang akan memiliki daya tahan lebih kuat dalam mempertahankan talenta sekaligus meningkatkan kinerja bisnis jangka panjang.

 

Melampaui Nominal Gaji: Membangun Ekosistem Kebahagiaan Kerja

Pemaparan Grace Suryadi di RDTX Tower memberikan perspektif penyeimbang di tengah tren job-hopping yang didominasi oleh pengejaran kompensasi finansial semata. Di tahun 2026, fenomena “gaji tinggi, tekanan tinggi” menjadi realitas yang sering kali memicu burnout prematur pada talenta muda. Penekanan Grace bahwa lingkungan kerja ideal ditentukan oleh budaya dan kualitas relasi adalah sebuah kebenaran pragmatis; gaji mungkin menarik orang untuk datang, tetapi budaya perusahaandan kepemimpinanlah yang membuat mereka bertahan. Ketika sebuah organisasi mampu menciptakan atmosfer yang sehat, mereka sebenarnya sedang membangun sistem pertahanan internal yang paling kuat melawan pembajakan talenta oleh kompetitor.

Data dari McKinsey yang dikutip mengenai peningkatan engagement sebesar 55 persen mempertegas bahwa kesejahteraan karyawan bukan lagi sekadar program Corporate Social Responsibility (CSR) internal, melainkan investasi strategis dengan Return on Investment (ROI) yang nyata. Perusahaan yang mengalokasikan sumber daya untuk dukungan kesehatan mental dan manajemen stres bukan sedang memanjakan karyawan, melainkan sedang memastikan mesin penggerak bisnis mereka tetap berada dalam kondisi optimal. Dalam jangka panjang, biaya untuk mempertahankan karyawan lama yang bahagia jauh lebih rendah daripada biaya rekrutmen dan pelatihan ulang karyawan baru akibat tingginya angka turnover.

Komunikasi Sederhana sebagai Jembatan Strategis Organisasi

Salah satu poin paling menarik dari diskusi ini adalah mengenai strategi komunikasi lintas level. Sering kali, visi besar perusahaan gagal terimplementasi hanya karena hambatan bahasa teknis yang terlalu tinggi bagi karyawan di level operasional. Berikut adalah poin-poin penting yang menjadi kunci keberhasilan komunikasi internal:

  • Simplifikasi Pesan Strategis: Kemampuan manajemen untuk menerjemahkan data keuangan atau target rumit ke dalam analogi kehidupan sehari-hari adalah bentuk kecerdasan emosional organisasi. Hal ini menghapus sekat eksklusivitas informasi dan membuat setiap karyawan merasa menjadi bagian penting dari visi besar perusahaan.
  • HR sebagai Mitra Strategis: Evolusi peran HR dari fungsi administratif menjadi arsitek ekosistem kerja menunjukkan bahwa pengelolaan manusia adalah inti dari keberlanjutan bisnis. HR kini bertugas memastikan bahwa “suara” dari level bawah terdengar hingga ke ruang direksi, dan sebaliknya.
  • Investasi pada Psikologis Karyawan: Fasilitas seperti konsultasi profesional bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan di era kerja yang serba cepat. Karyawan yang memiliki kesehatan mental yang baik akan memiliki daya tahan (resilience) yang lebih tinggi saat menghadapi krisis atau target yang ketat.
  • Budaya Inklusif dan Komunikatif: Lingkungan yang memungkinkan komunikasi dua arah secara transparan akan meminimalkan rumor dan konflik internal. Kepercayaan (trust) yang terbangun melalui komunikasi yang jujur adalah aset tak berwujud yang meningkatkan efektivitas kerja tim secara drastis.

Pada akhirnya, perusahaan yang memenangkan persaingan talenta di masa depan bukanlah perusahaan dengan kantor termegah atau gaji tertinggi saja, melainkan perusahaan yang paling manusiawi dalam memperlakukan karyawannya. Keserasian antara nilai pribadi karyawan dan budaya organisasi akan melahirkan loyalitas organik yang tidak bisa dibeli dengan sekadar kenaikan angka di slip gaji.