Lanny Wijaya: Adopsi Teknologi AI Meningkat Pesat di Indonesia

Depok, Stapo.id – Adopsi Teknologi AI kini menjadi fokus utama bagi para pelaku usaha dan tenaga kerja profesional di Indonesia. Lanny Wijaya selaku Head of Gov and Public Sector LinkedIn mengungkapkan data tersebut dalam acara Bursa Wirausaha Unggulan Kementerian UMKM Sesi Founders Talk. Kegiatan tersebut berlangsung di SMESCO Hall Jakarta pada Rabu (10/6). Berdasarkan laporan terbaru, kebutuhan tenaga kerja ahli kecerdasan buatan meningkat hingga hampir 300 persen.
Bahkan, posisi pendiri atau founder yang fokus pada bidang ini melonjak sebanyak 315 persen secara global. Lanny menjelaskan bahwa efisiensi pada berbagai unit bisnis menjadi alasan utama tingginya permintaan teknologi ini. Lebih dari 400.000 permintaan penggunaan alat cerdas muncul dari internal perusahaan untuk mempermudah operasional harian. Antusiasme masyarakat Indonesia dalam meningkatkan keterampilan pro teknologi juga sangat membanggakan sejak tahun 2022 lalu.
Perubahan Keterampilan Kerja Menuju Tahun 2030
LinkedIn memprediksi sekitar 70 persen keterampilan yang digunakan dalam berbagai pekerjaan akan berubah pada tahun 2030. Fenomena ini memaksa pekerja untuk terus beradaptasi dengan pergeseran struktural yang terjadi di industri global. Keterampilan baru kini menjadi mata uang baru bagi para pencari kerja maupun pengusaha sukses. Setiap individu perlu memahami arah perubahan ini agar tetap relevan di masa depan.
Indonesia menunjukkan performa yang cukup agresif dalam proses pengembangan teknologi ini di tingkat regional. Saat ini, Indonesia menempati posisi kedua di Asia Tenggara setelah Singapura dalam hal pertumbuhan penggunaan kecerdasan buatan. Pada skala global, Indonesia berada di peringkat ke-14 dari 25 negara yang menjadi subjek penelitian LinkedIn. Hal ini membuktikan bahwa talenta lokal sangat siap menghadapi era digitalisasi yang masif.
Manfaat Strategis Adopsi Teknologi AI bagi Perusahaan
Pemanfaatan teknologi ini sebaiknya bertujuan untuk memperkuat peran sumber daya manusia yang sudah ada. Lanny menekankan bahwa teknologi cerdas ini bukan hadir untuk menggantikan posisi manusia secara total di kantor. “Tapi yang terpenting adalah bagaimana AI ini bukan menggantikan, tapi memperkuat peran dari SDM yang ada di perusahaan,” ujar Lanny Wijaya dengan tegas.
Pengusaha harus melihat kecerdasan buatan sebagai rekan kerja yang membantu meningkatkan produktivitas secara efektif. “Jadi intinya AI itu bukan musuh, tapi teman. AI as a co-pilot,” tambah Lanny saat sesi diskusi panel Bursa Wirausaha Unggulan tersebut. Konsep asisten digital ini memungkinkan manusia tetap memegang kendali penuh atas keputusan strategis perusahaan mereka. Perusahaan yang sukses adalah perusahaan yang mampu memadukan kecanggihan mesin dengan empati manusia.
Indonesia memiliki potensi besar untuk memimpin transformasi digital di kawasan Asia melalui pemanfaatan kecerdasan buatan secara tepat. Pelaku UMKM dan korporasi besar perlu segera menyesuaikan strategi bisnis agar tidak tertinggal. Penguasaan teknologi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan untuk bertahan dalam persaingan pasar global yang semakin ketat. Transformasi ini akan membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional jangka panjang.

