Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Nindya Karya Sri Haryanto Ajak Mahasiswa Aktif Organisasi Demi Soft Skill

Sumber Gambar: Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Nindya Karya Sri Haryanto
Depok, Stapo.id – Prestasi akademik memang menjadi modal penting bagi mahasiswa. Namun, di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, dan membangun relasi sering kali menjadi pembeda. Pesan inilah yang disampaikan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Nindya Karya, Sri Haryanto, kepada mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) melalui kisah perjalanan hidupnya.
Sri Haryanto, alumnus Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) angkatan 1989, mengungkapkan bahwa perjalanan kuliahnya tidak berjalan mudah. Saat memasuki semester tiga, ayahnya meninggal dunia sehingga kondisi ekonomi keluarga berubah drastis. Sejak saat itu, ia harus membagi waktu antara menempuh pendidikan dan membantu ibunya mencari nafkah.
Pengalaman Warung Jadi Bekal Membangun Kepercayaan
Selepas kuliah, Sri menjaga warung keluarga hingga larut malam, bahkan sering kali baru beristirahat menjelang dini hari. Kesibukan tersebut membuatnya tidak memiliki kesempatan mengikuti organisasi kemahasiswaan sebagaimana rekan-rekannya.
Meski demikian, pengalaman bekerja sejak muda justru memberinya bekal yang tidak ia temukan di ruang kelas. Dari melayani pelanggan setiap hari, ia belajar pentingnya membangun kepercayaan, menjaga hubungan baik dengan pelanggan, hingga memahami bagaimana relasi bisnis dan kepercayaan dari pihak perbankan terbentuk. Pengalaman mengelola usaha gerobak minuman juga menjadi sekolah kehidupan yang membentuk karakter serta cara berpikirnya dalam dunia bisnis.
Namun, setelah meniti karier hingga menduduki posisi strategis di salah satu perusahaan konstruksi milik negara, Sri menyadari ada satu pengalaman yang sempat terlewat, yakni berorganisasi di kampus. Menurutnya, organisasi merupakan tempat terbaik bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan yang sulit diperoleh hanya dari kegiatan akademik.
“Hal yang tidak kalah penting sebenarnya adalah networking. Kita tidak bisa sendirian; kita harus punya banyak teman dan itu bisa didapatkan dari organisasi,” ujar Sri.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan organisasi melatih mahasiswa untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat, mengambil keputusan, hingga menyelesaikan perbedaan pandangan. Situasi tersebut, menurutnya, sangat mirip dengan dinamika yang akan menemui ketika seseorang memasuki dunia profesional.
Organisasi Kampus Melatih Soft Skill dan Networking
Bagi Sri, pengalaman menjadi panitia sebuah acara kampus atau memimpin organisasi bukan sekadar aktivitas tambahan. Kegiatan tersebut merupakan simulasi nyata tentang bagaimana seseorang bekerja dalam tim, mengelola konflik, membagi tanggung jawab, serta mencapai tujuan bersama. Soft skill seperti kepemimpinan, komunikasi, negosiasi, dan kolaborasi justru semakin dibutuhkan ketika seseorang telah memasuki jenjang karier yang lebih tinggi.
Karena itu, apabila saat ini ia kembali menjadi mahasiswa PNJ, Sri mengaku akan memanfaatkan kesempatan untuk lebih aktif mengikuti organisasi. Pengalaman hidup memang mengajarkannya banyak hal melalui dunia usaha, tetapi organisasi kampus dinilainya mampu melengkapi bekal tersebut dengan kemampuan interpersonal dan kepemimpinan yang sangat dibutuhkan di dunia kerja.
Pesan Sri menjadi pengingat bahwa keberhasilan karier tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik atau kemampuan teknis. Dunia kerja juga membutuhkan individu yang mampu beradaptasi, bekerja sama, membangun jejaring, serta memimpin orang lain.
Pesan Sri Haryanto untuk Mahasiswa (Khususnya Almamater Politeknik Negeri Jakarta)
Bagi mahasiswa yang saat ini masih memiliki kesempatan menikmati kehidupan kampus, Sri mendorong agar tidak ragu mencoba berbagai kegiatan di luar ruang kelas. Organisasi, komunitas, maupun kepanitiaan dapat menjadi tempat belajar yang berharga untuk membangun karakter sekaligus memperluas jaringan pertemanan yang kelak dapat membuka berbagai peluang karier.
Pengalaman hidup Sri Haryanto menunjukkan bahwa setiap mahasiswa memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang harus berjuang membantu keluarga, ada pula yang memiliki lebih banyak kesempatan mengembangkan diri. Apa pun kondisinya, semangat untuk terus belajar dan mengasah kemampuan, baik hard skill maupun soft skill, menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berubah.

