Viral Cuitan 2012 “Stop Chat GPT”, Netizen Sangka Penulisnya Time Traveller

Depok, Stapo.id – Bagaimana jika seseorang pada 2012 sudah menulis “Stop chat GPT!!”, jauh sebelum ChatGPT dikenal dunia? Inilah yang terjadi di media sosial setelah sebuah cuitan lama milik warganet Indonesia kembali viral dan membuat netizen internasional mengira penulisnya sebagai seorang time traveller.
Cuitan tersebut dibuat pada 5 Oktober 2012 oleh akun X yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, @Meytrullers17. Isinya sangat singkat: “Stop chat gpt!!”. Belasan tahun kemudian, kalimat sederhana itu mendadak terlihat seperti pesan dari masa depan karena publik kini mengenal ChatGPT sebagai salah satu produk kecerdasan buatan paling populer.
Kehebohan tersebut bukan tanpa alasan. ChatGPT sendiri baru diperkenalkan secara publik oleh OpenAI pada 30 November 2022, sehingga cuitan yang muncul satu dekade sebelumnya terlihat seperti sebuah ramalan teknologi yang terlalu tepat. Bahkan, sejumlah pengguna internet dari luar Indonesia ikut membanjiri unggahan tersebut dengan komentar yang menganggap penulisnya seolah sudah mengetahui keberadaan ChatGPT sebelum teknologi itu lahir.
Namun, misteri tersebut ternyata jauh lebih sederhana dan sangat Indonesia.
GPT Ternyata Bukan Artificial Intelligence
Bagi pengguna internet Indonesia pada era media sosial dan SMS, “gpt” dapat digunakan sebagai singkatan dari “ga penting” atau “gak penting”. Dengan konteks tersebut, kalimat “Stop chat gpt!!” bukan berarti “berhenti menggunakan ChatGPT”, melainkan kurang lebih dapat dibaca sebagai “berhenti mengirim chat yang tidak penting.” Penjelasan tersebut juga muncul dari warganet Indonesia ketika cuitan lama itu kembali diperhatikan pengguna global.
Artinya, tidak ada indikasi bahwa sang pengguna sedang membicarakan kecerdasan buatan. Cuitan tersebut dibuat tiga tahun sebelum OpenAI berdiri pada 2015 dan satu dekade sebelum ChatGPT diluncurkan ke publik. Jadi, teori tentang time traveller lebih tepat dianggap sebagai lelucon internet daripada fakta.
Menariknya, fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana konteks bahasa dapat berubah ketika sebuah konten berpindah dari satu komunitas internet ke komunitas lainnya. Bagi pengguna Indonesia pada 2012, rangkaian huruf “GPT” dapat dipahami sebagai singkatan slang. Namun bagi pengguna internet global pada 2026, tiga huruf tersebut langsung diasosiasikan dengan teknologi generative AI.
Ketika Algoritma Mengubah Makna Cuitan Lama
Ada sisi teknologi yang menarik dari fenomena ini. Sebuah unggahan yang selama bertahun-tahun hampir tidak memiliki relevansi global tiba-tiba mendapatkan perhatian besar karena konteks internet berubah.
Menurut laporan detikInet, unggahan tersebut sempat mengumpulkan lebih dari 52.000 likes, 686 komentar, dan lebih dari 12.000 repost setelah kembali viral. Sebagian besar perhatian datang dari pengguna luar negeri yang mengira cuitan tersebut berkaitan dengan ChatGPT.
Fenomena ini menunjukkan salah satu karakter unik media sosial: makna sebuah konten tidak selalu ditentukan oleh maksud awal pembuatnya. Ketika sebuah unggahan lama ditemukan kembali, algoritma dan budaya internet pada masa kini dapat memberikan konteks baru yang sama sekali berbeda.
Pada 2012, “GPT” mungkin hanya singkatan percakapan. Pada 2026, GPT sudah menjadi istilah teknologi yang sangat dikenal berkat perkembangan large language model dan generative AI. Ketika keduanya bertemu dalam satu kalimat, lahirlah kebetulan internet yang nyaris terlalu sempurna.
Jadi, apakah orang Indonesia tersebut benar-benar seorang time traveller?
Kemungkinan besar tidak. Ia hanya sedang meminta seseorang berhenti mengirim chat yang ga penting.
Ironisnya, justru karena perkembangan teknologi AI selama lebih dari satu dekade, sebuah pesan yang awalnya sangat biasa kini terlihat seperti ramalan masa depan. Dan mungkin inilah salah satu contoh paling lucu tentang bagaimana teknologi tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga dapat mengubah cara kita memahami arsip komunikasi masa lalu.

