Kabar

DOOH Rancang Akuisisi INET Rp2 Triliun, Siapkan Rights Issue Jumbo

Konsep infrastruktur data digital dan kabel serat optik bercahaya

Depok, Stapo.id – PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) menyiapkan perubahan besar terhadap arah bisnisnya. Emiten yang sebelumnya dikenal melalui bisnis periklanan digital tersebut berencana membangun ekosistem infrastruktur artificial intelligence (AI), dengan salah satu langkah utamanya berupa pengambilalihan 29,88 persen saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET).

Akuisisi akan dilakukan melalui anak usaha DOOH, PT Cakrawala Nexus Investama (CNI), dengan membeli 6,685 miliar saham INET dari PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN). Harga yang disepakati dalam rencana transaksi mencapai Rp300 per saham, sehingga nilai keseluruhan transaksi sekitar Rp2,005 triliun. Jumlah tersebut setara dengan 647,90 persen dari ekuitas konsolidasian DOOH per 30 Juni 2026 dan membuat transaksi tersebut masuk kategori material yang memerlukan persetujuan pemegang saham.

Rencana tersebut akan dibawa ke Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 9 November 2026. Dengan demikian, akuisisi INET belum merupakan transaksi yang telah selesai dan masih menunggu persetujuan pemegang saham serta pemenuhan persyaratan terkait.

DOOH Incar Lima Pilar Infrastruktur AI

Manajemen DOOH menyebut pengambilalihan INET merupakan bagian dari transformasi dari perusahaan periklanan digital menuju penyedia infrastruktur ekosistem AI terpadu. Jaringan dan kapabilitas INET nantinya ditargetkan terintegrasi dengan lima pilar bisnis, yakni AI Data Center, high-speed connectivity, inland fiber optic backbone, submarine fiber optic backbone, serta green energy melalui pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS.

Untuk membiayai transaksi tersebut, DOOH memperoleh fasilitas shareholder loan dari pemegang saham pengendali, PT Sinergi Internasional Investama (SII), dengan plafon maksimal Rp5 triliun. Pinjaman tersebut memiliki tenor 10 tahun dan bunga 7,5 persen per tahun. Pada tahap awal, pencairan Rp2 triliun disiapkan untuk membiayai pengambilalihan saham INET.

Selain pinjaman, DOOH juga berencana mengubah penggunaan sisa dana hasil penawaran umum perdana saham atau IPO sebesar Rp120 miliar. Dana tersebut akan dialihkan menjadi setoran modal kepada CNI untuk mendukung pendanaan akuisisi INET.

Di sisi lain, DOOH menyiapkan PMHMETD I atau rights issue sebanyak-banyaknya 154.777.820.720 saham baru dengan nilai nominal Rp10 per saham. Jumlah maksimum tersebut setara dengan hingga 95,24 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah pelaksanaan rights issue. Artinya, pemegang saham lama yang tidak menggunakan haknya berpotensi mengalami penurunan persentase kepemilikan secara sangat signifikan.

Namun, angka 95,24 persen tersebut merupakan potensi dilusi maksimum, bukan berarti pemegang saham otomatis kehilangan 95,24 persen nilai investasinya. Besarnya dilusi aktual akan bergantung pada jumlah saham baru yang benar-benar diterbitkan serta keputusan pemegang saham dalam menggunakan HMETD. Harga pelaksanaan dan rasio rights issue maupun Waran Seri II juga belum diumumkan.

Empat Aksi Korporasi Disiapkan Bersamaan

Transformasi DOOH tidak hanya bergantung pada akuisisi INET. Perseroan juga menyiapkan restrukturisasi perusahaan, termasuk rencana perubahan nama, alamat kedudukan, maksud dan tujuan serta kegiatan usaha sesuai KBLI 2025, perubahan susunan direksi dan komisaris, serta peningkatan modal dasar. Operasional bisnis periklanan juga direncanakan dialihkan ke PT Media Sejahtera Selaras, sehingga DOOH dapat lebih berfungsi sebagai perusahaan induk.

Dari sisi target akuisisi, INET sendiri membukukan pertumbuhan yang sangat tinggi pada semester I 2026. Berdasarkan laporan keuangannya, pendapatan neto mencapai Rp926,45 miliar, meningkat sekitar 1.958,68 persen dibandingkan Rp45 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp33,67 miliar, naik sekitar 340 persen secara tahunan.

Sementara itu, DOOH mencatat pendapatan Rp84,27 miliar pada semester I 2026, dengan laba bersih periode berjalan Rp63,28 miliar. Namun, kinerja tersebut juga menunjukkan bahwa laba DOOH sangat dipengaruhi pendapatan lain-lain, sementara perseroan masih mencatat rugi operasi sekitar Rp12,65 miliar pada periode yang sama.

Di luar rencana akuisisi dan rights issue, DOOH juga telah berganti pengendali. PT Sinergi Internasional Investama menyelesaikan pembelian 51 persen saham DOOH pada 30 Juli 2026 dengan mengambil 3,946 miliar saham dari PT Prambanan Investasi Sukses. Transaksi tersebut dilakukan pada harga Rp50 per saham.

Perubahan pengendali tersebut kemudian memicu kewajiban penawaran tender wajib atau mandatory tender offer (MTO). SII menawarkan pembelian maksimal 2.624.548.624 saham atau sekitar 33,91 persen saham DOOH dengan harga Rp148 per saham. Periode MTO dijadwalkan berlangsung pada 5 Oktober hingga 3 November 2026, sedangkan pembayaran dijadwalkan pada 9 November 2026. Nilai maksimal penawaran mencapai sekitar Rp388,43 miliar.

Harga tender Rp148 tersebut tidak boleh disamakan dengan harga pasar atau harga akuisisi INET. MTO merupakan kewajiban yang muncul setelah perubahan pengendali DOOH, sedangkan Rp300 per saham merupakan harga dalam rencana akuisisi saham INET. Pada penutupan perdagangan 2 Oktober 2026, DOOH berada di sekitar Rp366 per saham dan INET di sekitar Rp262 per saham, sehingga pergerakan harga pasar keduanya tetap memiliki dinamika tersendiri.

Bagi investor, rangkaian aksi tersebut menunjukkan bahwa DOOH sedang melakukan transformasi dengan skala yang jauh lebih besar daripada bisnis sebelumnya. Namun, akuisisi INET, rights issue, penggunaan shareholder loan, restrukturisasi usaha dan MTO seluruhnya memiliki tahapan serta risiko masing-masing. Keputusan RUPSLB pada 9 November 2026, harga pelaksanaan rights issue, tingkat partisipasi pemegang saham, serta kemampuan manajemen mengintegrasikan INET akan menjadi faktor penting yang perlu dipantau sebelum menilai hasil akhir transformasi DOOH.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.