Rumor Haji Isam Akuisisi BCA Beredar, Ini Faktanya

Depok, Stapo.id – Rumor mengenai pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam yang disebut akan mengakuisisi saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ramai beredar di media sosial. Namun, PT Bank Central Asia Tbk secara resmi membantah adanya rencana aksi korporasi tersebut.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyatakan informasi mengenai rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA yang beredar di media sosial tidak benar. Perseroan juga mengimbau masyarakat memperoleh informasi mengenai BCA melalui sumber resmi perusahaan maupun media yang kredibel.
Dengan demikian, hingga informasi terbaru per 29 September 2026, tidak terdapat konfirmasi resmi bahwa Haji Isam akan mengambil alih atau mengakuisisi BCA. Narasi mengenai akuisisi tersebut masih merupakan rumor yang beredar di media sosial dan telah dibantah oleh manajemen BCA.
Rumor Muncul Setelah Transaksi Besar BYAN
Spekulasi tersebut muncul tidak lama setelah Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama melakukan langkah besar di sektor pertambangan. Berdasarkan keterbukaan informasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, PT Jhonlin Baratama menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat dengan Low Tuck Kwong dan Elaine Low terkait pengalihan 10.000.000.500 saham atau sekitar 30 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
Transaksi BYAN tersebut kemudian menjadi dasar munculnya berbagai spekulasi mengenai kemungkinan ekspansi Haji Isam ke perusahaan besar lain. Salah satu rumor yang berkembang di media sosial mengaitkan aksi korporasi tersebut dengan BCA.
Namun, transaksi BYAN dan rumor mengenai BCA merupakan dua hal berbeda. Transaksi BYAN memiliki dokumen keterbukaan informasi di pasar modal, sedangkan kabar mengenai rencana akuisisi BCA tidak mendapatkan konfirmasi dari perseroan.
BCA Masih Dikendalikan Melalui PT Dwimuria
Dalam struktur kepemilikan BCA, PT Dwimuria Investama Andalan masih menjadi pemegang saham terbesar dengan 67,73 miliar saham atau sekitar 54,94 persen. Saham masyarakat tercatat sekitar 44,64 persen.
BCA juga sebelumnya menyampaikan perubahan pada pengendali terakhir PT Dwimuria Investama Andalan setelah meninggalnya Bambang Hartono. Robert Budi Hartono menjadi pengendali terakhir BCA dengan kepemilikan 51 persen di PT Dwimuria Investama Andalan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa untuk benar-benar terjadi perubahan pengendalian BCA, diperlukan transaksi dan proses korporasi serta regulasi yang jelas. Sampai saat ini, informasi tersebut belum diumumkan oleh BCA.
Saham BBCA Tetap Diperdagangkan
Rumor tersebut juga menjadi perhatian investor karena BBCA merupakan salah satu saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia.
Pada perdagangan Jumat (25/9), saham BBCA ditutup di level Rp6.250 per saham, naik 0,40 persen dari perdagangan sebelumnya. Namun secara year to date, saham BBCA masih tercatat mengalami penurunan sekitar 22,60 persen.
BCA menegaskan bahwa operasional perseroan tetap berjalan berdasarkan prinsip kehati-hatian, integritas, dan ketentuan regulasi yang berlaku.
Dengan adanya bantahan resmi tersebut, informasi mengenai Haji Isam yang disebut akan mengakuisisi BCA belum dapat dianggap sebagai aksi korporasi. Investor dan masyarakat disarankan membedakan antara rumor di media sosial dengan informasi yang telah disampaikan melalui keterbukaan informasi perusahaan dan regulator.
