Kabar

FrieslandCampina Ambil Kendali ULTJ, Frisian Flag Masuk Grup Ultrajaya

Ilustrasi konseptual botol susu dan dokumen keuangan di atas meja kayu

Depok, Stapo.id – Peta industri susu Indonesia akan mengalami perubahan setelah Royal FrieslandCampina N.V. berencana menjadi pengendali baru PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ). Transaksi tersebut sekaligus membuat PT Frisian Flag Indonesia (FFI) masuk sebagai anak usaha ULTJ melalui skema akuisisi berbasis penyertaan saham atau inbreng.

Rencana tersebut diumumkan pada 18 September 2026. ULTJ akan melakukan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue hingga 7,88 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp2.150 per saham. Jika seluruh saham baru diterbitkan, nilai rights issue mencapai sekitar Rp16,93 triliun.

Sekitar 86,01 persen dari dana aksi korporasi tersebut atau sekitar Rp14,57 triliun akan digunakan untuk mengambil alih 100 persen saham FFI. Sisanya berasal dari partisipasi tunai dalam rights issue dan direncanakan digunakan sebagai modal kerja perseroan. Nilai transaksi FFI setara sekitar 178,24 persen dari ekuitas ULTJ per 31 Juli 2026 yang mencapai Rp8,17 triliun, sehingga transaksi dikategorikan sebagai transaksi material.

Dari Frisian Flag ke Grup Ultrajaya

FFI merupakan perusahaan susu yang telah beroperasi di Indonesia selama lebih dari satu abad. Sejarahnya bermula dari masuknya produk Friesche Vlag dari Belanda pada 1922. Saat ini FFI menjadi bagian dari FrieslandCampina dan mengoperasikan fasilitas produksi di Pasar Rebo serta Cikarang, dengan portofolio susu cair, susu bubuk, susu kental manis dan produk susu lainnya.

FrieslandCampina sendiri merupakan koperasi susu asal Belanda yang beroperasi secara global. Perusahaan mencatat pendapatan €13,4 miliar pada 2025, memiliki cabang di 30 negara dan mengekspor produknya ke lebih dari 100 negara. Di Indonesia, FFI menjadi salah satu kendaraan utama bisnis FrieslandCampina di pasar susu konsumen.

Sementara ULTJ merupakan perusahaan Indonesia yang dikenal melalui merek Ultra Milk dan memiliki bisnis minuman serta makanan. Kinerja terbaru ULTJ juga menunjukkan pertumbuhan. Pada semester I 2026, penjualan bersih mencapai Rp5,49 triliun, naik 34,6 persen secara tahunan, sedangkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai sekitar Rp1,05 triliun atau meningkat 73,7 persen dibandingkan semester I 2025.

Kombinasi tersebut membuat transaksi bukan sekadar pergantian pemegang saham. FFI akan menjadi anak usaha ULTJ, sementara FrieslandCampina memperoleh posisi pengendali pada perusahaan publik yang telah memiliki jaringan dan basis bisnis di Indonesia.

Struktur Rights Issue dan Perubahan Pengendali

Dalam transaksi ini, pemegang saham FFI, yaitu FrieslandCampina International Holding B.V. (FCIH), Blue Waves Group Ventures Pte. Ltd. dan PT Bahtera Wiraniaga Internusa, akan menyetorkan seluruh saham FFI sebagai modal non-tunai atau inbreng untuk mengambil bagian dalam rights issue ULTJ. Dengan mekanisme tersebut, ULTJ akan memiliki 100 persen saham FFI.

FCIH diproyeksikan memiliki sekitar 28,95 persen saham ULTJ jika seluruh pemegang saham publik ikut mengambil haknya. Jika pemegang saham publik tidak berpartisipasi, kepemilikan FCIH dapat mencapai sekitar 30,81 persen. Setelah transaksi selesai, FCIH akan menjadi pengendali baru dan wajib melakukan penawaran tender wajib terhadap saham publik sesuai ketentuan pasar modal.

Keluarga Prawirawidjaja tidak sepenuhnya keluar dari ULTJ. FrieslandCampina menyatakan keluarga pendiri tersebut akan tetap menjadi pemegang saham signifikan, sementara Sabana Prawirawidjaja tetap menjabat sebagai Direktur Utama. ULTJ juga akan mempertahankan statusnya sebagai perusahaan terbuka di Indonesia.

Bagi investor publik, rights issue membawa konsekuensi berupa potensi dilusi. Pemegang saham yang tidak menggunakan haknya dapat mengalami dilusi kepemilikan hingga sekitar 43,11 persen berdasarkan skenario transaksi yang disampaikan dalam keterbukaan informasi.

Apa yang Berubah bagi Bisnis Susu?

Dari sisi bisnis, transaksi ini mempertemukan dua perusahaan dengan portofolio yang relatif beragam. ULTJ memiliki kekuatan pada produk susu UHT dan minuman siap konsumsi, sementara FFI membawa portofolio susu cair, susu bubuk, susu kental manis dan produk nutrisi.

Manajemen ULTJ menyebut pengambilalihan FFI diharapkan memperluas portofolio produk olahan susu dan minuman siap konsumsi serta menyatukan kapabilitas operasional dan rantai pasok. Dengan masuknya FFI, ULTJ juga memperoleh perusahaan dengan sejarah panjang dan jaringan produksi yang telah berkembang di pasar Indonesia.

Rencana transaksi masih membutuhkan persetujuan pemegang saham ULTJ dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 27 Oktober 2026, serta persetujuan regulator terkait. Agenda tersebut juga mencakup perubahan susunan direksi dan komisaris serta rencana pembagian dividen tunai final.

Reaksi pasar terlihat pada perdagangan Jumat, 18 September 2026. Saham ULTJ ditutup di Rp2.060 per saham, naik Rp160 atau 8,42 persen dari penutupan sebelumnya. Volume perdagangan mencapai sekitar 123,38 juta saham.

Kenaikan tersebut mencerminkan respons pasar terhadap pengumuman aksi korporasi, tetapi belum dapat menjadi ukuran keberhasilan transaksi karena proses akuisisi masih menunggu persetujuan pemegang saham dan regulator.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.