Kabar

Sektor ICT Menjadi Kunci Ekonomi NTT dan NTB Tahun 2026

Ilustrasi Sektor ICT untuk Stapo.id

Depok, Stapo.id – Sektor ICT (Information and Communication Technology) memegang peranan krusial bagi pertumbuhan ekonomi di wilayah timur Indonesia. Senior Economist Paramadina University, Wijayanto Samirin, menyoroti potensi besar ini dalam dialog ekonomi di Jakarta. Beliau melihat teknologi digital mampu mengatasi hambatan geografis yang selama ini menghambat kemajuan daerah terpencil.

Menurut Wijayanto dalam Dialog Sesi 1: Synergy for Growth TREND 2026 Tutur Economic Dialogue (7/4), kontribusi perdagangan barang Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (GDP) masih tergolong sangat rendah. Saat ini, angka tersebut hanya berada pada level 9,3 persen saja. Perolehan ini tertinggal jauh jika kita membandingkannya dengan Amerika Serikat, Uni Eropa, maupun negara tetangga di ASEAN.

“Kita baru berhadapan dengan perdagangan barang dan kita hanya mampu memberikan 9,3 persen GDP itu menjadi komponen. Karena dibandingkan dengan yang lain, US itu sudah 24 persen, dengan EU itu sudah 27 persen, dengan ASEAN itu sudah 27,9 persen,” jelas Wijayanto Samirin.

Ia menegaskan bahwa ketimpangan ini menuntut adanya inovasi sektor lain di wilayah seperti NTT dan NTB. “Di sini kita bisa melihat masih ada kesempatan di NTT, NTB. Di NTB dan NTT memang ada tantangan di sana tetapi sektor ICT bisa masuk ke sana gitu,” tambahnya saat memaparkan analisisnya.

Mengapa Sektor ICT Efektif bagi Daerah?

Wijayanto berpendapat bahwa teknologi informasi tidak terhalang oleh kendala fisik seperti infrastruktur jalan atau pelabuhan. Beliau percaya bahwa digitalisasi ekonomi dapat membuka pintu bagi pasar-pasar baru di masa depan secara lebih efisien. Hal ini menjadi angin segar bagi wilayah dengan tantangan logistik tinggi.

“Karena sektor ICT ini tidak terbatas oleh geografi dan tantangan transportasi dan logistik,” ungkapnya dengan penuh keyakinan. Wijayanto juga menekankan pentingnya pengembangan ekosistem jasa pendukung agar teknologi ini memberikan dampak nyata bagi masyarakat lokal.

Pembangunan ekosistem digital juga membutuhkan dukungan infrastruktur jasa lainnya agar berfungsi secara maksimal bagi pelaku usaha. “Tapi di dalam perdagangan jasa itu kalau kita mau belanja untuk transaksi ICT, kita butuh transportasi, kita butuh angkutan, kita butuh beberapa fasilitas-fasilitas pendukung lainnya di luar ICT,” lanjutnya.

Tantangan Ekonomi Global dan Nilai Tukar

Selain membahas potensi daerah, Wijayanto juga menyinggung kondisi makroekonomi nasional yang sedang menghadapi tekanan cukup berat. Nilai tukar mata uang dalam negeri sedang mengalami tren penurunan terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini memberikan pengaruh besar terhadap kestabilan keuangan negara secara menyeluruh.

“Dan ICT juga merupakan kita tidak bisa mengabaikan surat utang pemerintah yang terdiri atas surat utang negara. Nah, intinya adalah rupiah melemah,” tutur ekonom senior tersebut. Tekanan pada rupiah ini tentu menjadi perhatian serius bagi para pengambil kebijakan di sektor fiskal maupun moneter.

Ia menutup pemaparannya dengan rencana diskusi lebih lanjut mengenai situasi ekonomi terkini bersama lembaga terkait. Situasi ekonomi global yang dinamis menuntut kewaspadaan tinggi dari seluruh pemangku kepentingan. Harapannya, inovasi teknologi dapat menjadi bantalan kuat dalam menghadapi ketidakpastian pasar internasional ke depan.