Kabar

Investasi RI Tembus Rp1.539 Triliun hingga September 2026, Hilirisasi Jadi Penggerak

Konsep simbolik hilirisasi industri dan realisasi investasi berupa sampel mineral mentah dan balok logam murni

Realisasi investasi Indonesia mencapai 75,4 persen dari target tahunan. Penanaman modal asing masih unggul tipis, sementara investasi hilirisasi tumbuh lebih cepat dibandingkan total investasi nasional.

Depok, Stapo.id – Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi Indonesia mencapai Rp528,7 triliun pada kuartal III 2026. Nilai tersebut tumbuh 7,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan meningkat 3,3 persen dibandingkan kuartal II 2026.

Dengan capaian tersebut, total realisasi investasi sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun atau tumbuh 7,3 persen secara tahunan. Angka ini setara dengan 75,4 persen dari target investasi nasional 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun. Artinya, pemerintah masih perlu merealisasikan sekitar Rp502,1 triliun pada kuartal IV untuk mencapai target tahunan.

Modal Asing Berkontribusi 51,1 Persen

Berdasarkan asal modal, penanaman modal asing (PMA) menyumbang Rp270,2 triliun atau 51,1 persen dari total investasi kuartal III. Sementara itu, penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp258,5 triliun atau 48,9 persen. Komposisi tersebut menunjukkan kontribusi investor asing masih sedikit lebih besar dibandingkan investor domestik.

Secara kumulatif selama sembilan bulan, PMA mencapai Rp777,8 triliun atau 50,5 persen dari total investasi. Adapun PMDN berkontribusi Rp761,4 triliun atau 49,5 persen.

Dari sisi penyerapan tenaga kerja, investasi pada kuartal III menyerap 745.634 tenaga kerja Indonesia. Sepanjang Januari hingga September, jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 2.194.496 orang.

Investasi di Luar Jawa Masih Mendominasi

Penyebaran investasi juga memperlihatkan peran wilayah di luar Pulau Jawa. Pada kuartal III 2026, realisasi investasi di luar Jawa mencapai Rp271,6 triliun atau 51,4 persen dari total nasional. Investasi di Jawa tercatat Rp257,1 triliun atau 48,6 persen.

Secara tahunan, investasi di Jawa tumbuh 13,9 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan investasi di luar Jawa sebesar 2,2 persen. Sementara itu, sepanjang sembilan bulan pertama, investasi di luar Jawa mencapai Rp779,4 triliun, sedikit lebih besar daripada investasi di Jawa sebesar Rp759,8 triliun.

Hilirisasi Tumbuh 11,3 Persen

Hilirisasi menjadi salah satu penggerak penting investasi nasional. Sepanjang Januari hingga September 2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp480 triliun, tumbuh 11,3 persen secara tahunan dan menyumbang 31,2 persen terhadap total investasi.

Sektor mineral mendominasi investasi hilirisasi dengan nilai Rp335,1 triliun. Komoditas nikel menyumbang Rp118,9 triliun, disusul bauksit Rp115,7 triliun. Investasi hilirisasi juga berasal dari sektor perkebunan dan kehutanan, minyak dan gas bumi, serta perikanan dan kelautan.

Capaian tersebut menunjukkan investasi Indonesia masih bertumbuh, dengan hilirisasi dan pemerataan wilayah sebagai bagian penting dari komposisinya. Namun, realisasi hingga September belum mencapai target tahunan, sehingga tambahan investasi pada kuartal IV akan menentukan pencapaian sasaran pemerintah sepanjang 2026.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.