Investor Pasar Modal RI Tembus 31,14 Juta, SBN Jadi Penyangga di Tengah Risiko Global

Depok, Stapo.id – Pasar modal Indonesia menunjukkan penguatan sepanjang Agustus 2026 di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Jumlah investor pasar modal domestik terus bertambah hingga mencapai 31,14 juta investor, sementara Surat Berharga Negara atau SBN kembali menarik minat investor asing dengan pembelian bersih mencapai Rp15,35 triliun.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan jumlah investor pasar modal bertambah 1,07 juta sepanjang Agustus 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Secara year to date, jumlah investor tumbuh 52,90 persen menjadi 31,14 juta investor. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya partisipasi masyarakat dalam instrumen pasar modal.
Pada periode yang sama, kinerja pasar saham juga membaik. IHSG ditutup pada level 6.525,48 pada akhir Agustus, naik 4,64 persen secara bulanan. Rata-rata nilai transaksi harian meningkat dari Rp14,31 triliun pada Juli menjadi Rp15,86 triliun pada Agustus.
Namun, OJK mencatat IHSG masih terkoreksi 24,53 persen secara year to date. Artinya, penguatan Agustus belum sepenuhnya menghapus tekanan yang terjadi sepanjang tahun.
Investor Asing Borong SBN Rp15,35 Triliun
Perhatian juga tertuju pada pasar obligasi. OJK mencatat investor asing membukukan net buy SBN sebesar Rp15,35 triliun sepanjang Agustus, meningkat signifikan dibandingkan net buy Rp6,79 triliun pada Juli.
Pada akhir Agustus, Indonesia Composite Bond Index atau ICBI berada di level 440,04, naik 2,23 persen secara bulanan. Di sisi lain, rata-rata yield SBN meningkat 26,48 basis poin secara bulanan. OJK menilai perkembangan tersebut berlangsung di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Menariknya, ketahanan pasar SBN tidak hanya berasal dari investor asing. Struktur kepemilikan obligasi pemerintah Indonesia masih sangat ditopang investor domestik.
Data KB Valbury Sekuritas per 7 September 2026 yang dikutip Bisnis.com menunjukkan Bank Indonesia memiliki SBN sekitar Rp1.910,40 triliun atau 27 persen dari total kepemilikan. Perusahaan asuransi dan dana pensiun memiliki sekitar Rp1.441,94 triliun atau 20 persen, sedangkan perbankan menguasai Rp1.169,35 triliun atau 17 persen.
Sementara itu, investor nonresiden memiliki sekitar Rp915,66 triliun atau 13 persen. Investor individu menguasai Rp590,08 triliun atau 8 persen dan reksa dana sekitar Rp251,01 triliun atau 4 persen.
Investor Domestik Jadi Bantalan Saat Risiko Global Naik
Besarnya porsi investor domestik menjadi penting memasuki pekan ketiga September. Sejumlah bank sentral negara maju dijadwalkan menggelar rapat kebijakan moneter, termasuk The Federal Reserve pada 16 September, Bank of England pada 17 September, dan Bank of Japan pada 18 September 2026.
Perubahan arah kebijakan suku bunga global dapat memengaruhi yield obligasi dan mendorong investor melakukan penyesuaian portofolio. Kenaikan yield obligasi negara maju juga dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar Amerika Serikat dan memberikan tekanan terhadap obligasi negara berkembang.
Meski demikian, struktur pasar SBN Indonesia memberikan bantalan karena kepemilikan domestik cukup besar. Hingga 7 September, kepemilikan perbankan bahkan meningkat Rp59,13 triliun secara mingguan, sementara kepemilikan perusahaan asuransi dan dana pensiun bertambah Rp1,91 triliun.
Di sisi lain, arus asing ke SBN juga masih positif. KB Valbury mencatat investor nonresiden membukukan net buy Rp8,36 triliun pada periode 3-9 September 2026. Kondisi tersebut menunjukkan pasar obligasi Indonesia masih relatif terkendali meskipun investor global menghadapi risiko dari perubahan kebijakan moneter negara maju.
Bagi investor, kondisi tersebut menunjukkan bahwa SBN Indonesia masih memiliki daya tarik di tengah volatilitas global. Namun, perubahan yield global, arah suku bunga bank sentral, kondisi geopolitik dan pergerakan rupiah tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Dengan jumlah investor pasar modal yang telah mencapai 31,14 juta dan basis kepemilikan SBN domestik yang besar, pasar keuangan Indonesia memasuki periode yang penting. Pertumbuhan investor menunjukkan semakin luasnya partisipasi masyarakat, sementara dominasi investor domestik di pasar obligasi menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga ketahanan pasar ketika sentimen global berubah.
