Ekonom Prediksi BI Tahan Suku Bunga 5,75%, Rupiah Jadi Perhatian

Bank Indonesia diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat 21 Oktober 2026. Namun, tekanan rupiah dan gejolak pasar saham setelah peringatan MSCI membuka peluang pengetatan kebijakan sebelum akhir tahun.
Depok, Stapo.id – Konsensus ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu, 21 Oktober 2026. Meski demikian, pelemahan rupiah dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan membuat keputusan bank sentral kali ini menjadi perhatian pelaku ekonomi dan investor.
Survei Reuters yang dilakukan pada 13-19 Oktober menunjukkan 15 dari 29 ekonom memperkirakan BI mempertahankan suku bunga di 5,75 persen. Mereka juga memproyeksikan suku bunga Deposit Facility tetap 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen.
Rupiah Tertekan setelah Pengumuman MSCI
Tekanan terhadap nilai tukar menjadi salah satu pertimbangan utama menjelang RDG. Reuters melaporkan rupiah melemah hampir 1 persen setelah MSCI pada Jumat, 16 Oktober, mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Pengumuman tersebut memicu gejolak di pasar saham domestik. IHSG terkoreksi 11,6 persen pada Jumat, menjadi penurunan harian terburuk sejak Januari 1998. Sejumlah ekonom kemudian mengubah proyeksi kebijakannya. Citibank, misalnya, yang sebelumnya memperkirakan BI akan menahan suku bunga, beralih memproyeksikan kenaikan 50 basis poin secara pre-emptive.
Meski demikian, kenaikan suku bunga bukan satu-satunya pilihan BI untuk menjaga rupiah. Reuters mencatat bank sentral juga dapat memanfaatkan intervensi valuta asing, instrumen lindung nilai, serta upaya mendorong transaksi menggunakan mata uang lokal dengan negara mitra.
Inflasi Masih dalam Sasaran
Di sisi lain, perkembangan inflasi memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan pada September 2026 sebesar 3,28 persen, sedangkan inflasi inti mencapai 2,84 persen. Inflasi umum masih berada dalam rentang sasaran BI sebesar 1,5-3,5 persen untuk periode tersebut.
Dalam keputusan RDG September, BI mempertahankan suku bunga 5,75 persen untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal, sekaligus mempertahankan inflasi dalam sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen pada 2026 dan 2027.
Peluang Kenaikan hingga Akhir Tahun
Untuk akhir 2026, survei Reuters menunjukkan 15 dari 22 ekonom memperkirakan suku bunga acuan naik menjadi 6 persen atau lebih. Proyeksi ini mencerminkan kekhawatiran terhadap tekanan nilai tukar, kenaikan harga minyak, serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang berpotensi tetap ketat.
Bagi dunia usaha, suku bunga memengaruhi biaya pinjaman dan keputusan investasi. Jika BI mempertahankan suku bunga, biaya pembiayaan belum tentu langsung turun karena suku bunga kredit juga dipengaruhi likuiditas, risiko debitur, dan kebijakan masing-masing bank. Sebaliknya, kenaikan suku bunga dapat memperkuat daya tarik aset rupiah, tetapi berpotensi menambah beban pembiayaan.
Keputusan BI pada 21 Oktober akan memperlihatkan bagaimana bank sentral menyeimbangkan stabilitas rupiah, pengendalian inflasi, dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.
