Apa Itu Teknologi Dry Ice untuk Urai Asap Karhutla? Begini Penjelasannya

Depok, Stapo.id – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan kini memanfaatkan teknologi modifikasi cuaca menggunakan dry ice atau es kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama TNI, BNPB, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertahanan, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menerapkan metode ini untuk membantu mengurai kabut asap yang terperangkap di dekat permukaan bumi.
Berbeda dari operasi modifikasi cuaca yang umumnya menyemai awan untuk memicu hujan, penggunaan dry ice kali ini menargetkan lapisan inversi atmosfer. Lapisan tersebut dapat menghambat pergerakan udara ke atas sehingga asap dan polutan menumpuk di dekat permukaan.
Apa Itu Dry Ice dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Dry ice adalah karbon dioksida (COâ‚‚) dalam bentuk padat yang memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius pada tekanan atmosfer normal. Berbeda dengan es dari air, dry ice tidak mencair menjadi cairan, melainkan langsung berubah dari padat menjadi gas. Proses ini disebut sublimasi.
Dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), dry ice disebarkan dari pesawat pada ketinggian yang ditentukan berdasarkan analisis kondisi atmosfer. Suhu yang sangat rendah dari bahan tersebut diharapkan menimbulkan pendinginan lokal dan mengubah kondisi termal di sekitar lapisan inversi.
Menurut penjelasan BRIN, pendinginan lokal ini secara konseptual dapat memengaruhi kestabilan udara dan mendorong pencampuran udara secara vertikal. Jika kondisi atmosfer mendukung, lapisan inversi berpotensi melemah sehingga asap yang sebelumnya tertahan dapat bergerak naik dan menyebar ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
Mekanisme tersebut berbeda dari penyemaian awan menggunakan garam atau natrium klorida (NaCl), yang bertujuan mendukung pertumbuhan butir air dalam awan agar peluang terjadinya hujan meningkat. Dalam metode dry ice, sasaran utamanya adalah kondisi atmosfer yang memerangkap asap.
Efektivitasnya Masih Perlu Dievaluasi
BMKG menggunakan peningkatan jarak pandang dan penurunan konsentrasi partikel halus PM2.5 sebagai indikator untuk mengevaluasi hasil operasi. Pemantauan di Palembang setelah pelaksanaan penyemaian pada 15 Oktober 2026 menunjukkan indikasi perbaikan jarak pandang dan penurunan konsentrasi PM2.5.
Namun, perubahan tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa dry ice menjadi satu-satunya penyebab. Dinamika angin, suhu, kelembapan, dan kondisi atmosfer lainnya juga dapat memengaruhi penyebaran asap. BRIN menekankan pentingnya pengamatan sebelum dan sesudah penyemaian untuk menguji efektivitas metode ini secara ilmiah.
Teknologi dry ice juga tidak memadamkan sumber api secara langsung. Karena itu, penggunaannya harus berjalan bersama pemadaman di darat, operasi udara, patroli, dan pencegahan kebakaran. Penanganan karhutla tetap membutuhkan upaya terpadu agar sumber asap dapat dikendalikan dan dampaknya terhadap kesehatan serta transportasi berkurang.
