The Fed Tahan Suku Bunga di 3,75%-4%, Pasar Mulai Antisipasi Kenaikan pada Desember

Depok, Stapo.id – Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%-4% dalam pertemuan Rabu (28/10/2026) waktu setempat. Keputusan tersebut sesuai ekspektasi pasar, tetapi sinyal inflasi yang masih tinggi dan perbedaan pandangan di internal bank sentral membuat peluang kenaikan suku bunga pada Desember kembali menjadi perhatian investor.
Dalam pernyataan resminya, Federal Open Market Committee (FOMC) menyebut aktivitas ekonomi AS berkembang dengan kuat, belanja domestik tetap tangguh, dan pertumbuhan produktivitas serta investasi modal masih solid. Namun, inflasi dinilai belum kembali terkendali. The Fed menyatakan masih membutuhkan tambahan data untuk menentukan kebijakan yang tepat demi mengembalikan inflasi ke target 2%.
Keputusan tersebut diambil melalui pemungutan suara 10 banding 2. Dua pejabat, Lisa D. Cook dan Beth M. Hammack, memilih menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4%-4,25%. Perbedaan pandangan ini memperlihatkan bahwa risiko pengetatan kebijakan moneter belum sepenuhnya mereda.
Pasar Perhitungkan Peluang Kenaikan Suku Bunga
Setelah keputusan tersebut dan konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember menguat. CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan 25 basis poin sempat mencapai sekitar 85,7%, dibandingkan 78,3% sehari sebelumnya. Angka ini merupakan probabilitas yang tersirat dari pasar kontrak berjangka, bukan keputusan resmi The Fed.
Wall Street Menguat, Yield Treasury Bertahan di Atas 5%
Pada penutupan perdagangan Rabu, indeks S&P 500 naik 0,28%, Nasdaq Composite menguat 0,27%, dan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,19%. Sementara itu, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berakhir di sekitar 5,05%, naik sekitar 6 basis poin dibandingkan hari sebelumnya. Kenaikan yield mencerminkan penyesuaian investor terhadap prospek suku bunga dan inflasi.
Di pasar valuta asing, indeks dolar AS atau DXY turun sekitar 0,16% ke level 102,16. Harga emas spot justru naik sekitar 0,27%, meskipun kontrak berjangka emas mencatat pergerakan berbeda. Perbedaan ini menunjukkan respons pasar tidak seragam terhadap keputusan The Fed.
Ke depan, investor akan mencermati data inflasi, tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi AS untuk memperkirakan arah kebijakan moneter berikutnya. Apabila tekanan inflasi bertahan, kemungkinan kenaikan suku bunga dapat memengaruhi biaya pendanaan global, pergerakan dolar AS, serta arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
