Harga Perak Ambruk ke Bawah US$50 per Ons, Emas Ikut Terseret ke Level Terendah Setahun

Depok, Stapo.id – Harga logam mulia dunia mengalami tekanan tajam menjelang akhir Oktober 2026. Harga perak spot merosot hingga di bawah US$50 per troy ons, sedangkan emas ikut jatuh ke level terendah dalam sekitar satu tahun. Pelemahan ini dipicu kombinasi kekhawatiran inflasi Amerika Serikat (AS), ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, dan aksi jual di pasar saham teknologi.
Reuters melaporkan pada Jumat (30/10/2026), harga perak spot sempat turun sekitar 6,5 persen ke kisaran US$49 per ons. Penurunan tersebut membawa perak ke level terendah sejak November 2025. Dalam perkembangan sebelumnya pada hari yang sama, perak tercatat turun 5,8 persen menjadi US$49,34 per ons.
Tekanan tersebut memperpanjang koreksi harga perak sepanjang Oktober. Pergerakan ini menjadi perhatian investor karena perak tidak hanya digunakan sebagai aset investasi, tetapi juga memiliki permintaan dari sektor industri, termasuk elektronik dan teknologi energi.
Inflasi AS dan Belanja AI Tekan Harga Perak
Salah satu faktor yang membebani logam mulia adalah meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve atau The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan kembali. Data ekonomi AS menunjukkan pertumbuhan yang kuat, sementara inflasi September meningkat seiring naiknya harga bensin dan sejumlah barang.
Kondisi tersebut membuat aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas dan perak, menjadi relatif kurang menarik dibandingkan instrumen berbunga. Kenaikan harga minyak juga memperbesar kekhawatiran inflasi karena biaya energi yang tinggi dapat memperlambat penurunan tekanan harga.
Selain itu, kekhawatiran mengenai besarnya belanja modal perusahaan teknologi untuk pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut memicu aksi jual saham. Tekanan di pasar saham dapat mendorong investor melepas aset lain untuk menutup kerugian atau memenuhi kebutuhan likuiditas.
Harga Emas Ikut Turun Tajam
Emas spot juga mengalami penurunan signifikan. Reuters melaporkan harga emas sempat merosot sekitar 3,5 persen ke US$3.880,97 per troy ons pada Jumat, level terendah sejak Oktober 2025. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga melemah.
Penurunan emas dan perak menunjukkan bahwa status logam mulia sebagai aset lindung nilai tidak selalu membuat harganya naik ketika ketidakpastian meningkat. Dalam kondisi tertentu, ekspektasi suku bunga, penguatan biaya energi, serta kebutuhan likuiditas investor dapat mendominasi permintaan aset aman.
Ke depan, arah harga kedua logam tersebut akan bergantung pada perkembangan inflasi AS, kebijakan The Fed, pergerakan dolar, serta kondisi pasar saham dan permintaan industri. Penurunan tajam juga tidak otomatis menjadi sinyal bahwa harga segera pulih, sehingga investor perlu memperhatikan volatilitas dan risiko perubahan harga.
