Saham AI Global Berguguran Usai Pemilu AS, Nasdaq dan Indeks Semikonduktor Tertekan

Ekspektasi pengetatan regulasi terhadap pusat data dan infrastruktur kecerdasan buatan memicu aksi jual saham teknologi. Tekanan turut menjalar ke pasar Asia dan komoditas industri, sementara bursa India justru mencatat reli.
Depok, Stapo.id – Pasar saham global mengalami tekanan tajam pada pekan pertama November 2026. Saham-saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi sasaran aksi jual investor setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela atau midterm Amerika Serikat (AS) meningkatkan kekhawatiran mengenai kemungkinan pengetatan regulasi industri tersebut.
Hasil pemilu memunculkan ekspektasi bahwa Kongres AS akan memperketat pengawasan terhadap pembangunan pusat data dan ekspansi infrastruktur AI. Isu yang menjadi perhatian antara lain konsumsi listrik dan air pusat data, serta dampaknya terhadap biaya energi dan masyarakat di sekitar fasilitas tersebut.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump dikenal mendukung ekspansi industri AI dan menentang pembatasan yang dinilai dapat menghambat daya saing AS terhadap China. Pada September 2026, Trump bahkan menyebut kekhawatiran mengenai risiko AI sebagai sebuah “hoax”, sebagaimana diberitakan Associated Press.
Nasdaq dan Saham Semikonduktor Terpukul
Tekanan pasar memuncak pada Kamis (5/11). Nasdaq-100 merosot sekitar 6,4%, menjadi penurunan harian terburuk sejak Maret 2020. Sementara itu, indeks semikonduktor Philadelphia Semiconductor Index (SOX) anjlok sekitar 12%, mencerminkan aksi jual besar-besaran pada saham produsen chip dan perusahaan terkait infrastruktur AI.
Menurut Reuters, kekhawatiran investor tidak hanya berkaitan dengan regulasi, tetapi juga kemungkinan tertundanya pembangunan pusat data yang dapat mengurangi permintaan chip dan perangkat pendukung AI.
Tekanan kemudian menjalar ke Asia. Indeks Kospi Korea Selatan sempat merosot 8,8% pada Jumat (6/11), sehingga memicu penghentian sementara perdagangan selama 20 menit. Kospi akhirnya ditutup turun 6,02%. Indeks Taiex Taiwan juga mengalami tekanan di tengah aksi jual saham teknologi.
Logam Industri Ikut Tertekan, India Justru Menguat
Kekhawatiran terhadap prospek ekspansi AI turut memengaruhi komoditas yang digunakan dalam pembangunan pusat data dan perangkat elektronik. Data London Metal Exchange (LME) menunjukkan harga tembaga kontrak tiga bulan berada di US$13.843,50 per ton pada 5 November.
Di tengah tekanan tersebut, pasar India justru bergerak berlawanan. Reuters melaporkan indeks Nifty 50 melonjak 8,6% sepanjang pekan, sedangkan Sensex naik 8,8%. Investor melihat India sebagai alternatif pasar dengan eksposur yang relatif lebih kecil terhadap investasi infrastruktur AI yang padat modal. Penurunan harga minyak dan masuknya kembali dana asing turut mendukung penguatan tersebut.
Pergerakan pasar pekan ini memperlihatkan bahwa prospek industri AI semakin dipengaruhi faktor politik, regulasi, dan kebutuhan infrastruktur. Namun, kekhawatiran investor belum tentu langsung berujung pada pembatasan investasi. Arah kebijakan pemerintah AS dan realisasi belanja perusahaan teknologi akan menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan saham sektor AI selanjutnya.
