Bisnis

Jembatani Riset dan Industri, Guru Besar Universitas Negeri Semarang (UNNES) Pamerkan 6 Inovasi Paten di FBPI 2026

Jembatani Riset dan Industri, Guru Besar Universitas Negeri Semarang (UNNES) Pamerkan 6 Inovasi Paten di FBPI 2026

Sumber Gambar: Lini produk inovasi bersertifikasi paten resmi karya Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang diproduksi oleh CV RITSS, termasuk kain Batik Rhizopus dan pangan fungsional, saat dipamerkan pada Forum Bisnis Paten Indonesia (FBPI) 2026 di JCC Senayan, Jakarta. (Foto: stapo.id)

Depok, Stapo.id – Ajang Forum Bisnis Paten Indonesia (FBPI) 2026 yang berlangsung pada 3-5 November 2026 di JICC Senayan, Jakarta, menjadi panggung bagi Prof. Dr. Siti Harnina Bintari M.S., Guru Besar Bioteknologi dari Universitas Negeri Semarang (UNNES), untuk memamerkan enam karya inovasi paten unggulannya. Kehadiran Prof. Nina di forum ini menegaskan komitmen akademisi dalam menjembatani riset laboratorium dengan kebutuhan nyata masyarakat melalui hilirisasi produk.

Salah satu sorotan utama dalam pameran tersebut adalah ‘Batik Rhizopus‘. Inovasi ini memadukan estetika seni tradisional dengan sains, di mana motif kain diinspirasi dari struktur mikroskopis Rhizopus oligosporus, jamur yang berperan vital dalam fermentasi tempe. Prof. Nina menjelaskan bahwa filosofi di balik motif ini adalah nilai ‘lembah manah’ atau kerendahan hati, mencerminkan kemampuan jamur tersebut untuk beradaptasi di substrat apa pun.

Inovasi Keripik Tempe Kelor

Selain karya seni, Prof. Nina juga membawa produk pangan fungsional inovatif, yakni Keripik Tempe Kelor. Produk yang diproduksi melalui CV Rumah Inovasi Tempe Sekarsari (RITSS) ini merupakan bentuk fortifikasi protein tempe dengan nutrisi daun kelor yang kaya antioksidan. “Kelor itu sehat dan bermanfaat. Inovasi ini adalah upaya kami menghadirkan camilan fungsional bagi masyarakat luas,” ujar Prof. Nina di sela-sela pameran.

Secara keseluruhan, enam paten yang dipamerkan meliputi: Pupuk Organik Cair (POC) berbasis limbah tahu, teknologi membran filter organik, sabun *scrub* sekam padi ‘Hayu Lumoe’, emulgel facial wash berbahan alami, Batik Rhizopus, dan keripik tempe kelor. Keberadaan CV RITSS di Jalan Gumuksari, Semarang, kini tidak hanya berfungsi sebagai unit produksi, tetapi juga sebagai laboratorium hidup bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat.

Antusiasme pengunjung, termasuk apresiasi yang sempat ditunjukkan oleh Menteri Supratman terhadap inovasi pangan ini, menjadi bukti bahwa riset berbasis kearifan lokal memiliki potensi ekonomi yang besar. Melalui FBPI 2026, Prof. Nina berharap hasil penelitian dari FMIPA Biologi UNNES ini dapat semakin dikenal luas, memberikan kontribusi nyata bagi ekonomi masyarakat, dan memotivasi kolaborasi lebih lanjut antara akademisi, pemerintah, dan industri.

Mengusung Keberlanjutan (SDGs)

Terlebih karya Prof Nina mengandung keberlanjutan (SDGs) mulai dari poin 5 (Kesetaraan Gender): Memberdayakan kelompok perempuan dalam proses produksi, poin 8 (Pekerjaan Layak & Pertumbuhan Ekonomi): Membuka lapangan kerja baru dan menggerakkan ekonomi lokal, poin 12 (Konsumsi & Produksi Berkesimpulan/Bertanggung Jawab): Memanfaatkan bahan alami dan daur ulang limbah tahu serta sekam padi secara ramah lingkungan dan poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan): Membangun kolaborasi nyata antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat.

Dengan begitu keberlanjutan dari Hilirisasi akan terus meningkat seiring permintaan dan tidak lupa seluruh karya Prof Nina sudah mendapatkan Hak Cipta dan Paten melalui DJKI Kementerian Hukum.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.