Kabar

Hari Batik Nasional 2026 Hadir di Surabaya, Padukan Warisan Budaya, Kreativitas, dan Semangat Generasi Muda

Lembaran kain batik tradisional dengan motif Jawa Timur tertata di atas meja kayu artistik

SURABAYA, 30 September 2026 — Batik tidak lagi hanya bicara soal kain, motif, atau busana formal. Di tangan generasi baru, batik dapat menjadi bagian dari gaya hidup, fesyen, kreativitas, hingga pengalaman budaya yang lebih dekat dengan keseharian. Semangat tersebut menjadi napas utama peringatan Hari Batik Nasional (HBN) 2026 yang resmi dibuka hari ini, Rabu (30/9), di Atrium Tunjungan Plaza 3, Surabaya. Mengusung rangkaian kegiatan yang memadukan tradisi, kreativitas, teknologi, dan ruang publik, HBN 2026 berlangsung hingga 4 Oktober 2026. Penyelenggaraan HBN 2026 merupakan kolaborasi Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dan Yayasan Batik Indonesia (YBI) sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sekaligus memperkuat daya saing industri batik nasional. Pameran HBN 2026 menghadirkan lebih dari 40 peserta dan menampilkan kekayaan batik dari berbagai daerah, dengan Batik Tulungagung menjadi tema utama pada tahun ini. Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia, Gita Pratama Kartasasmita , mengatakan bahwa HBN 2026 dirancang dengan pendekatan yang lebih terbuka dan interaktif agar batik dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda. “Tahun ini kami ingin membawa batik keluar dari ruang museum dan masuk ke ruang publik agar dapat membangun interaksi dengan masyarakat sekaligus memberikan pengetahuan seputar jenis batik yang mungkin belum banyak dikenal masyarakat luas. ” Menurut Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia, batik perlu hadir sebagai sesuatu yang dapat dialami secara langsung, bukan sekadar dilihat atau dikenakan dalam kesempatan tertentu. Karena itu, rangkaian HBN 2026 dikemas dengan berbagai kegiatan yang mempertemukan batik dengan fesyen, teknologi, kreativitas, industri, dan generasi muda. “Kami ingin mereka mencintai batik bukan karena keharusan, tetapi karena menemukan alasan sendiri untuk mencintainya. Diharapkan dengan adanya pameran ini, generasi muda dapat merasakan dan melihat sendiri pengalaman dengan batik sehingga dapat menjadi inspirasi sebagai bagian dari gaya hidup modern, ” ujar Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia.

Dari Tulungagung untuk Indonesia

Salah satu sorotan HBN 2026 adalah pengenalan kekayaan Batik Tulungagung sebagai bagian dari upaya memperluas apresiasi terhadap batik Jawa Timur. Ketua Panitia HBN 2026, Ir. Wirasno mengatakan bahwa penyelenggaraan HBN 2026 di Surabaya menjadi momentum untuk memperkenalkan lebih luas potensi batik daerah sekaligus mendorong keterlibatan para perajin.

“ Indonesia memiliki kekayaan budaya yang melimpah, termasuk dalam kain batik. Pada tahun ini kami mengangkat tema Batik Tulungagung yang memiliki ragam motif, seperti Batik Gajah Modo, Batik Bangoan, Batik Lurik Bhumi Ngrowo, dan banyak lainnya, agar dapat dikenal masyarakat,” ucap Ketua Panitia HBN 2026. Kehadiran para perajin dari Jawa Timur menjadi bagian penting dari semangat tersebut. HBN 2026 tidak hanya menjadi ruang apresiasi terhadap karya batik, tetapi juga membuka ruang pertemuan antara perajin, pelaku industri, desainer, masyarakat, dan pasar. Pemilihan Surabaya sebagai lokasi penyelenggaraan juga membawa makna tersendiri. Sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, Surabaya dipilih untuk menghadirkan perayaan yang inklusif, berdampak luas, dan mampu memperkuat kebanggaan berbatik sebagai identitas bangsa. Surabaya diharapkan menjadi momentum kebangkitan bagi para pelaku dan perajin batik. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian, Reni Yanita , sebelumnya menyampaikan bahwa semangat Kota Pahlawan diharapkan dapat menjadi momentum untuk melahirkan “pahlawan-pahlawan” baru bagi perajin batik.

Ketika Batik Bertemu Generasi Baru

Selama lima hari penyelenggaraan, HBN 2026 menghadirkan berbagai program yang dirancang untuk memperluas cara masyarakat mengenal batik. Selain pameran, rangkaian kegiatan mencakup peragaan busana, talk show , berbagai kegiatan kreatif lintas generasi, serta agenda yang mempertemukan batik dengan perkembangan industri dan kreativitas masa kini. Salah satu agenda yang secara khusus menyasar generasi muda adalah Community Engagement bersama Faisol Riza , Wakil Menteri Perindustrian Republik Indonesia, bertajuk “Make Your Move: Menjawab Tantangan Industri Masa Depan Melalui Kebijakan, Inovasi, dan Aksi Gen-Z” . Program ini dijadwalkan pada 1 Oktober 2026 mendatang dan menargetkan setidaknya 1.000 pengunjung. Forum ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk melihat hubungan antara kreativitas, inovasi, teknologi, dan masa depan industri nasional.

Batik Berlayar : Sebuah Pengalaman Budaya di Sungai Kalimas

Batik Berlayar dirancang bukan sekadar sebagai parade budaya, melainkan sebagai pengalaman yang menghidupkan Sungai Kalimas melalui batik, seni, musik, dan kreativitas. Semangat membawa batik ke ruang publik akan mencapai salah satu puncaknya melalui Batik Berlayar pada 2 Oktober 2026 di kawasan Taman Prestasi dan Sungai Kalimas, Surabaya. Batik Berlayar ini akan menampilkan perahu-perahu berhias ornamen motif batik Jawa Timur, menyusuri Sungai Kalimas dan menghadirkan parade visual yang unik dan ikonik, dengan memanfaatkan kapal operasional sebagai media ekspresi budaya dan kreativitas. Dengan demikian, perjalanan menyusuri Kalimas tidak hanya menjadi perpindahan dari satu titik ke titik lainnya, tetapi menjadi bagian dari rangkaian perayaan HBN 2026.

Mengangkat tema “Batik Jawa Timur”, dekorasi perahu akan merepresentasikan keberagaman motif, warna, serta filosofi batik yang menjadi ciri khas berbagai daerah di Jawa Timur. Berbagai kesenian khas Jawa Timur juga akan hadir di sejumlah titik sepanjang rute. Mulai dari pertunjukan perkusi SMA Taruna Nala Malang di titik keberangkatan, Tari Remo di Dermaga Taman Prestasi, Musik Kolintang di Dermaga Laksamana, Hadrah di Taman Bank Jatim, hingga Musik Perkusi di area Patung Sura dan Baya & Skate Park. Setibanya di Monumen Kapal Selam, para tamu akan disambut dengan kesenian Reog Ponorogo. Kawasan Monkasel juga akan menghadirkan Festival Kuliner dan Bazaar UMKM, yang menampilkan kuliner khas Jawa Timur serta produk kreatif lokal. Batik Berlayar dengan demikian menjadi ruang pertemuan antara batik, seni pertunjukan, musik, ekonomi kreatif, UMKM, pariwisata, komunitas, dan masyarakat. Konsep tersebut sekaligus memperkuat pesan HBN 2026 bahwa pelestarian batik bukan berarti membuat batik berhenti di masa lalu. Sebaliknya, batik perlu terus bergerak mengikuti perkembangan zaman, tanpa kehilangan nilai, identitas, dan pengetahuan yang diwariskan oleh para perajin. Rangkaian HBN 2026 di Surabaya pun menjadi ruang untuk mempertemukan warisan budaya dengan generasi baru—dari motif tradisional hingga fesyen, dari keterampilan perajin hingga teknologi. Dengan dibukanya HBN 2026 hari ini, perjalanan batik di Surabaya tidak hanya dimulai dari sebuah pameran. Batik sedang diajak untuk kembali hidup, bergerak, dan menemukan generasinya.

*** Hari Batik Nasional 2026 30 September–4 Oktober 2026 Atrium Tunjungan Plaza 3, Surabaya 10.00–22.00 WIB Puncak Perayaan Hari Batik Nasional 2026 Batik Berlayar Dermaga Taman Prestasi, Wisata Kapal Kalimas Surabaya 17.00–20.30 WIB

Tentang Yayasan Batik Indonesia

Yayasan Batik Indonesia (YBI) didirikan pada 28 Oktober 1994 dengan tujuan memprakarsai aspirasi dan keinginan berbagai unsur dalam upaya melestarikan dan mengembangkan kerajinan batik Indonesia. YBI mengemban tiga misi utama, yaitu sosial, budaya, dan ekonomi, dengan komitmen untuk menjaga keberlanjutan batik sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO. Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi : Sri Sunarti Sekretariat Panitia HBN 2026 Jl. Bangka Raya No. 101 A, Jakarta Selatan HP: 0857-8128-5134 Email: ybijkt@gmail.com

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.