Industri Nikel: Krisis Pasokan Sulfur Mengancam Produksi Nasional

Depok, Stapo.id – Industri nikel Indonesia kini menghadapi tantangan besar akibat dinamika geopolitik global yang kian memanas.
General Chairman Indonesian Nickel Industry Forum (FINI), Arif Perdana Kusumah, menyoroti ketergantungan bahan baku sulfur tersebut. Beliau menjelaskan ketegangan di Timur Tengah mengancam stabilitas pasokan mineral tanah air dalam sebuah diskusi Mining value addition national Economic growth di Ballroom Le Meridien (7/4).
“salah satu bahan baku yang namanya sulfur. Sulfur Indonesia di awal lalu itu kita impor kurang lebih 5,4 juta ton. Umumnya dari Timur Tengah, 80% dari Timur Tengah. Jadi dengan ditutupnya Selat Hormuz ya, nah saat ini dunia industri khususnya pengolahan dan pemurnian nikel yang berbasis hidrometalurgi itu sangat khawatir karena stok sulfur yang ada di masing-masing proyek itu kita semakin menipis. Dan dengan situasi dan dinamika perang ini, tentu tak terelakkan,” ujar Arif.
Ancaman Rantai Pasok Sulfur Global
Kebutuhan sulfur dalam proses hidrometalurgi nikel sangat vital guna memproduksi asam sulfat sebagai komponen utama. Sebagian besar pasokan tersebut merupakan produk sampingan dari kilang minyak dan gas alam di wilayah Timur Tengah.
“Sebetulnya sulfur yang banyak kenapa berasal dari Timur Tengah, itu adalah produk ikutan dari kilang minyak sebetulnya dan juga dari natural gas. Makanya kenapa 80%-nya memang dari sana. Kemudian sebetulnya Indonesia juga mengimpor dari beberapa negara seperti Kanada, kemudian dari Malaysia kita mengimpor, dan dari Singapura juga kita mengimpor. Tapi memang di Indonesia sendiri kita saat ini pertambangan-pertambangan baru ini memang belum menghasilkan produk ikutan sulfur,” lanjut Arif.
Dampak Biaya Energi terhadap Industri Nikel
Selain masalah sulfur, kenaikan harga komoditas energi turut menekan biaya produksi sektor pertambangan ini secara drastis. Kenaikan harga batu bara menjadi beban tambahan bagi para pelaku usaha hilirisasi di lapangan saat ini.
Arif menjelaskan bahwa kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi biaya produksi, termasuk pada sektor pertambangan dan hilirisasi. Menurutnya, harga batu bara dalam beberapa tahun terakhir mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Ia menambahkan, industri nikel di Indonesia membutuhkan sekitar 150 juta ton batu bara per tahun, sehingga kenaikan harga komoditas energi tersebut memberi dampak besar terhadap struktur biaya produksi.
Arif menambahkan bahwa kondisi harga jual saat ini tidak sebanding dengan biaya operasional yang sangat tinggi. Sinergi antara pemerintah dan swasta tetap menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan industri nikel nasional di masa depan.
