Menuju Penyelenggaraan ke-25, IFRA 2026 Dorong Standardisasi Bisnis Kemitraan yang Beretika dan Legal

Jakarta, 20 Agustus 2026 – Saat ini banyak peluang bisnis menawarkan kemitraan dari suatu merek dagang. Kemitraan mencakup ragam skema kerja sama usaha, mulai dari distribusi, lisensi, hingga business opportunity, dengan tingkat kompleksitas dan legalitas yang berbeda-beda. Franchise atau waralaba menjadi salah satu bentuk yang paling ketat aturannya karena mewajibkan kepemilikan Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) sebagai indikator keabsahannya. Artinya, tidak semua kemitraan bisa disebut franchise. Data Kementerian Perdagangan mencatat sampai April 2026 ada 165 STPW Pemberi Waralaba Dalam Negeri dan 162 Pemberi Waralaba Luar Negeri yang telah diterbitkan, jumlah yang terus bertambah seiring makin banyaknya pelaku usaha yang mengedepankan legalitas. Perlunya pelaku usaha lebih cermat dalam memeriksa aspek legal sebelum memutuskan bergabung dalam skema kemitraan.
Merespons kondisi tersebut, Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) bersama Dyandra Promosindo kembali menggelar The 25th International Franchise, License and Business Concept Expo & Conference (IFRA) 2026. Pameran kemitraan dan bisnis ini akan berlangsung pada 28–30 Agustus 2026 di Hall 7, Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, sekaligus menandai penyelenggaraan edisi ke-25. Tahun ini IFRA mengangkat tema “Empowering the Growth of Ethical Franchising”, merespons dinamika pasar kemitraan yang terus bergerak. Penekanannya ada pada standardisasi usaha yang aman, legal, dan transparan, dengan harapan ekosistem bisnis kemitraan semakin akuntabel dan turut akselerasi pertumbuhan UMKM nasional.
Dukungan pemerintah terhadap penyelenggaraan IFRA 2026 juga disampaikan oleh Direktur Bina Usaha Perdagangan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Franciska Simanjuntak, yang melihat sektor kewirausahaan dan kemitraan sebagai salah satu penggerak penting pertumbuhan ekonomi nasional. “Kami dari Kementerian Perdagangan menyambut baik penyelenggaraan IFRA 2026 sebagai upaya mendorong pertumbuhan kewirausahaan nasional, yang rasionya saat ini baru 3,29 persen dan masih tertinggal dari negara tetangga. Sistem waralaba menjadi salah satu jalur strategis karena menawarkan model bisnis yang siap pakai dan terstandardisasi, dan kami menargetkan pertumbuhan waralaba lokal hingga 7 persen tahun ini. Melalui berbagai program seperti Campuspreneur, kami terus mendorong lahirnya wirausaha-wirausaha baru yang mendukung ekosistem kemitraan bisnis yang legal dan akuntabel, sejalan dengan semangat IFRA 2026,” ujar Franciska.
Senada dengan hal tersebut, pakar dan praktisi waralaba Anang Sukandar menyoroti pentingnya keunikan dan sistem yang kuat dalam membangun bisnis waralaba, khususnya di sektor kuliner yang menjadi salah satu sektor dengan potensi terbesar di Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang belum banyak digarap menjadi bisnis waralaba yang terstandardisasi.
Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), Anang Sukandar, menyampaikan bahwa sistem dan business format yang jelas menjadi kunci keberhasilan sebuah bisnis waralaba. “Waralaba itu sebetulnya konsep pemasaran sekaligus strategi perluasan usaha, di mana harus ada business format dan sistem yang jelas di dalamnya. Indonesia punya banyak jenis masakan dan kekayaan kuliner yang masih bisa dikembangkan menjadi usaha. Sangat disayangkan kalau usaha-usaha ini dibangun asal-asalan tanpa sistem yang kuat, padahal di setiap negara, sektor F&B berkontribusi sekitar 50 sampai 55 persen terhadap ekonominya. Jadi kalau mau bicara kemitraan, harus ada keunggulan dan keunikan yang tidak mudah ditiru orang lain. Saya percaya Indonesia berpeluang besar untuk mengembangkan ini, tapi tentu butuh dukungan dari semua pihak,” ujar Anang.
Sejalan dengan besarnya potensi yang disampaikan Anang, penyelenggaraan IFRA 2026 turut dirancang dengan skala yang lebih besar untuk dapat mengakomodasi pertumbuhan minat masyarakat terhadap bisnis kemitraan dan waralaba di Indonesia. Sebagai penyelenggara, Dyandra Promosindo memastikan pameran tahun ini hadir dengan cakupan peserta dan pengunjung yang lebih luas dibandingkan dengan edisi-edisi sebelumnya, guna mempertemukan lebih banyak pelaku usaha dengan calon mitra potensial.
Presiden Direktur Dyandra Promosindo, Daswar Marpaung, menambahkan bahwa IFRA 2026 menargetkan kehadiran 250 merek unggulan dari 175 perusahaan, dengan proyeksi 30.000 pengunjung secara hibrida. “With skala tersebut, kami berharap IFRA dapat menjadi ruang temu yang strategis bagi pelaku usaha, pemilik brand, dan calon mitra untuk saling mengenal model bisnis masing-masing, sebelum memutuskan untuk menjalin kerja sama,” ujar Daswar.
Sejumlah program disiapkan untuk memberikan wawasan dan inspirasi bagi pengunjung, di antaranya Business Talkshow, IFRA Women’s Talk, Celebpreneur Talkshow, Retirees Seminar, serta The 10th IFBCC (Ifrapreneur Business Concept Competition) sebagai ajang kompetisi konsep bisnis bagi calon entrepreneur. Tak hanya itu, pengunjung juga dapat menikmati beragam kegiatan interaktif seperti IFRA Content Clash, Interactive Quiz & Lucky Draw, hingga Business Mascot Competition yang menghadirkan sisi seru dan menghibur dari dunia bisnis. Ragam sektor usaha turut hadir di IFRA 2026, mulai dari makanan dan minuman, pendidikan, kesehatan, dan sektor usaha lainnya, menjadi bukti komitmen penyelenggara untuk tidak hanya mempertemukan pelaku usaha, tetapi juga memberi ruang bagi pertumbuhan pelaku usaha baru, termasuk para penggiat startup lokal yang tengah merintis ide-ide bisnisnya.
Dorong Pertumbuhan Startup Lokal, IFBCC 2026 Siap Unjuk Ide Bisnis Finalis Terpilih
Selain pameran, IFRA 2026 kembali menghadirkan IFRApreneur Business Concept Competition (IFBCC) yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-10. Kompetisi business plan bagi mahasiswa ini sudah melalui proses kurasi sejak pendaftaran pada April 2026, dilanjutkan dengan penjurian dan coaching clinic pada akhir Juni, hingga terpilihnya 12 tim terbaik. Tiga tim berhasil melaju sebagai finalis yaitu:
● BANASENTRA – Universitas Komputama Cilacap
● KIDDIENARIES – BINUS University
● OKANE – Institut Teknologi Bandung
Ketiga finalis tersebut akan memaparkan ide bisnis mereka secara langsung di depan juri dan pengunjung melalui sesi presentasi akhir (final pitch) di IFRA. Dilanjutkan dengan pengumuman pemenang pada sore harinya dalam rangkaian IFRA Awards & Business Night, 30 Agustus 2026, di Main Stage IFRA, ICE BSD City.
Bagi masyarakat, pelaku bisnis, dan calon investor yang sedang mencari peluang usaha atau berburu usaha yang menjanjikan dan legal, tiket masuk IFRA 2026 dibanderol Rp60.000 dan sudah dapat dipesan lebih awal melalui www.ifra-indonesia.com atau dibeli on the spot pada hari pelaksanaan, 28–30 Agustus 2026. Khusus pemesanan tiket secara online hingga 27 Agustus 2026, pengunjung dapat menikmati promo buy 1 get 1. Informasi terbaru seputar IFRA 2026 dapat dipantau melalui Instagram @ifra_expo dan situs www.ifra-indonesia.com.
***
Tentang Dyandra Promosindo
Dyandra Promosindo adalah Professional Exhibition/Event Organizer (PEO) di Indonesia yang merupakan sub holding company dari PT Dyandra Media International, Tbk (DYAN). Sejak berdiri pada tahun 1994, Dyandra Promosindo berhasil mencetak rekam jejak pameran yang mengesankan di seluruh Indonesia. Dyandra Promosindo telah menggelar lebih dari 850 pameran di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bali, Makassar, Medan dan berbagai kota besar lain di Indonesia. Hingga saat ini Dyandra Promosindo tercatat membawahi 11 anak perusahaan yang bergerak pada bidang event/exhibition organizer, concert promotor dan juga digital agency. Kesebelas anak perusahaan tersebut di antaranya PT Dyandra Communication (Dyacomm), PT Fasen Creative Quality (Quad), PT Visicita Imaji Semesta (Visicomm), PT Idea Besar Komunika (Ideacomm), PT Visi Sarana Media Digital (Underlined), PT Dyan Mas Entertainment (DME Asia), dan PT Dyandra Global Edutainment. Dengan lebih dari 1.000 peserta pameran setiap tahun, termasuk peserta dari luar negeri, Dyandra Promosindo telah membuktikan diri sebagai rekan bisnis terpercaya sambil terus meningkatkan diri menuju budaya pameran yang lebih baik di Indonesia. Berbagai event yang telah diselenggarakan antara lain pameran B2B, pameran B2C, konser musik dan festival, konferensi dan summit. Dyandra Promosindo telah menjadi PEO pertama di Indonesia yang memiliki sertifikasi ISO 9001:2008 untuk sistem kualitas manajemen. Pameran yang diselenggarakan antara lain: Indonesia International Motor Show, Indonesia International Furniture Expo, Indonesian Petroleum Association Convex, International Franchise, License and Business Concept Expo & Conference, dan lain-lain.
Informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Jordi Muhammad
Public Relations Dyandra Promosindo
Email: jordi @dyandra.com ; press.id@dyandra.com

