Indonesia Pangkas Ekspor Gas ke Singapura, Pasokan Dialihkan untuk Kebutuhan Domestik

Depok, Stapo.id – Indonesia mulai mengurangi ekspor gas bumi ke Singapura sebesar 31 juta kaki kubik standar per hari atau million standard cubic feet per day (mmscfd) sejak Sabtu, 24 Oktober 2026. Kebijakan yang dijalankan melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) ini bertujuan mengalihkan pasokan untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam negeri, terutama di Batam, Bintan, dan Sumatra.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan, pengurangan pasokan terdiri atas 15 mmscfd dari wilayah Natuna dan 16 mmscfd dari Sumatra. Menurutnya, kebijakan tersebut saat ini hanya berlaku untuk Singapura karena jalur pipa ekspor yang terdampak terhubung ke negara tersebut. Gas yang sebelumnya dialirkan ke Singapura akan dialihkan untuk mendukung keandalan pasokan listrik domestik.
Pemerintah Evaluasi Prioritas Ekspor Gas
Langkah tersebut sejalan dengan pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia. Sebelumnya, Bahlil menyampaikan bahwa pemerintah akan mengevaluasi ekspor gas agar ketersediaan energi dan bahan baku untuk industri dalam negeri tetap terjaga.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah industri hilirisasi petrokimia yang membutuhkan gas bumi sebagai bahan baku. Pemerintah juga meninjau kembali komposisi pemanfaatan produksi gas nasional. Bahlil menyebut sekitar 70 persen produksi gas digunakan untuk kebutuhan domestik, sedangkan 30 persen lainnya diekspor.
Kebijakan ini juga muncul setelah pemerintah menekankan pentingnya sikap saling menghormati dalam hubungan dengan negara tetangga. Namun, SKK Migas menjelaskan pengalihan pasokan yang dilakukan saat ini ditujukan untuk menjaga keandalan pasokan gas bagi pembangkit listrik domestik. Karena itu, alasan operasional tersebut perlu dibedakan dari pernyataan politik yang mendahuluinya.
Singapura Siapkan Pasokan Alternatif
Otoritas Pasar Energi Singapura atau Energy Market Authority (EMA) menyatakan pengurangan pasokan tersebut berdampak kurang dari 2 persen terhadap kebutuhan gas harian negara itu, yang mencapai lebih dari 1.000 miliar British thermal unit per hari (BBTUD). EMA juga menyebut telah memiliki rencana kontingensi untuk menghadapi gangguan pasokan dan memastikan perusahaan pengadaan gas negara, Singapore GasCo, siap meningkatkan impor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) bila diperlukan.
Meski persentase pengurangan relatif kecil dibandingkan total kebutuhan Singapura, gas alam tetap berperan penting karena menyumbang sekitar 95 persen pembangkitan listrik negara tersebut. Pengurangan pasokan ini menjadi pengingat bahwa keamanan energi Indonesia dan negara mitra sama-sama bergantung pada kepastian kontrak, infrastruktur pipa, serta diversifikasi sumber energi.
Belum ada pengumuman mengenai apakah pengurangan pasokan akan diperpanjang atau diikuti pemangkasan tambahan. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kebutuhan energi domestik dan evaluasi pemerintah terhadap alokasi gas nasional.
