Pipa Minyak Arab Saudi Diserang, Harga Minyak Dunia Tembus US$107

Depok, Stapo.id – Serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi kembali mengguncang pasar minyak dunia. Pipa minyak East-West Pipeline yang menghubungkan ladang minyak di wilayah timur Arab Saudi dengan terminal Yanbu di Laut Merah mengalami serangan udara dan kemudian dihentikan sementara oleh pemerintah Saudi.
Pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer tersebut memiliki kapasitas maksimum hingga 7 juta barel per hari. Jalur ini menjadi semakin penting karena memungkinkan Arab Saudi mengirim minyak menuju Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz, jalur perdagangan energi yang juga tengah terganggu akibat konflik di kawasan.
Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan minyak global. Reuters melaporkan pada 15 September bahwa harga Brent sempat naik lebih dari 1 persen ke sekitar US$107,35 per barel, sementara WTI bergerak di atas US$102 per barel. Kenaikan terjadi ketika pasar memperhitungkan risiko gangguan pasokan yang lebih panjang dari kawasan Teluk.
Risiko Pasokan Makin Besar
Dampak serangan tidak hanya berasal dari penghentian pipa. Kapasitas jalur tersebut menjadi penting karena gangguan di Selat Hormuz telah mengurangi arus minyak yang biasanya melewati kawasan tersebut. Reuters memperkirakan jika pipa tidak segera kembali beroperasi, gangguan tersebut dapat mengancam hingga sekitar 4 persen pasokan minyak global. Stok minyak yang tersedia di terminal Saudi disebut hanya memberikan bantalan beberapa hari untuk mempertahankan ekspor.
Pasar juga menghadapi risiko tambahan dari meningkatnya serangan kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran di sekitar Laut Merah dan Bab el-Mandeb. Jika gangguan terhadap pipa, pelayaran dan fasilitas energi berlangsung bersamaan, tekanan terhadap harga minyak berpotensi bertahan lebih lama.
Goldman Sachs memperkirakan Brent dapat menembus US$120 per barel, bahkan mendekati US$130 jika gangguan pasokan berlangsung selama beberapa pekan tanpa tambahan pasokan atau penurunan permintaan. Angka tersebut merupakan proyeksi pasar, bukan kepastian harga.
Pemerintah Indonesia Tahan Harga BBM Subsidi
Kenaikan harga minyak global juga menjadi perhatian Indonesia. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada 14 September menegaskan pemerintah tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi meskipun harga minyak mentah dunia telah berada jauh di atas asumsi APBN.
Kementerian ESDM menyebut kebutuhan BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi atau lifting minyak domestik berada di kisaran 600.000 hingga 610.000 barel per hari. Pemerintah karena itu terus mencari sumber pasokan minyak mentah dari negara lain, termasuk melalui pembicaraan pasokan jangka panjang dengan Rusia.
Hingga 15 September 2026, Bahlil memastikan harga BBM bersubsidi tidak akan dinaikkan sampai akhir tahun meskipun harga minyak dunia berfluktuasi. Pemerintah juga mendorong diversifikasi sumber pasokan untuk mengurangi risiko ketergantungan pada jalur energi yang terdampak konflik.
Bagi Indonesia, perkembangan harga minyak dunia tetap perlu diperhatikan karena kenaikan harga crude dapat meningkatkan biaya impor energi dan tekanan terhadap subsidi. Namun, kebijakan pemerintah saat ini adalah menahan dampak tersebut agar tidak langsung diteruskan kepada konsumen BBM bersubsidi.
