TEI
TEI
Kabar

Harga Minyak Dunia Tembus US$100, Rupiah Justru Menguat

Grafik kenaikan harga minyak mentah dunia dan pergerakan nilai tukar mata uang rupiah

Sumber Gambar: pexels.com

Gangguan pasokan di Selat Hormuz mendorong Brent ke atas US$101 per barel, sementara rupiah menguat ke Rp17.511 per dolar AS pada penutupan 9 September.

Depok, Stapo.id – Harga minyak mentah dunia kembali menjadi perhatian pasar setelah harga minyak Brent menembus level US$100 per barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pada perdagangan Rabu, 9 September 2026, Brent ditutup di level US$101,21 per barel, menjadi level tertinggi sejak Mei 2026.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi melalui Selat Hormuz. Reuters melaporkan harga Brent futures naik 3,36 persen pada Rabu dan ditutup pada US$101,21 per barel. Sejumlah serangan terhadap kapal di kawasan tersebut meningkatkan risiko terganggunya jalur perdagangan energi yang menjadi salah satu rute penting minyak dunia.

Situasi tersebut berlanjut pada perdagangan Kamis, 10 September. Harga Brent masih bertahan di atas US$100 per barel, dengan kontrak berjangka sempat berada di sekitar US$101,34 per barel. Pasar masih mengantisipasi gangguan pasokan akibat eskalasi konflik dan meningkatnya risiko terhadap lalu lintas kapal di kawasan Teluk.

Kondisi pasar minyak juga diperburuk oleh berkurangnya volume minyak yang melewati Selat Hormuz. Reuters menyebut jalur tersebut sebelumnya membawa sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia. Gangguan yang berlangsung berbulan-bulan membuat pasokan global semakin rentan terhadap gangguan tambahan.

Kenaikan harga minyak berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian global karena dapat meningkatkan biaya transportasi, energi dan produksi. Badan Informasi Energi Amerika Serikat atau EIA bahkan telah menaikkan proyeksi harga minyak 2026 setelah gangguan pasokan menyebabkan persediaan minyak global turun sekitar 400 juta barel sepanjang tahun berjalan. EIA memperkirakan rata-rata harga Brent pada 2026 berada di sekitar US$91 per barel.

Rupiah Menguat di Tengah Tekanan Eksternal

Berbeda dengan harga minyak, nilai tukar rupiah justru menunjukkan penguatan. Pada penutupan perdagangan Rabu, rupiah menguat 121 poin atau 0,69 persen menjadi Rp17.511 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.632 per dolar AS, berdasarkan data yang dikutip ANTARA.

Penguatan rupiah terutama didorong arus modal masuk ke pasar obligasi pemerintah Indonesia. Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyebut arus modal tersebut meningkat seiring membaiknya kondisi defisit anggaran dan penerimaan pajak, sementara selisih imbal hasil obligasi Indonesia masih menarik dibandingkan instrumen sejenis di Amerika Serikat.

Data Bank Indonesia juga mengonfirmasi penguatan rupiah. JISDOR pada 9 September tercatat Rp17.552 per dolar AS, menguat dari Rp17.618 pada 8 September. Dengan demikian, angka Rp17.511 merupakan kurs penutupan pasar, sedangkan Rp17.552 merupakan nilai JISDOR BI pada hari yang sama.

Dari sisi global, dolar AS juga berada di bawah tekanan terhadap sejumlah mata uang utama. Yen Jepang menguat sekitar 4 persen sepanjang September dan diperdagangkan di sekitar 153,6 yen per dolar AS pada 9 September. Indeks dolar AS berada di sekitar 98,83, dekat level terendah dalam hampir dua pekan.

Pasar Menanti Data Inflasi Amerika Serikat

Pergerakan rupiah dan pasar keuangan global selanjutnya akan sangat dipengaruhi data inflasi Amerika Serikat yang menjadi perhatian investor pada 10 September. Data tersebut menjadi penting karena harga minyak yang kembali menembus US$100 per barel dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi keputusan kebijakan moneter Federal Reserve.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia menjadi tantangan tersendiri bagi negara-negara importir energi, termasuk Indonesia. Jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, biaya impor energi dapat meningkat dan memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan maupun biaya transportasi serta produksi dalam negeri.

Namun, penguatan rupiah dapat menjadi faktor penyangga karena nilai tukar yang lebih kuat berpotensi mengurangi tekanan biaya impor yang dihitung dalam dolar AS. Perkembangan harga minyak dan rupiah karena itu menjadi dua indikator penting bagi pelaku usaha dan investor Indonesia dalam membaca kondisi ekonomi pada September 2026.