Kabar

Dividen AADI Diproyeksi Rp2.550 per Saham, Yield Berpotensi Tembus 23%

Ilustrasi konsep dividen AADI dan investasi energi batu bara

Sumber Gambar: Dok. Istimewa

Depok, Stapo.id – PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) berpotensi membagikan dividen hingga Rp2.550 per saham dengan estimasi dividend yield sekitar 23%. Proyeksi tersebut berasal dari analisis Sucor Sekuritas yang melihat peluang pembagian dividen besar setelah perseroan menyelesaikan penjualan kepemilikan di tambang batu bara Kestrel, Australia.

Dalam laporan yang diberitakan Investor Daily pada Senin (26/10/2026), Sucor Sekuritas menilai prospek AADI didukung oleh potensi laba yang kuat, posisi kas bersih, serta harga batu bara yang berada di atas asumsi perusahaan. Meski demikian, angka dividen Rp2.550 per saham masih merupakan proyeksi analis dan belum dapat dianggap sebagai dividen resmi yang ditetapkan perseroan.

Dana Divestasi Kestrel Jadi Salah Satu Penopang

AADI melalui anak usahanya, Adaro Capital Limited, telah menyelesaikan penjualan seluruh saham dan warannya di Kestrel Coal Group kepada Yancoal Australia Limited pada 1 Oktober 2026. Dari transaksi tersebut, perseroan menerima sekitar US$700 juta setelah pajak atau setara sekitar Rp12,5 triliun berdasarkan kurs yang digunakan dalam pemberitaan.

Manajemen AADI menyatakan dana hasil divestasi akan dialokasikan untuk pengembangan bisnis grup di Indonesia, pembayaran dividen, serta penguatan struktur permodalan melalui pelunasan sebagian pinjaman. Perseroan juga berpeluang memperoleh pembayaran tambahan berdasarkan ketentuan transaksi apabila sejumlah kondisi yang disepakati terpenuhi.

Harga Batu Bara dan Laba Jadi Perhatian

Sucor Sekuritas mencatat harga batu bara acuan ICI-3 berada di level US$99 per ton, lebih tinggi dibandingkan asumsi harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) AADI pada 2026 sebesar US$71 per ton. Selisih tersebut dinilai membuka peluang bagi perusahaan untuk mencatatkan laba di atas proyeksi awal.

Sucor memperkirakan laba bersih AADI pada 2026 mencapai US$884 juta. Posisi kas bersih dan struktur biaya yang relatif rendah juga menjadi faktor yang dipertimbangkan dalam menilai kapasitas keuangan perusahaan.

Dividend yield sebesar 23 persen menggambarkan perbandingan dividen yang diproyeksikan dengan harga saham sebagai dasar perhitungan. Besaran yield aktual dapat berubah mengikuti harga saham dan keputusan final pembagian dividen.

Investor tetap perlu memperhatikan bahwa harga batu bara, biaya produksi, kebutuhan modal, dan keputusan penggunaan dana hasil divestasi dapat memengaruhi realisasi dividen. Karena itu, proyeksi dividen besar tidak dengan sendirinya menjamin besaran pembayaran maupun keuntungan investasi.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.