Dividen DMAS Diproyeksi Rp30 per Saham, Data Center Jadi Andalan

Prospek dividen Puradelta Lestari ditopang lonjakan laba dan kas, tetapi menipisnya lahan industri menjadi tantangan.
Depok, Stapo.id – PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) kembali menjadi perhatian investor dividen setelah kinerja keuangan perseroan melonjak sepanjang semester I 2026. Pertumbuhan tersebut terutama didorong tingginya permintaan lahan industri dari sektor data center di kawasan Kota Deltamas, Bekasi.
RHB Sekuritas memperkirakan dividen DMAS untuk tahun buku 2027 dapat mencapai sekitar Rp30 per saham dengan payout ratio atau rasio pembayaran dividen sekitar 95 persen. Berdasarkan harga saham yang digunakan dalam kajian tersebut, angka itu setara dengan potensi dividend yield sekitar 15 persen. Namun, angka tersebut masih merupakan proyeksi analis dan bukan keputusan resmi perseroan.
Sebagai pembanding, DMAS telah membagikan dividen sebesar Rp16,50 per saham untuk tahun buku 2025. Total dividen yang dibagikan mencapai sekitar Rp795 miliar dengan pembayaran dilakukan pada 9 Juli 2026.
Laba DMAS Melonjak Berkat Penjualan Lahan Data Center
Prospek dividen tersebut tidak terlepas dari kinerja DMAS sepanjang enam bulan pertama 2026. Perseroan mencatat pendapatan usaha sekitar Rp1,80 triliun, naik 194,03 persen dibandingkan Rp613,35 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba bersih DMAS mencapai Rp1,19 triliun atau meningkat 175,34 persen secara tahunan dari Rp433,01 miliar. Laba kotor juga naik 197,22 persen menjadi sekitar Rp1,27 triliun.
Penjualan lahan industri menjadi sumber utama pertumbuhan tersebut. Pendapatan dari segmen lahan industri mencapai sekitar Rp1,74 triliun atau sekitar 96,72 persen dari total pendapatan. EmitenNews mencatat realisasi tersebut didominasi oleh sejumlah pelanggan korporasi dari sektor data center.
Tingginya permintaan juga terlihat dari prapenjualan atau marketing sales. Hingga semester I 2026, DMAS membukukan prapenjualan sekitar Rp1,15 triliun atau 55 persen dari target tahun berjalan. Total permintaan lahan industri mencapai sekitar 85 hektare, dengan sekitar 75 persen atau hampir 64 hektare berasal dari sektor data center.
Kas Besar, tetapi Landbank Industri Menipis
Dari sisi neraca, posisi kas DMAS juga menjadi salah satu faktor yang mendukung prospek pembagian dividen. Per 30 Juni 2026, kas dan setara kas perseroan mencapai sekitar Rp2,09 triliun, meningkat tajam dibandingkan Rp377 miliar pada akhir 2025. Perseroan juga dilaporkan tidak memiliki utang.
Namun, pertumbuhan bisnis data center sekaligus menghadirkan tantangan baru. Total landbank DMAS per akhir Juni 2026 mencapai sekitar 581 hektare, terdiri atas 357 hektare lahan komersial, 164 hektare residensial dan hanya 60 hektare lahan industri.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena permintaan lahan industri yang masuk sepanjang semester pertama 2026 mencapai sekitar 85 hektare, lebih besar daripada sisa lahan industri yang tersedia. Tingginya permintaan membuat DMAS memiliki ruang pertumbuhan yang besar, tetapi pada saat yang sama perlu menjaga ketersediaan lahan untuk mempertahankan penjualan di masa mendatang.
Bagi investor, kombinasi laba yang meningkat, posisi kas yang kuat dan tingginya permintaan data center menjadi faktor yang membuat DMAS tetap menarik sebagai saham dengan karakter dividen. Namun, proyeksi dividen Rp30 per saham untuk 2027 tetap perlu dilihat sebagai estimasi analis, bukan kepastian.
Keberlanjutan dividen pada akhirnya akan bergantung pada kemampuan DMAS mempertahankan penjualan lahan, mengelola landbank dan menghasilkan kas dari bisnis kawasan industri. Ketergantungan yang semakin besar terhadap sektor data center juga membuat perkembangan industri pusat data menjadi salah satu faktor penting bagi prospek kinerja DMAS ke depan.

