Harga Batu Bara Menguat, Ekspor RI Berpeluang Bangkit Akhir Tahun

Harga acuan global menembus US$150 per ton pada awal Oktober, sementara permintaan India dan kebutuhan energi Asia membuka peluang peningkatan pengiriman batu bara Indonesia.
Depok, Stapo.id – Pasar batu bara global memasuki kuartal IV-2026 dengan prospek permintaan yang menguat. Kebutuhan energi India, harga gas alam cair (LNG) yang relatif mahal, serta persiapan stok energi menjelang musim dingin di Asia menjadi sejumlah faktor yang menopang harga komoditas tersebut. Kondisi ini membuka peluang bagi eksportir Indonesia, meskipun volume pengiriman nasional masih menghadapi tekanan.
Berdasarkan laporan Kontan pada 9 Oktober 2026, harga batu bara global tercatat US$150,25 per ton pada 7 Oktober, naik 2,56% dalam sepekan dan meningkat 39,77% sejak awal tahun. Angka tersebut mengacu pada data Trading Economics dan perlu dibedakan dari harga batu bara berdasarkan indeks, kualitas, serta lokasi pengiriman tertentu.
Sementara itu, Reuters memperkirakan harga acuan batu bara termal Newcastle Australia berada di sekitar US$143 per ton pada 9 Oktober. Harga tersebut membuat batu bara relatif lebih kompetitif dibandingkan LNG untuk pembangkit listrik di sejumlah pasar Asia.
Harga Acuan Batu Bara Indonesia Mayoritas Turun
Di dalam negeri, Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode pertama Oktober 2026 justru menunjukkan pergerakan yang beragam. Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 384.K/MB.01/MEM.B/2026, HBA untuk batu bara berkalori 6.322 kcal/kg GAR ditetapkan sebesar US$122,52 per ton, turun dari US$123,54 pada periode kedua September.
HBA I untuk kalori 5.300 kcal/kg GAR turun menjadi US$90,60 per ton dari US$93,94. Sebaliknya, HBA II untuk kalori 4.100 kcal/kg GAR naik tipis menjadi US$63,45 dari US$63,17, sedangkan HBA III untuk kalori 3.400 kcal/kg GAR turun menjadi US$43,84 dari US$44,53.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga di pasar internasional tidak selalu diikuti oleh seluruh kategori harga acuan domestik. Nilai kalori, kualitas batu bara, kontrak penjualan, dan waktu penetapan harga turut memengaruhi harga yang diterima produsen.
Ekspor Indonesia Masih Tertekan, India Jadi Penopang
Data BPS yang dilaporkan Reuters menunjukkan ekspor batu bara Indonesia pada Januari-Agustus 2026 mencapai 227,70 juta ton, turun 9,33% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, nilai ekspornya meningkat 4,31% menjadi US$16,58 miliar.
India menjadi salah satu pasar yang perlu diperhatikan. Reuters melaporkan impor batu bara sektor kelistrikan India pada Agustus 2026 mencapai 5,52 juta ton, naik 85,6% secara tahunan akibat meningkatnya kebutuhan listrik dan berkurangnya produksi listrik tenaga air. Sekitar 80% impor tersebut berasal dari Indonesia.
Meski demikian, peluang peningkatan permintaan belum menjamin lonjakan ekspor. International Energy Agency (IEA) sebelumnya memperkirakan perdagangan batu bara termal melalui laut masih menghadapi tekanan sepanjang 2026, terutama karena perubahan kebutuhan impor China dan kebijakan penggunaan batu bara domestik.
Prospek Akhir Tahun dan Risiko bagi Emiten
Reuters memperkirakan permintaan musiman China, Jepang, dan Korea Selatan dapat mendorong kenaikan impor batu bara pada kuartal IV. Jika pola historis berulang, eksportir Indonesia berpeluang memperoleh tambahan pesanan menjelang akhir tahun.
Bagi emiten batu bara, dampaknya akan bergantung pada harga jual rata-rata, volume produksi, biaya angkut, kualitas produk, serta kontrak penjualan. Karena itu, kenaikan harga acuan global belum cukup untuk menyimpulkan bahwa laba seluruh produsen akan meningkat.
Dalam jangka lebih panjang, prospek batu bara tetap menghadapi tantangan transisi energi dan ekspansi energi terbarukan. Dengan demikian, kuartal IV-2026 berpotensi memberikan momentum bagi perdagangan batu bara, tetapi keberlanjutan penguatannya masih bergantung pada permintaan, harga energi alternatif, dan kondisi pasokan global.
