Kabar

Bahan Baku Plastik: Inaplas Alihkan Impor ke Amerika Serikat

Ilustrasi bahan baku plastik untuk Stapo.id

Depok, Stapo.id – Bahan baku plastik di dalam negeri kini mulai beralih ke sumber alternatif di luar wilayah Timur Tengah. Industri nasional mulai melirik impor dari Amerika Serikat guna menjaga stabilitas produksi. Langkah strategis ini mengantisipasi gangguan pasokan akibat ketegangan konflik global.

Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono, menyatakan industri telah menjalin komitmen baru. Pihaknya mencari solusi nyata demi keberlangsungan pabrik pengolahan polimer. “Pokoknya kita lagi berusaha, karena kita sudah ada komitmen, sudah ada dapat barang dari Amerika,” ujar Fajar.

Selain mengimpor dari Amerika Serikat, produsen juga memanfaatkan kondensat dan LPG. Bahan ini berfungsi sebagai pengganti nafta yang stoknya mulai terbatas. Inaplas menilai negara-negara seperti Australia dan Afrika memiliki potensi pasokan yang besar.

Solusi Substitusi Nafta untuk Industri

Teknologi pengolahan di Indonesia saat ini sudah mengalami peningkatan kemampuan yang signifikan. Mesin-mesin industri mampu mengubah kondensat menjadi bahan dasar berkualitas tinggi. Kemampuan ini memberikan harapan baru bagi ketahanan sektor manufaktur nasional.

Fajar memproyeksi penggunaan bahan alternatif ini mampu menutup kekurangan kebutuhan nasional. Penggunaan LPG dapat menggantikan porsi nafta secara bertahap setiap tahunnya. “Kita kan sudah upgrade teknologinya untuk bisa mengolah juga selain nafta, yaitu kondensat dan LPG, sehingga sekarang pun sudah mulai jalan dan LPG yang kita gunakan itu bisa menggantikan nafta itu antara 30-50 persen,” ujarnya.

Kebutuhan nafta nasional pada tahun 2025 mendatang mencapai angka 4,5 juta ton. Target besar ini memerlukan koordinasi yang kuat antar pemangku kepentingan. Pengusaha berharap rantai pasok tetap terjaga meski kondisi geopolitik belum stabil.

Harapan Insentif Fiskal bagi Bahan Baku Plastik

Keberhasilan transisi ini memerlukan dukungan kebijakan fiskal yang mendukung dari pemerintah pusat. Inaplas mengusulkan pemberian Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah atau PPN DTP. Insentif ini akan menurunkan beban biaya operasional bagi para pelaku usaha.

Pembebasan bea masuk juga menjadi poin krusial bagi daya saing produk lokal. Fajar berharap tarif impor bisa turun dari lima persen menjadi nol persen. Langkah ini akan memperkuat ketersediaan bahan baku plastik di pasar domestik.

“Kalau pemerintah memberikan insentif bea masuk yang 5 persen jadi 0 persen nanti berupa PPN DTP atau insentif fiskal yang lain, itu akan sangat membantu keberadaan dari si nafta tadi, sehingga sumber lokal terhadap biji plastik itu bisa volumenya lebih banyak,” jelasnya.

Saat ini industri sedang berpacu dengan waktu pengiriman barang yang cukup lama. Proses impor dari negara alternatif membutuhkan waktu sekitar lima puluh hari perjalanan. Pengusaha terus memaksimalkan stok yang tersedia agar lini produksi tidak berhenti.

Perencanaan logistik yang matang menjadi kunci utama dalam menghadapi masa transisi ini. Inaplas optimis stok cadangan saat ini masih mencukupi hingga kiriman baru tiba. “Kita berharap dengan stok yang ada hari ini, sampai 50 hari ke depan, itu bisa nyambung dengan kapal yang akan datang di 50 hari yang akan datang,” pungkasnya.