Bisnis

Tembus TEI 2026, Ecoprint Srayan Makarya Dari Banyumas Siap Bidik Pasar Global

Ilustrasi produk ecoprint Banyumas untuk Stapo.id

Sumber Gambar: Jajaran produk pakaian ready-to-wear berbahan batik ecoprint milik UMKM Ecoprint Srayan Makarya asal Banyumas dipajang dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di ICE BSD City, Tangerang Selatan. Produk fesyen berkelanjutan (sustainable fashion) yang memanfaatkan cetakan daun jati dan pewarna alami tumbuhan ini sukses memikat minat pengunjung domestik serta internasional. (Foto: stapo.id)

Depok, Stapo.id – Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Banyumas memperkenalkan berbagai kerajinan ramah lingkungan pada Trade Expo Indonesia ke-41 di ICE BSD City. Ajang perdagangan internasional telah berlangsung dari 14 Oktober hingga 18 Oktober 2026 ini menampilkan karya pelaku usaha lokal yang mengusung konsep ekonomi hijau. Banyak pengunjung mengagumi keunikan produk ecoprint Banyumas yang memanfaatkan bahan alam hayati.

Pelaku UMKM pemilik Ecoprint Srayan Makarya, Suciatin, membawa aneka kreasi berbasis limbah dan material nabati. Ia meramu pelepah pisang, serat rotan, serta sisa bahan organik menjadi produk bernilai jual tinggi. Teknik pewarnaan alami memanfaatkan ekstrak akar dan daun basah untuk menciptakan corak kain yang autentik.

Keunikan Bahan Baku Produk Ecoprint Banyumas

Inovasi perajin Banyumas terlihat jelas pada produk alas kaki yang mengombinasikan kain kanvas bermotif botani. Suciatin mengolah dedaunan lokal untuk menghasilkan cetakan motif alami yang khas pada setiap pasang sepatu.

“Sepatunya memiliki model yang unik dan berbeda. Bahannya dari kanvas dengan motif daun jati dan bunga kenikir yang aromanya disukai kupu-kupu,” ujar Suciatin saat ditemui di lokasi pameran.

Suciatin memproduksi alas kaki tersebut secara massal melalui galeri miliknya. Selain alas kaki, galeri ini juga memproduksi lilin dan sabun dari minyak jelantah serta cairan eco-enzyme.

Komitmen Berkelanjutan Menuju Zero Waste

Pengembangan usaha kerajinan ini berjalan berkat dukungan kemitraan strategis dengan berbagai lembaga resmi. Pelaku usaha menerima pendanaan KMTI Kementerian Riset dan Teknologi serta menjalin sinergi bersama Bank Indonesia, PNM, hingga mendaur ulang seragam instansi.

“Prinsip saya, selama belum mencapai zero waste, saya akan terus memproduksi sesuatu yang bermanfaat dan dapat digunakan kembali,” tegas Suciatin.

Langkah UMKM Banyumas membuktikan bahwa inovasi sirkular mampu memperkuat daya saing produk lokal di panggung ekspor. Pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tinggi memberikan peluang ekonomi baru sekaligus menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.