Insight

Strategi Kalibrr Hadapi Tantangan Rekrutmen 2026: Integrasi AI dan Pendekatan Humanis

Ilustrasi integrasi teknologi AI dan koneksi manusia dalam proses rekrutmen modern.
AVP Business Development Kalibrr, Permata Karina Amelia (arsip stapo.id)

Depok, Stapo.id – Dinamika dunia rekrutmen pada 2026 diprediksi semakin kompleks seiring meningkatnya ekspektasi pencari kerja di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi perusahaan. Kondisi tersebut menjadi sorotan utama dalam agenda Brrsilahturahmi bersama Kalibrr Communities bertema Building Smarter & Responsive HR during Tougher Times yang digelar di Uptown Co-Working Space, Jakarta, Rabu (15/4).

Dalam kesempatan tersebut, AVP Business Development Kalibrr, Permata Karina Amelia, mengungkapkan bahwa saat ini banyak perusahaan menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan kebutuhan bisnis dengan harapan para kandidat yang terus berkembang. Berdasarkan survei internal Kalibrr, ditemukan adanya kesenjangan antara ekspektasi pencari kerja dengan kemampuan perusahaan untuk memenuhi berbagai kebutuhan tersebut, baik dari sisi kompensasi, fleksibilitas kerja, maupun jenjang karier.

Tantangan Perusahaan Harus Mengikuti Tren Masa Kini 

Menurut Karina, situasi ini menuntut perusahaan dan platform rekrutmen untuk bergerak lebih adaptif dalam membangun proses perekrutan yang efisien namun tetap relevan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja modern. Untuk menjawab tantangan tersebut, Kalibrr mengandalkan pemanfaatan teknologi digital melalui integrasi Artificial Intelligence atau AI dalam sistem perekrutannya.

“Di antaranya adalah penggunaan teknologi seperti AI untuk mempermudah alat penyaringan bagi perekrut agar lebih presisi,” ujar Karina saat sesi diskusi berlangsung.

Ia menjelaskan, teknologi AI kini menjadi salah satu elemen penting dalam proses talent acquisition modern karena mampu membantu tim HR melakukan penyaringan kandidat dengan lebih cepat, akurat, dan terukur. Sistem tersebut memungkinkan perekrut untuk menyeleksi kandidat berdasarkan kecocokan keterampilan, pengalaman kerja, hingga relevansi profil profesional dengan kebutuhan posisi yang dibuka.

Meski begitu, Karina menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi saja tidak cukup. Kalibrr juga mengedepankan pendekatan human-centric atau berpusat pada manusia guna menjaga keseimbangan antara otomatisasi teknologi dan sentuhan personal dalam proses perekrutan.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui pembentukan komunitas HR yang menjadi wadah kolaborasi bagi para praktisi sumber daya manusia dari berbagai perusahaan. Menurut Karina, komunitas ini memungkinkan para perekrut untuk saling bertukar wawasan, berdiskusi mengenai tren industri, hingga bersama-sama merumuskan strategi terbaik dalam menjangkau kandidat potensial.

“Kalibrr membentuk komunitas HR agar para perekrut dari berbagai perusahaan memiliki wadah untuk bertukar pikiran serta merumuskan solusi bersama dalam mendekati kandidat yang tepat,” tambahnya.

Tak hanya berfokus pada sisi perusahaan, Kalibrr juga memperhatikan peningkatan kualitas dari sisi pencari kerja. Sebagai bagian dari komitmen membangun ekosistem ketenagakerjaan yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan, perusahaan secara rutin menggelar berbagai program pelatihan dan bootcamp.

Program tersebut dirancang untuk membantu kandidat meningkatkan kemampuan teknis maupun nonteknis agar lebih kompetitif di pasar kerja. Pelatihan yang diberikan mencakup pengembangan hard skill sesuai kebutuhan industri hingga soft skill seperti komunikasi, leadership, dan adaptabilitas.

Perpaduan Teknologi AI dan Human Resource (HR)

Melalui perpaduan teknologi AI, penguatan komunitas HR, serta pengembangan talenta melalui pelatihan berkelanjutan, Kalibrr optimistis dapat terus menghadirkan inovasi yang relevan dalam menjawab kebutuhan perekrutan di era modern sekaligus membantu perusahaan menemukan kandidat terbaik secara lebih efektif.

Interviewer: Pradahlan Sindu Mardiko 

Narasumber: Permata Karina Amelia