Kabar

Rusia Menjual Emas Besar-besaran Demi Menutup Defisit Anggaran

Ilustrasi Rusia menjual emas untuk Stapo.id

Depok, Stapo.id – Fenomena Rusia menjual emas secara masif sedang menjadi sorotan pasar keuangan global saat ini. Selama bertahun-tahun, negara beruang merah ini bertindak sebagai pembeli emas terbesar di dunia. Namun, arah kebijakan fiskal mereka kini berbalik secara dramatis untuk membiayai kebutuhan negara.

Sejak Januari 2026, Bank Sentral Rusia (CBR) mulai melepas cadangan logam mulia miliknya ke pasar. Laporan terbaru menunjukkan mereka telah menjual sekitar 900.000 ons troi atau setara 27,9 ton emas. Langkah ini menempatkan cadangan emas Rusia pada level terendah sejak Maret 2022.

Menurut data dari World Gold Council, penurunan ini merupakan yang terbesar sejak tahun 2002. Aset yang awalnya berfungsi sebagai perisai fiskal kini berubah menjadi sumber pendanaan utama. Pemerintah Rusia membutuhkan dana segar untuk membiayai konflik yang telah memasuki tahun kelima.

Alasan Utama Rusia Menjual Emas Saat Ini

Keputusan Rusia menjual emas berkaitan erat dengan defisit anggaran yang membengkak hingga 4,6 triliun rubel. Pendapatan dari sektor minyak dan gas meleset dari target awal tahun ini. Sementara itu, belanja militer justru melonjak drastis melampaui semua rencana anggaran negara.

Sanksi internasional juga membatasi ruang gerak Bank Sentral Rusia dalam mengelola aset devisa mereka. Mereka tidak lagi memiliki akses bebas terhadap dolar Amerika Serikat maupun euro di pasar internasional. Oleh karena itu, emas dan yuan China menjadi aset paling likuid untuk mereka gunakan.

Momentum harga emas yang sempat menyentuh rekor tertinggi memberikan peluang bagi Rusia untuk merealisasikan keuntungan. Mereka melepas aset saat nilai pasar sedang tinggi demi menutup lubang fiskal yang semakin dalam. Strategi ini membantu menjaga stabilitas keuangan domestik di tengah tekanan ekonomi yang berat.

Dampak Penjualan Terhadap Harga Logam Mulia

Pasar merespons langkah Rusia menjual emas dengan aksi jual yang cukup signifikan di bursa global. Berdasarkan laporan BullionVault, harga emas sempat menghapus kenaikan besar yang terjadi sepanjang awal tahun 2026. Penurunan mingguan ini tercatat sebagai salah satu yang terdalam dalam sejarah pasar modern.

Koreksi harga ini tidak hanya terjadi akibat volume fisik emas yang dilepaskan ke pasar. Faktor psikologis investor memainkan peran jauh lebih besar dalam menekan harga logam mulia tersebut. Investor khawatir bank sentral negara lain akan mengikuti langkah Rusia untuk mendanai kebutuhan mendesak.

Secara keseluruhan, fenomena ini menunjukkan bahwa emas tetap menjadi aset likuiditas terakhir bagi negara dalam krisis. Meskipun harga mengalami tekanan jangka pendek, nilai emas sebagai cadangan devisa tetap sangat vital. Transisi Rusia dari pembeli menjadi penjual menandai babak baru dalam dinamika ekonomi politik dunia.