KabarPilihan

Ekspor Pupuk Indonesia Tembus Pasar Global, Australia Jadi Gerbang Awal

Ilustrasi karung pupuk urea dan tanaman hijau subur

Depok, Stapo.id – Industri pupuk nasional mencatatkan tonggak sejarah baru dalam beberapa bulan terakhir dengan keberhasilan memperluas pasar luar negeri. Di tengah guncangan rantai pasok pupuk global akibat gangguan geopolitik di Timur Tengah, Indonesia melalui BUMN holding PT Pupuk Indonesia (Persero)berhasil merealisasikan ekspor pupuk urea ke Australia, sementara sejumlah negara lain seperti India, Brasil, dan Bangladesh telah menyampaikan minat maupun permintaan pasokan.

Ekspor Perdana Pupuk Indonesia ke Australia

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melepas ekspor perdana urea Indonesia ke Australia di Pelabuhan Bontang, Kalimantan Timur, pada pertengahan Mei 2026 melalui PT Pupuk Kalimantan Timur. Pengiriman tersebut mencapai 47.250 ton pupuk urea dengan nilai sekitar Rp600 miliar. Pengiriman ini merupakan bagian awal dari komitmen kerja sama sebesar 250.000 ton yang direncanakan dapat ditingkatkan hingga 500.000 ton dengan total nilai kerja sama sekitar Rp7 triliun. Realisasi pengiriman pertama dilakukan melalui kapal Motor Vessel Medi Luna yang merapat di Pelabuhan Brisbane, Queensland, Australia, pada Juni 2026.

Kerja sama pengiriman urea ini menggunakan skema Government to Government antara Pemerintah Indonesia dan Australia dengan kontrak jangka panjang. Pasokan pupuk tersebut akan digunakan untuk mendukung produksi komoditas pertanian seperti kapas, gandum, buah-buahan, dan sayuran di wilayah Queensland dan New South Wales bagian utara sebelum sebagian lainnya dikirim ke Geelong. Hubungan dagang ini juga dirancang secara timbal balik karena Indonesia mengimpor bahan baku fosfat dari Australia.

Kapasitas Produksi dan Pemenuhan Kebutuhan Domestik

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menjelaskan bahwa kegiatan ekspor tidak akan mengganggu ketersediaan pupuk bagi petani di dalam negeri. Pupuk Indonesia saat ini memiliki kapasitas produksi total mencapai 14,8 juta ton per tahun. Target produksi urea pada tahun 2026 ditetapkan sebesar 7,8 juta ton, sementara perkiraan kebutuhan domestik berkisar di angka 6,3 juta ton. Dengan demikian, terdapat ruang surplus yang dapat dialokasikan untuk pasar ekspor tanpa mengorbankan pasokan dalam negeri.

Hingga Juni 2026, stok pupuk bersubsidi nasional tercatat aman di angka 1,23 juta ton. Realisasi penyaluran pupuk bersubsidi juga mengalami peningkatan sebesar 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencapai 4,61 juta ton. Pemerintah juga menegaskan bahwa bersamaan dengan ekspansi ekspor ini, harga pupuk bersubsidi untuk petani domestik diturunkan sebesar 20 persen serta alokasi volumenya ditingkatkan menjadi 9,55 juta ton guna mendukung swasembada pangan.

Peluang Pasar Global dan Permintaan dari Berbagai Negara

Peluang ekspor bagi Indonesia semakin terbuka lebar menyusul adanya gangguan distribusi pupuk global di Selat Hormuz yang menyebabkan hilangnya sekitar 10 juta ton kapasitas pasokan urea dunia. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga urea dunia dari kisaran semula US$600 hingga US$700 per ton menjadi mendekati US$900 per ton. Di tengah situasi tersebut, Indonesia memiliki potensi ekspor sekitar 1,5 juta ton, dengan kapasitas yang dapat mencapai sekitar 2 juta ton apabila kebutuhan domestik telah terpenuhi.

Sejumlah negara kini mulai mengajukan permintaan pasokan pupuk kepada Indonesia. Selain Australia yang memiliki kebutuhan urea tahunan sebesar 3,7 juta ton, negara-negara lain seperti India, Filipina, Brasil, dan Bangladesh juga berminat mengimpor pupuk dari Indonesia. India melalui duta besarnya telah mengajukan permintaan impor pupuk urea sebesar 500.000 ton.

Revitalisasi Industri dan Reformasi Subsidi Pupuk

Untuk mendukung kapasitas produksi dan efisiensi jangka panjang, pemerintah mendorong proyek revitalisasi industri pupuk nasional dengan nilai investasi mencapai Rp72,84 triliun. Investasi tersebut mencakup tujuh proyek strategis yang melibatkan beberapa anak usaha PT Pupuk Indonesia seperti PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Petrokimia Gresik, dan PT Pupuk Kujang. Beberapa proyek yang telah dimulai adalah pembangunan Pabrik NPK Nitrat di Cikampek serta pembaruan Pabrik Amoniak di Bontang.

Pemerintah memangkas 145 regulasi lintas kementerian dan lembaga sehingga penyaluran pupuk menjadi lebih sederhana, dari Kementerian Pertanian langsung kepada produsen, kelompok tani, dan koperasi. Sistem penyaluran kini disederhanakan dari Kementerian Pertanian langsung ke produsen kemudian ke kelompok tani atau koperasi. Langkah reformasi skema subsidi ini diproyeksikan dapat menghemat anggaran subsidi pupuk hingga Rp112 triliun sampai tahun 2035. Keberhasilan ekspor ini menunjukkan bahwa industri pupuk nasional tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan petani di dalam negeri, tetapi juga mulai memainkan peran yang lebih besar dalam menjaga stabilitas pasokan pupuk regional. Dengan surplus produksi, investasi revitalisasi industri, serta meningkatnya permintaan dari berbagai negara, Indonesia memiliki peluang memperkuat posisinya sebagai salah satu pemasok urea utama di kawasan Indo-Pasifik.