Tech

Phototank Karya Startup ITB Unjuk Gigi di FBPI 2026, Tawarkan Solusi Serap Karbon Berbasis Mikroalga

Phototank Karya Startup ITB Unjuk Gigi di FBPI 2026, Tawarkan Solusi Serap Karbon Berbasis Mikroalga

Sumber Gambar: Prototipe sistem Phototank berbasis mikroalga penyerap emisi karbon dioksida karya Greenlabs ITB saat dipamerkan dalam Forum Bisnis Paten Indonesia 2026 di JCC Senayan, Jakarta. (Foto: stapo.id)

DEPOK, Stapo.id – Forum Bisnis Paten Indonesia (FBPI) 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC) Senayan pada 3–5 November 2026 menjadi panggung bagi beragam inovasi teknologi hijau masa depan. Salah satu invensi yang mencuri perhatian adalah Phototank, sebuah sistem revolusioner berbasis mikroalga yang dikembangkan oleh Dr. Nadia dari Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui startup Greenlabs. Alat ini dirancang khusus untuk menangkap emisi karbon dioksida (CO₂) sekaligus menghasilkan oksigen secara alami.

Inovasi yang telah mendapatkan hibah Kedaireka ini dikembangkan dengan visi jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan kredit karbon di masa depan. Meskipun saat ini masih dalam bentuk prototipe, perangkat tersebut ke depannya akan diproduksi dalam skala besar dan diintegrasikan dengan teknologi digital.

“Nanti ada sensornya sehingga bisa kelihatan berapa karbon yang sudah diserap dan oksigen yang dihasilkan secara real-time,” ungkap Dr. Nadia saat ditemui di lokasi pameran pada Selasa (3/11). Sistem Phototank mikroalga ini memang dirancang lengkap dengan sensor gas untuk mengukur kemampuan penyerapan COâ‚‚ dan produksi Oâ‚‚ secara akurat. Komitmen pelindungan inovasi ini juga dibuktikan dengan terdaftarnya invensi Phototank di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual dengan nomor paten P00202415416.

Secara teknis, mikroalga dikenal mampu menyumbang setidaknya 20 persen gas oksigen di atmosfer bumi melalui proses fotosintesis. Efisiensi penangkapan dan konversi CO₂ pada mikroalga bahkan jauh lebih tinggi dibanding tanaman tingkat tinggi berkat mekanisme konsentrasi CO₂ (CO₂ Concentrating Mechanism/CCM) yang unik. Penelitian menunjukkan bahwa 100 ton mikroalga mampu mengikat hingga 183 ton CO₂ hanya dalam kurun waktu 8–10 hari, menjadikannya solusi ideal untuk mengurangi polusi udara di kawasan perkotaan padat penduduk yang minim lahan hijau.

Di bawah bendera Laboratorium Biokimia dan Rekayasa Biomolekul FMIPA ITB, tim periset mikroalga ITB secara rutin mengultivasi berbagai jenis mikroalga dari perairan tropis Indonesia hingga kawah gunung. Mikroalga yang menjadi jantung Phototank ini memiliki variasi warna yang memukau, mulai dari alga hijau, merah, hingga diatom cokelat yang berasal dari pesisir Indonesia. Selain koleksi tersebut, terdapat pula varian alga biru langka yang berasal dari Universitas Padjadjaran untuk memperkaya biodiversitas yang digunakan.

Keberagaman warna ini membuat Phototank tidak hanya fungsional sebagai penyerap polusi, tetapi juga memberikan nilai estetika tinggi. Tak heran jika alat ini mulai diminati sebagai elemen dekorasi interior, salah satunya bahkan telah diinstalasi di sebuah kafe di kawasan Dago, Bandung.

Meskipun fungsi penyerapan karbonnya sangat menonjol, Dr. Nadia menegaskan bahwa fokus utama penelitian di laboratoriumnya tetap pada pemanfaatan biomassa mikroalga tersebut. Sebagai contoh, alga cokelat diproses untuk menghasilkan silika sebagai bahan katalis, sedangkan alga hijau diekstraksi untuk diambil pigmennya.

“Sebenarnya untuk aplikasinya, karbon kredit ini adalah produk sampingan. Fokus penelitian di lab kami adalah biomassanya,” tambah Dr. Nadia. Melalui ajang FBPI 2026, teknologi hijau ini diharapkan dapat segera diimplementasikan secara luas, baik di sektor industri maupun ruang publik guna mendukung dekarbonisasi di Indonesia.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.