Algatech Nusantara Kembangkan Teknologi Mikroalga untuk Serap Karbon

Depok, Stapo.id – Startup teknologi lingkungan Algatech Nusantara mengembangkan solusi penyerapan karbon berbasis mikroalga untuk mendukung upaya dekarbonisasi di Indonesia. Melalui perangkat fotobioreaktor, perusahaan ini berupaya mengoptimalkan proses fotosintesis mikroalga untuk menyerap karbon dioksida (COâ‚‚), menghasilkan oksigen, serta menyediakan alternatif teknologi ramah lingkungan bagi gedung dan sektor industri.
Algatech Nusantara merupakan perusahaan yang berfokus pada pengembangan produk dan bisnis mikroalga. Berdasarkan profil perusahaan di LinkedIn, startup yang berkantor di Jakarta Selatan ini didirikan pada 2024 dan bergerak di bidang teknologi iklim, khususnya penyerapan karbon dan penerapan prinsip keberlanjutan lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG.
MicroForest, Fotobioreaktor untuk Penyerapan Karbon
Salah satu produk yang dikembangkan Algatech adalah MicroForest, perangkat berbasis mikroalga yang dirancang untuk ditempatkan di dalam ruangan, seperti lobi gedung dan area perkantoran. Sistem ini memanfaatkan fotobioreaktor, yaitu perangkat yang menyediakan kondisi untuk pertumbuhan organisme fotosintetik dengan bantuan cahaya.
Teknologi tersebut dikembangkan melalui kolaborasi dengan Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM) dan PT Enthalphy Environergy Consulting. Menurut UGM, MicroForest merupakan pengembangan dari prototipe Algaetree dengan tambahan desain produk dan indikator untuk menampilkan karbon dioksida yang diserap serta oksigen yang dihasilkan.
UGM menyebut perangkat berkapasitas kultivasi 100 liter itu memiliki potensi penyerapan karbon hingga 37,6 kilogram per tahun, setara dengan kemampuan penyerapan empat pohon dewasa berdasarkan perhitungan yang digunakan dalam pengembangan produk tersebut. Teknologi ini ditujukan untuk lokasi yang memiliki keterbatasan ruang bagi tanaman konvensional.
Selain MicroForest, Algatech memperkenalkan OxyFlow untuk kebutuhan pemurnian udara serta sistem kolam mikroalga modular untuk budidaya skala industri. Perusahaan juga menawarkan Algavit, larutan nutrisi untuk kultur mikroalga, dan aplikasi digital untuk memantau siklus hidup kultur serta jejak karbon.
Peluang dan Tantangan Teknologi Mikroalga
Pengembangan teknologi Algatech sejalan dengan penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa mikroalga dapat mengikat COâ‚‚ melalui fotosintesis dan menghasilkan biomassa. Namun, tingkat penyerapan karbon sangat dipengaruhi jenis mikroalga, intensitas cahaya, suhu, ketersediaan nutrisi, serta desain sistem budidaya. Karena itu, angka kinerja setiap perangkat perlu dibaca berdasarkan kondisi pengujian dan metode pengukurannya.
Pada 2025, UGM juga melaporkan rencana pemasangan lima unit MicroForest dan OxyFlow di kantor pusat Pertamina EP Cepu Regional 4 sebagai bagian dari inisiatif dekarbonisasi. Informasi tersebut menunjukkan adanya upaya penerapan teknologi di lingkungan industri, meskipun dampak pengurangan emisinya tetap perlu dinilai berdasarkan data operasional.
Bagi Algatech, tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi mikroalga dapat beroperasi secara konsisten, terukur, dan ekonomis ketika diterapkan lebih luas. Jika dikembangkan dengan pengujian yang transparan, teknologi ini berpotensi menjadi salah satu pendekatan pendukung bagi perusahaan yang ingin memperkuat program keberlanjutan dan pengelolaan emisi.
