Perkuat Hilirisasi Kopi Daerah, ALSINTANI Boyong Mesin Penyangrai Athoose Rt-2-AJ di INDOGRITECH 2026

Sumber Gambar: Perkenalkan Coffee Roaster mesin sangrai kopi milik PT. Athoose Jaya Agritech booth ALSINTANI di INDOGRITECH 2026. (Foto: stapo.id)
Depok, Stapo.id – PT Athoose Jaya Agritech (booth ALSINTANI) menegaskan komitmennya dalam modernisasi alat mesin pertanian (ALSINTANI) dengan memamerkan mesin penyangrai kopi (coffee roaster) unggulan pada ajang Indonesia Agriculture Technology Expo (INDOGRITECH) 2026 yang digelar di ICE BSD City, Tangerang.
Pameran teknologi pertanian yang diselenggarakan beriringan dengan Nusantara Livestock & Poultry Expo (NLP) pada 4–7 November 2026 tersebut menjadi panggung peluncuran solusi pascapanen Athoose Model Rt-2-AJ. Mesin berkapasitas 2 kilogram per batch ini dirancang khusus guna menjawab kebutuhan operasional pelaku usaha mikro-kecil serta kelompok tani yang ingin mandiri dalam memproses hasil kebun mereka.
Perwakilan ALSINTANI, Kiki, mengungkapkan bahwa rancang bangun mesin berdaya motor listrik 0,25 hp ini menitikberatkan pada durabilitas kerja harian. Dalam siklus produksi komersial, alat ini mampu beroperasi kontinu hingga delapan jam sehari dengan durasi penyangraian rata-rata 25 menit per siklus.
“Untuk bisnis harian, rata-rata mesin bisa bekerja selama 8 jam,” tutur Kiki saat ditemui di booth pameran ALSINTANI. Ia menerangkan bahwa kontrol termal menjadi pilar utama mesin ini guna menghindari cacat sangrai (scorching). Siklus pemanasan diinisiasi pada temperatur 120 derajat Celsius, dinaikkan bertahap menuju 140 derajat Celsius, sebelum diturunkan secara presisi serta ditopang sistem pengaduk pendingin cepat (cooling tray).
Berdasarkan data pengujian teknis resmi (test report) yang masih berlaku, mesin Athoose Rt-2-AJ terbukti mampu menekan kadar air awal biji kopi dari 8,18 persen hingga menyentuh 0,07 persen pada produk akhir. Penurunan kadar air yang terukur dan konsisten tersebut menjadi parameter krusial untuk menjaga stabilitas mutu rasa serta memperpanjang daya simpan biji sangrai (roasted beans).
Dibanderol pada kisaran harga Rp32 juta, mesin ini tidak hanya menyasar segmen kedai kopi independen atau penyedia racikan manual brew, melainkan telah diadopsi secara nyata oleh komunitas petani spesialis, seperti di sentra Robusta Temanggung dan Lereng Gunung Sumbing, Jawa Tengah.
Langkah petani melakukan penyangraian mandiri dinilai sebagai terobosan hilirisasi penting guna memutus rantai ketergantungan pada penjualan biji mentah (green bean) berharga rendah, sekaligus memproteksi keaslian varietas lokal (single origin traceability).
“Petani di sana me-roasting sendiri agar yakin bahwa ini benar-benar kopi dari Sumbing dan tidak tercampur dengan kopi lain,” imbuh Kiki.
Kehadiran teknologi pascapanen presisi berskala menengah seperti yang dihadirkan ALSINTANI diharapkan mampu mengakselerasi transformasi petani kopi lokal dari sekadar produsen komoditas mentah menjadi pelaku industri bernilai tambah tinggi di pasar kopi nasional.
