Kabar

Peluncuran Buku Fern Walk II Hadirkan Eksplorasi Pakis Gunung Slamet

Ilustrasi Fern Walk II untuk Stapo.id

Sumber Gambar: Peluncuran Buku Fern Walk II Mt. Slamet Foothills di FLOII Expo 2026 (arsip stapo.id)

Depok, Stapo.id – Tim kreator botani resmi memperkenalkan karya literatur terbaru mereka ke hadapan publik pecinta tanaman. Mereka meluncurkan buku Fern Walk II Mt. Slamet Foothills di Main Stage FLOII Hall 3A ICE BSD Tangerang pada Minggu (20/9). Acara FLOII Expo 2026 tersebut mempertemukan seluruh kolaborator penting di balik terbitnya publikasi botani ini.

Kolaborasi solid ini melibatkan Friesia Sutijati Widjaja selaku produser, Rama Andhika Utama sebagai fotografer, Sandy Jacop sebagai manajer lapangan, serta Wina Miranti Putri sebagai penulis sekaligus fotografer. Mereka merangkum keanekaragaman flora paku-pakuan dari lereng Gunung Slamet hingga Puncak Palano. Karya setebal dokumentasi visual lengkap ini dipasarkan seharga Rp375.000 per eksemplar.

Tantangan Eksplorasi Ekstrem Fern Walk II di Alam Liar

Manajer lapangan Sandy Jacop menekankan pentingnya komunikasi terbuka antaranggota regu saat menelusuri rute pendakian yang berbahaya. Keterbukaan fisik dan mental menjadi penentu utama keselamatan seluruh tim di medan rimba. “Semua harus saling memberitahu kelemahan masing-masing. Itu paling penting. Misalnya, ‘Aku ada ketakutan dengan ini,’ atau ‘Aku ada cedera di sini.’ Hal itu sangat penting agar kita bisa selamat,” ujar Sandy Jacop.

Karya jilid kedua ini menyajikan cakupan habitat tumbuhan paku yang jauh lebih bervariasi daripada seri sebelumnya. Tim menjelajahi kebun raya, kawasan hutan alami, lereng air terjun, hingga jalur pegunungan terpencil. Rama Andhika Utama berharap dokumentasi komprehensif ini mampu mengangkat martabat karya anak bangsa ke panggung internasional. “Dengan bangga saya katakan bahwa buku ini dari Indonesia dan dibuat oleh tim kita. Itu lebih ke tujuan personal saya,” kata Rama Andhika Utama.

Dedikasi Riset Keanekaragaman Hayati Indonesia

Penulis Wina Miranti Putri membagikan pengalamannya mengenai temuan botani menarik selama observasi lapangan berlangsung. Tim peneliti belum menjumpai fenomena persilangan generatif alami secara langsung pada pakis liar lereng gunung. “Jujur, kalau hibrid alami saya belum pernah ketemu. Jadi, selama saya mengumpulkan materi untuk buku ini, saya belum menemukan hibrid,” ujar Wina Miranti Putri.

Kendati demikian, Wina berhasil mengidentifikasi mutasi genetik stabil yang mirip sifat variegata pada satu spesies tertentu. Ia ingin membangun apresiasi publik terhadap flora lokal secara tulus melalui buku Fern Walk II. “Saya berharap dengan membaca buku ini, kita bisa mencintai spesies Indonesia dengan lebih rendah hati dan murni, karena itulah cita-cita saya. Apa pun yang kita lihat, baik langka maupun tidak, akan saya bahas dengan penuh kasih di buku ini,” tutur Wina Miranti Putri.

Produser Friesia Sutijati Widjaja menegaskan bahwa tim menyusun karya ini demi memajukan edukasi lingkungan tanpa mengejar laba komersial semata. “Menulis buku Perwork dalam bahasa Inggris dengan segala detailnya—seperti apa skor dan informasinya—sangat menantang. Meskipun tidak bersifat ilmiah, buku ini tidak boleh salah datanya demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Friesia Sutijati Widjaja. Tim berharap publik semakin peka terhadap kelestarian alam dan memahami kebutuhan ekosistem hutan nusantara.

Penerbitan buku ini membuktikan bahwa dedikasi independen mampu menghasilkan dokumentasi ilmiah populer berstandar tinggi. Upaya pencatatan keanekaragaman paku-pakuan lokal ini menjadi kontribusi nyata dalam melestarikan warisan alam Indonesia untuk generasi mendatang.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.