Kabar

Founder Mari Kita Bahas Soroti Rendahnya Kredibilitas Influencer Dibanding Media Mainstream

Ilustrasi simbolik kredibilitas informasi antara media massa dan influencer digital

Depok, Stapo.id – Ahmad Alimuddin, pendiri platform Mari Kita Bahas, menyoroti menurunnya kualitas diskusi publik di media sosial akibat rendahnya kredibilitas sebagian influencer dibandingkan media mainstream. Hal tersebut ia sampaikan dalam acara Dissemination of Research on Influencers and Media Sustainability in Indonesia yang digelar di IDN Times Headquarter, Jakarta, Rabu (22/4).

Dalam forum tersebut, Ahmad mengungkapkan kegelisahannya terhadap cara informasi politik beredar di ruang digital yang kini semakin dipengaruhi preferensi pribadi dan kepentingan kelompok. Menurutnya, masyarakat saat ini kerap lebih menilai informasi berdasarkan siapa yang menyampaikan, bukan berdasarkan akurasi isi yang disampaikan.

Dinamika Informasi di Ruang Digital

Ia menceritakan perjalanan awalnya sebagai kreator konten yang sebelumnya fokus mengangkat isu lokal di Sumbawa sebelum akhirnya membahas isu nasional. Perubahan itu terjadi setelah ia melihat adanya ketidakseimbangan dalam penyampaian informasi di ruang digital. Di satu sisi, kelompok pendukung pemerintah kerap menonjolkan pencapaian secara berlebihan, sementara pihak yang kritis sering terlalu fokus pada kekurangan tanpa memberi ruang terhadap hal positif yang juga layak diapresiasi.

Menurut Ahmad, situasi tersebut semakin rumit ketika sebagian influencer mengambil informasi dari media tanpa melakukan pendalaman lebih lanjut. Ia menilai banyak kreator hanya membaca judul berita lalu menyampaikan ulang kepada audiens tanpa memahami konteks utuh dari isi pemberitaan.

“Mirisnya, banyak influencer yang menurut keyakinan saya terkadang memberikan informasi hanya berbasis pada judul berita saja,” ujar Ahmad dalam sesi diskusi.

Kredibilitas Media Arus Utama

Ia menegaskan bahwa media arus utama masih memiliki keunggulan dalam menjaga kredibilitas karena bekerja dengan standar jurnalistik yang mengedepankan verifikasi dan keberimbangan. Media mainstream dinilai lebih mampu menghadirkan sudut pandang yang beragam, sementara influencer sering terjebak dalam narasi yang selaras dengan kepentingan personal maupun kelompok tertentu.

Bagi Ahmad, perbedaan mendasar itu membuat media konvensional tetap menjadi sumber informasi yang lebih dapat dipercaya oleh publik. Ia menilai influencer memang memiliki kekuatan dalam menjangkau audiens secara personal, tetapi belum tentu memiliki tanggung jawab editorial yang sama seperti lembaga media profesional.

“Menurut saya, informasi yang diberikan oleh media mainstream jauh lebih kredibel dibandingkan influencer. Sebab, para influencer ini sering kali memberikan informasi berbasis kepentingan mereka saja,” tegasnya.

Ahmad berharap para kreator digital mulai membangun budaya literasi yang lebih kuat dengan membaca informasi secara menyeluruh sebelum menyampaikan kembali kepada pengikutnya. Menurutnya, ruang digital membutuhkan lebih banyak konten yang mendorong diskusi sehat agar masyarakat tidak semakin terjebak dalam polarisasi informasi yang merugikan kualitas demokrasi.