Riset BBC: Influencer Politik Andalkan Media Arus Utama

Depok, Stapo.id – Peran influencer dalam lanskap informasi politik Indonesia kian menguat, namun riset terbaru menunjukkan bahwa mereka tetap bergantung pada media arus utama untuk menjaga akurasi. Hal ini terungkap dalam diseminasi riset yang dipaparkan oleh Research Manager BBC Media Action, Rosiana Eko, di IDN Times Headquarter, Jakarta, Rabu (22/4).
Ekosistem Media dan Influencer
Riset yang melibatkan lebih dari 2.000 responden ini mengkaji perubahan ekosistem media di tengah maraknya kehadiran social-political influencer. Dalam temuannya, influencer politik berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari selebritas, pakar, hingga masyarakat umum. Motivasi mereka pun berbeda-beda, mulai dari sikap kritis terhadap isu publik hingga kepentingan personal branding yang berujung pada peluang endorsement dan kampanye.
Rosiana menjelaskan bahwa keberhasilan influencer tidak hanya ditentukan oleh popularitas, tetapi juga oleh kombinasi kemampuan teknis dan kecerdasan emosional. Kemampuan berpikir kritis, berbicara di depan publik, dan empati menjadi fondasi penting dalam membangun kredibilitas. Di sisi lain, mereka juga dituntut memiliki kemampuan riset, produksi konten, serta pemahaman mendalam terhadap algoritma platform digital agar pesan yang disampaikan tepat sasaran.
Kredibilitas Media Arus Utama

Menariknya, meski influencer memiliki jangkauan luas dan kedekatan dengan audiens, mereka tetap menjadikan media mapan sebagai sumber utama informasi. Data riset menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap media arus utama mencapai 71 persen, jauh di atas influencer yang hanya berada di angka 32 persen. Angka ini menegaskan bahwa kredibilitas dan proses verifikasi yang dimiliki media konvensional masih menjadi standar utama dalam konsumsi informasi publik.
Riset ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi ekosistem media saat ini, termasuk rendahnya minat masyarakat untuk berlangganan berita digital. Hanya sekitar 16 persen responden yang bersedia membayar untuk mengakses berita, sementara mayoritas lainnya 84 persen masih mengandalkan akses gratis. Kondisi ini menambah tekanan bagi industri media dalam menjaga keberlanjutan bisnis di tengah perubahan perilaku konsumsi informasi.
Kolaborasi Strategis Media dan Influencer
Dalam konteks peran masing-masing, media arus utama masih dipersepsikan sebagai penyedia berita yang kredibel, sementara influencer berperan dalam memberikan perspektif dan analisis yang lebih personal. Media pemerintah dan penyiar publik dinilai kuat dalam fungsi layanan publik, sedangkan media komunitas dan independen menawarkan sudut pandang alternatif yang lebih beragam.
Sebagai rekomendasi, riset ini mendorong terciptanya hubungan timbal balik yang etis antara media dan influencer. Media memiliki kekuatan pada aspek kredibilitas dan verifikasi, sementara influencer unggul dalam aksesibilitas serta keterikatan dengan audiens melalui persona yang telah dibangun. Kolaborasi keduanya dinilai penting untuk menciptakan ekosistem informasi yang sehat, akurat, dan berkelanjutan di era digital.
