Kreativitas Manusia Tak Tergantikan AI Menurut Yovie Widianto

Depok, Stapo.id – Kreativitas manusia tetap memegang peranan kunci di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan saat ini. Staf Khusus Presiden bidang Seni, Yovie Widianto, menekankan hal ini dalam acara NextDev 11 Summit. Beliau berbicara di hadapan para pelaku industri kreatif digital di Soehana Hall SCBD (9/4).
Yovie menyoroti prestasi luar biasa para kreator Indonesia di kancah internasional. Indonesia sering meraih penghargaan dalam berbagai festival musik dan teater dunia. Menurutnya, kegagalan merupakan bagian penting dari proses belajar bagi setiap seniman.
“Ini kalau kita perhatikan bahwa gak heran Indonesia itu lewat festival apa pun itu, festival musik, festival teater, atau karya-karya digital, banyak sekali kita mendapatkan penghargaan-penghargaan di tingkat internasional,” ujar Yovie Widianto. Beliau juga berpesan agar para pemuda tidak gentar menghadapi kegagalan.
“Jangan takut gagal. Karena kegagalan itu justru menjadi tangga yang baik untuk kita pelajari atau memperbaiki apa yang kurang dari itu,” tambahnya. Yovie percaya proses memperbaiki diri akan melahirkan karya yang jauh lebih matang.
Sentuhan Nyawa dalam Karya Seni
Yovie menjelaskan perbedaan mendasar antara hasil kerja mesin dan sentuhan langsung manusia. Beliau mencontohkan lagu legendaris karyanya yang berjudul Takkan Terganti. Meskipun lagu tersebut direkam berulang kali, nuansanya tetap terasa hidup karena faktor manusia.
“Tetapi ada nyawa manusia yang menghidupkan itu. Ada nyawa manusia yang mengaransemen, ada sebuah keajaiban ketika sebuah lagu diulang berkali-kali,” ungkap Yovie. Ia menyebutkan banyak penyanyi ternama memberikan apresiasi luar biasa pada lagu tersebut.
Penyanyi seperti Dea Mirela hingga Salma Salsabil memberikan warna yang berbeda-beda. Hal ini membuktikan bahwa sentuhan emosional memberikan aura unik yang luar biasa. Kekuatan semacam ini tidak akan pernah bisa dimatikan oleh teknologi apa pun.
AI Sebagai Mitra Kreativitas Manusia
Peran teknologi harus dilihat sebagai pendukung produktivitas saja. Yovie menegaskan bahwa AI hanya bekerja berdasarkan data latih dari manusia. Teknologi tersebut mungkin bisa meniru suara, namun tidak bisa meniru perasaan yang tulus.
“AI tidak memiliki wilayah itu. Dia akan bisa membuat lagu dengan suara yang bagus seolah-olah manusia, bersuara pura-pura dengan algoritma. Kalau jatuh cinta, jatuh cintanya pura-pura,” tegas Yovie. Baginya, keaslian rasa adalah keajaiban yang harus dijaga.
Kreativitas manusia lahir dari pengalaman hidup dan pergulatan batin yang mendalam. Yovie mengajak para wirausaha kreatif untuk terus berjuang tanpa rasa takut. Usaha dan kerja keras akan memiliki nilai luar biasa jika dilakukan sepenuh hati.
