Galuh Koco Sadewo Bagikan Insight Perjalanan AI dan Startup dari NextDev ke Botika

Depok, Stapo.id – Perjalanan membangun startup sering kali dimulai dari sebuah ide sederhana. Namun di tangan orang yang tepat, ide itu bisa berkembang menjadi solusi nyata yang memberi dampak luas. Hal inilah yang tercermin dari perjalanan Galuh Koco Sadewo, Co-Founder dan Chief Business and Partnership Botika, yang kini dikenal sebagai salah satu sosok aktif dalam ekosistem startup dan kecerdasan buatan atau AI di Indonesia.
Galuh bukan hanya dikenal sebagai salah satu penggerak startup AI asal Yogyakarta, tetapi juga sebagai figur yang konsisten terlibat dalam pengembangan talenta digital nasional. Startup yang ia bangun bersama timnya, Botika, berkembang sebagai perusahaan teknologi yang fokus pada solusi AI untuk kebutuhan bisnis dan komunikasi digital. Botika sendiri berbasis di Yogyakarta dan telah dikenal melalui pengembangan teknologi chatbot serta solusi AI untuk customer support dan interaksi bisnis digital.
Pandangan Galuh Terhadap NextDev
Bagi Galuh, perjalanan bersama Telkomsel NextDev menjadi salah satu fase penting yang membentuk perspektifnya dalam membangun inovasi. Ia mengenang bagaimana pada tahun 2018, dirinya datang sebagai peserta dengan sebuah gagasan sederhana, yaitu bagaimana teknologi AI dapat membantu customer support menjadi lebih cepat, efisien, namun tetap terasa manusiawi bagi pengguna.
Dari ide tersebut, langkah Botika kemudian berkembang lebih jauh. Pada ajang NextDev Academy 2018, Botika berhasil menjadi salah satu startup terbaik bersama dua startup lainnya. Capaian itu menjadi salah satu titik penting yang membuka lebih banyak ruang pembelajaran, eksposur, dan validasi atas solusi yang mereka bangun. Pada periode yang sama, Botika juga mencatat pengakuan lain melalui publikasi di AI Journal atas inovasi mereka dalam pemanfaatan AI untuk customer support.
Namun bagi Galuh, nilai terbesar dari perjalanan itu bukan semata soal penghargaan. Ia melihat bahwa NextDev telah menjadi ruang yang mempertemukan ide, keberanian, dan proses belajar yang nyata. Dari seorang peserta, perannya kemudian berkembang menjadi mentor bagi startup-startup yang sedang merintis produk mereka. Ia juga dipercaya terlibat dalam proses evaluasi sebagai juri pada sesi pitching startup finalis.
Transformasi peran tersebut menjadi refleksi bahwa perjalanan di dunia startup bukan hanya tentang siapa yang paling cepat tumbuh, tetapi juga siapa yang mau terus belajar dan kembali berbagi. Dalam beberapa tahun terakhir, Galuh memang semakin aktif hadir sebagai mentor, pembicara, dan evaluator di berbagai forum startup. Kehadirannya juga tercatat dalam jejaring mentor global dan komunitas startup yang lebih luas.
Hal Menarik Dari Galuh Terkait NextDev 11 Summit 2026
Tahun ini, kehadirannya di NextDev Summit 2026 sebagai juri menjadi penanda lain dari perjalanan panjang tersebut. Dari yang dulu datang membawa ide, kini ia kembali sebagai sosok yang membantu menilai dan mendorong lahirnya inovasi baru dari generasi startup berikutnya. Perubahan posisi itu bukan hanya simbol pencapaian pribadi, tetapi juga gambaran bagaimana ekosistem startup yang sehat seharusnya bekerja: mereka yang pernah dibantu, suatu saat ikut membantu yang lain.
Dalam pandangan Galuh, program seperti NextDev bukan sekadar ajang kompetisi startup. Lebih dari itu, NextDev menjadi tempat untuk melihat secara langsung bagaimana ide-ide anak muda Indonesia bisa tumbuh menjadi solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ada proses pembentukan mental, validasi pasar, penguatan model bisnis, hingga keberanian untuk terus berinovasi di tengah tantangan.

Nilai inilah yang juga dibawa Galuh dalam perjalanan Botika. Menurutnya, membangun teknologi AI tidak cukup hanya mengandalkan kecanggihan sistem. Di balik setiap produk AI yang berhasil, selalu ada unsur komunitas, kolaborasi, dan keberanian untuk mencoba hal baru. Teknologi, dalam konteks ini, bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk menciptakan dampak yang lebih luas.
Teknologi Berbasis AI Makin Menjamur
Pandangan tersebut terasa relevan di tengah perkembangan AI yang kini semakin cepat dan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di satu sisi, AI membuka peluang besar untuk efisiensi dan inovasi. Namun di sisi lain, AI juga menuntut para pelaku startup untuk tetap berpijak pada kebutuhan manusia. Solusi yang dibangun harus tetap memiliki konteks, empati, dan nilai guna yang jelas.
Dari perjalanan Galuh Koco Sadewo, ada satu pelajaran penting yang bisa dipetik oleh para founder muda dan pelaku startup di Indonesia: memulai dari ide kecil bukanlah hambatan, selama ada keberanian untuk terus bertumbuh. Dunia startup bukan hanya tentang membangun produk yang canggih, tetapi juga tentang membangun perjalanan yang bermakna, baik untuk tim, ekosistem, maupun masyarakat yang dilayani.
Kini, ketika ekosistem digital Indonesia terus berkembang, kisah seperti yang dibawa Galuh dan Botika menjadi pengingat bahwa inovasi besar sering kali lahir dari proses yang panjang, konsisten, dan penuh pembelajaran. Dan dari sana, harapan terhadap lahirnya lebih banyak startup Indonesia yang berdampak pun semakin terbuka lebar.

