BisnisTech

Taxpoint AI Solusi Pintar Kelola Pajak UMKM di Indonesia

Ilustrasi Taxpoint AI untuk Stapo.id

Depok, Stapo.id – Taxpoint AI hadir memberikan solusi cerdas bagi kerumitan sistem perpajakan di Indonesia melalui pemanfaatan kecerdasan buatan. Krisna selaku perwakilan startup menjelaskan inovasi ini pada acara NextDev 11 di Soehana Hall SCBD Jakarta. Teknologi ini bertujuan menjawab kebutuhan jutaan orang yang merasa kesulitan mengelola administrasi pajak secara mandiri. Pemanfaatan Taxpoint AI menjadi langkah strategis untuk menjembatani kesenjangan akses terhadap konsultan profesional bagi masyarakat luas.

Tantangan Sistem Perpajakan Indonesia

Khrisna Ariyudha CEO Taxpoint menyoroti rendahnya jumlah tenaga ahli pajak jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menekankan bahwa rasio konsultan saat ini belum ideal untuk mendukung ekosistem usaha yang sehat. Kurangnya bantuan profesional seringkali menyulitkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dalam memenuhi kewajiban negara. Melalui data terbaru, Krisna mengungkapkan betapa sulitnya menemukan pendampingan yang tepat tanpa bantuan teknologi canggih.

“Selamat siang bapak dan ibu sekalian. So, I think unit tax is something… Pajak itu ribet, setuju? Dan ternyata 5,46 juta setuju sama teman-teman, pajak itu ribet,” ujar Khrisna. Ia menjelaskan bahwa perusahaannya mengembangkan tiga produk inti untuk mengatasi masalah tersebut. Produk utama mereka adalah platform pintar yang mampu memahami peraturan lokal dengan sangat akurat.

Startup ini meluncurkan fitur yang berfungsi sebagai navigasi utama dalam ekosistem perpajakan domestik. Pengguna dapat mendapatkan jawaban cepat melalui sistem pintar sebelum beralih ke tenaga manusia jika diperlukan. Integrasi ini memastikan setiap pengguna mendapatkan layanan yang efisien namun tetap memiliki sentuhan profesional. Kehadiran Taxpoint AI membantu pengguna memetakan estimasi kewajiban mereka selama satu tahun penuh.

Inovasi Taxpoint AI dengan Data Lokal

Akurasi sistem menjadi prioritas utama tim pengembang agar pengguna merasa aman saat berkonsultasi secara digital. Krisna menjamin bahwa data yang digunakan merupakan kumpulan informasi spesifik mengenai hukum dan akuntansi di tanah air. Tim pengembang terus memperbarui basis pengetahuan sistem agar selalu selaras dengan kebijakan pemerintah yang dinamis. Upaya ini membuahkan hasil nyata dalam bentuk penghematan biaya administrasi bagi ribuan mitra bisnis.

“Utama itu Taxpoint AI. Taxpoint adalah AI yang ditraining khusus untuk menavigasi ekosistem perpajakan di Indonesia. Lalu, if you don’t feel satisfied with the answer by AI and then you escalate your service dengan melemparkannya ke Tax Consultant Marketplace,” papar Krisna. Ia membandingkan konsep tersebut dengan layanan kesehatan digital yang menghubungkan pasien dengan pakar secara instan.

Pertumbuhan pengguna menunjukkan minat masyarakat yang sangat tinggi terhadap efisiensi administrasi berbasis kecerdasan buatan. Platform ini mencatat ratusan ribu akses dalam waktu singkat serta menangani ribuan pertanyaan mendetail. Keberhasilan ini mendorong pengembang untuk terus memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak pemangku kepentingan. Harapannya, teknologi mampu menciptakan keadilan pajak yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

“Kami sudah bekerja sama dengan 2.000 UMKM. Kami mengajari pajak dan akuntansi dengan AI kami. Dan kami berhasil saving 1,7 miliar dalam setahun terakhir,” pungkas Khrisna menutup presentasinya. Capaian ini membuktikan bahwa teknologi dapat memberikan dampak finansial yang signifikan bagi pengusaha kecil. Strategi penggabungan teknologi dan tenaga ahli menjadi kunci keberlanjutan solusi perpajakan masa depan.