Ketahanan Pangan dan Tantangan Surplus: GPPU Dorong Transformasi Berbasis Teknologi di Industri Perunggasan Nasional

Sumber Gambar: Pilar Ketahanan Pangan: Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Drh. Asrokh Nawawi (berdiri kiri), memaparkan tantangan surplus produksi serta pentingnya adopsi teknologi digital di sektor peternakan dalam konferensi pers di Auditorium HKTI, Jakarta, Selasa (27/10). Isu strategis perunggasan nasional ini akan diangkat dalam perhelatan Nusantara Livestock & Poultry Expo (NLP) dan INDOGRITECH 2026 mendatang. (Foto: stapo.id)
Depok, Stapo.id — Industri perunggasan nasional kembali ditegaskan sebagai pilar strategis dalam mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan nasional. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Drh. Asrokh Nawawi, dalam konferensi pers menyambut gelaran Nusantara Livestock & Poultry Expo (NLP) dan Indonesia Agriculture Technology Expo (INDOGRITECH) 2026 di Auditorium HKTI, Jakarta, Selasa (27/10).
Menurut Asrokh, daging ayam dan telur hingga kini tetap menjadi sumber protein hewani utama yang paling terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Kendati demikian, industri perunggasan nasional saat ini dihadapkan pada tantangan ganda: keterpusatan wilayah produksi serta fenomena surplus pasokan yang berpotensi memicu ketidakstabilan harga pasar.
Dilema Surplus dan Tantangan ‘Over Supply’
Berdasarkan data nasional, total produksi daging ayam ras Indonesia mencapai 5,47 juta ton, sementara produksi telur ayam ras berada di angka 7,33 juta ton. Ketersediaan ayam pedaging (broiler) saat ini mencatatkan surplus sebesar 36,01 persen, di mana total produksi mencapai 4,35 miliar ekor berbanding lurus dengan tingkat kebutuhan nasional sebesar 3,19 miliar ekor.
Di sisi komoditas telur, terjadi surplus sebesar 13,23 persen dari populasi ayam petelur produktif sebanyak 391 juta ekor. Namun, kemajuan teknologi genetik menciptakan dinamika baru: masa produktif ayam petelur meluas dari standar 90 minggu menjadi 120 minggu. Hal ini mendongkrak produktivitas hingga setara dengan peningkatan populasi 30 persen atau mencapai kisaran 500 juta ekor ayam secara efektif.
“Surplus seharusnya tidak menyebabkan harga turun. Namun, jika sudah menyebabkan harga jatuh di tingkat peternak, itulah yang kita sebut dengan over supply. Jika terjadi over supply, peternak akan mengeluh. Sebaliknya, jika kekurangan, konsumen yang terbeban kenaikan harga,” tegas Asrokh. Sebagai bentuk mitigasi, GPPU mendorong pelaksanaan afkir dini sesuai petunjuk teknis dan regulasi pemerintah guna menjaga stabilitas populasi.
Ketimpangan Sebaran Pasokan dan Tren Konsumsi
Tantangan lain yang tak kalah krusial adalah ketimpangan distribusi. Saat ini, basis produksi utama masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan sebagian Sumatra. Sementara itu, kawasan Kalimantan, Sulawesi, hingga Indonesia Timur kerap mengalami defisit pasokan.
Meskipun demikian, GPPU tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang industri perunggasan seiring meningkatnya tren konsumsi. Konsumsi daging ayam karkas diperkirakan mencapai 12,6 kg per kapita per tahun pada 2025 dan diproyeksikan melonjak menjadi 13,1 kg per kapita per tahun pada 2026.
Paradigma Baru: Adopsi Teknologi dan Gen-Z di Sektor Peternakan
Guna menghadapi berbagai fluktuasi, GPPU mengusung paradigma baru dalam pembibitan unggas yang mencakup empat pilar: Demand, Data, Decision, dan Action (4D). Penguatan efisiensi pakan, peningkatan produktivitas pembibitan, serta optimalisasi bahan baku pakan domestik menjadi fokus utama transformasi industri.
Asrokh juga menyambut positif masuknya generasi muda dan lahirnya peternak milenial berbasis startup yang memanfaatkan teknologi modern seperti Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) untuk pemantauan kandang serta efisiensi rantai pasok.
“Dahulu mungkin jarang anak muda tertarik pada dunia peternakan. Namun kini di industri perunggasan, semakin banyak anak muda merintis usaha startup peternakan berbasis teknologi AI dan IoT,” terangnya.
Isu-isu strategis, solusi oversupply, serta pameran teknologi peternakan modern ini nantinya akan dikupas lebih mendalam pada ajang NLP dan INDOGRITECH 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 4 hingga 7 November 2026 di ICE BSD City.
