Elisa Sugito: Kemajuan Indonesia 2045 Harus Diukur dari Perlindungan Perempuan dan Anak

Sumber Gambar: Elisa Sugito Goenadihardjo saat menyampaikan paparannya dalam Forum Nasional The Legacy Relay 2026 di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Rabu (21/10). (Foto: stapo.id)
The Legacy Relay 2026 menjadi ruang bagi generasi muda untuk merumuskan warisan bagi masa depan bangsa
Depok, Stapo.id – Kemajuan Indonesia menuju 2045 tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan fisik, maupun pencapaian teknologi. Perlindungan terhadap perempuan dan anak serta kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi secara setara juga menjadi ukuran penting bagi kemajuan bangsa.
Pandangan tersebut disampaikan Elisa Sugito Goenadihardjo dalam forum nasional The Legacy Relay 2026 yang diselenggarakan Yayasan Kartini Heritage Center (KHC) bersama Forum Dialog Nusantara (FDN) di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, Rabu (21/10).
Dalam sesi Generation Builders: Lightning Relay, Elisa menyoroti pentingnya memastikan pembangunan nasional memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat, terutama kelompok yang rentan dan memiliki keterbatasan akses terhadap kekuasaan.
“Apa artinya Indonesia menjadi negara maju, jika masih ada perempuan yang takut bersuara, anak yang belum terlindungi, dan anak muda yang merasa suaranya tidak berarti?” ujar Elisa dalam forum tersebut.
Menurutnya, kemajuan sebuah bangsa tidak semestinya hanya dilihat melalui indikator ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau penguasaan teknologi. Kualitas pembangunan juga perlu tercermin dari cara negara memperlakukan manusia, termasuk mereka yang membutuhkan perlindungan dan kesempatan yang lebih setara.
Mendorong Generasi Muda Menjadi Pelaku Perubahan

Elisa juga menekankan bahwa generasi muda perlu mengambil peran aktif dalam membangun masa depan Indonesia. Warisan dari generasi sebelumnya, menurutnya, tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga perlu diteruskan melalui tindakan nyata.
Ia menilai akses terhadap pendidikan, perlindungan yang lebih kuat, dan ruang partisipasi yang lebih luas merupakan bagian penting dari tanggung jawab antargenerasi.
Gagasan tersebut sejalan dengan tema The Legacy Relay 2026, “What Will Our Generation Leave Behind?”, yang mengajak generasi muda merefleksikan kontribusi yang dapat mereka berikan menjelang satu abad kemerdekaan Indonesia pada 2045.
Kegiatan tersebut berlangsung dalam dua rangkaian, yakni pameran tematik “Dari Ikrar Menjadi Warisan” pada 20 Oktober dan forum nasional pada 21 Oktober 2026.
Forum nasional mempertemukan sekitar 150 peserta secara langsung, dengan partisipasi hybrid hingga 500 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, akademisi, profesional, wirausahawan, hingga pelaku industri.
Diskusi dalam forum tersebut mencakup delapan klaster, termasuk pendidikan, kesetaraan, ketahanan pangan, kewirausahaan, teknologi, kebudayaan, serta partisipasi generasi muda. Hasilnya dirangkum dalam 28 gagasan untuk Indonesia 2045 yang direncanakan dibukukan dalam Legacy Relay 2026.

Bagi Elisa, tanggung jawab generasi saat ini bukan hanya menerima warisan masa lalu, melainkan memastikan generasi berikutnya memiliki kesempatan lebih baik untuk berkembang.
Pesan tersebut menempatkan perlindungan manusia, kesetaraan kesempatan, dan partisipasi generasi muda sebagai bagian penting dari upaya membangun Indonesia yang lebih adil dan manusiawi menuju 2045.
