Geotermal Jadi Motor Ekonomi Daerah, Mampu Redam Konflik Sosial di Pelosok

Sumber Gambar: MENDUKUNG KETAHANAN ENERGI: Vice President PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP), Ali Sahid (kedua dari kiri), Saat Memaparkan Keunggulan Energi Panas Bumi Sebagai Pembangkit Beban Puncak (Base Load) yang Andal Dalam Acara Sarasehan Vol III di Perpustakaan Politeknik Negeri Jakarta, Depok, Kamis (1/10). (Foto stapo.id).
Depok, Stapo.id – Sektor industri menaruh harapan besar pada pemanfaatan sumber daya terbarukan guna mempercepat pemerataan pembangunan nasional. Vice President PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP), Ali Sahid, menegaskan peran krusial energi panas bumi bagi kemajuan daerah terpencil. Pihaknya memaparkan pandangan tersebut saat menghadiri Sarasehan Vol III di Perpustakaan Politeknik Negeri Jakarta (1/10). Forum diskusi ini mengusung agenda penguatan sinergi vokasi dan industri demi menyokong ketahanan energi nasional.
Karakteristik Pembangkit Beban Puncak yang Andal
Ali menguraikan kelebihan mendasar sumber daya geotermal ketika menyandingkannya dengan pembangkit energi hijau lainnya. Geotermal menyuguhkan pasokan listrik berkesinambungan tanpa mengenal jeda cuaca. “Energi ini bisa menjadi base load karena dapat beroperasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun, dengan rata-rata capacity factor antara 90 sampai 95%,” ujarnya. Karakteristik ini menjadikan pembangkit geotermal sebagai pilar andal pemenuhan beban dasar jaringan listrik nasional.
Selain faktor keandalan pasokan, Ali menyoroti sifat unik geotermal yang melekat pada titik sumber asalnya. Industri energi panas bumi menuntut komitmen tinggi karena sifat sumber dayanya yang unik. Pengembang tidak mampu memindahkan uap alam menuju kawasan perkotaan yang jauh. “Geotermal tidak bisa karena energinya tidak dapat ditransportasikan. Itulah sebabnya teknologi ini disebut spesifik lokasi,” tambahnya. Kondisi alamiah tersebut mewajibkan korporasi membangun fasilitas pembangkit tepat pada lokasi penemuan cadangan uap bumi.
Dampak Nyata Pengembangan Energi Panas Bumi bagi Warga
Sifat spesifik lokasi tersebut justru menciptakan berkah ekonomi langsung bagi masyarakat pelosok di sekitar proyek. Langkah PT SMGP mempekerjakan masyarakat lokal terbukti ampuh meredam potensi konflik sosial di Mandailing Natal. Ali memaparkan bahwa insiden keamanan merosot drastis dari 107 gangguan pada 2021 menjadi hanya lima kasus tahun ini. Keberhasilan tersebut berpijak pada pelibatan aktif sekitar 16.000 tenaga kerja serta para pelaku usaha setempat.
Ali, yang menamatkan studi Teknik Mesin pada 1990 di kampus tersebut, menyoroti arti penting kolaborasi pendidikan vokasi. Industri membutuhkan sumber daya manusia kompeten pada bidang teknis maupun tata kelola modal manusia dan finansial. Beliau mencontohkan Fadil Ansori Lubis, putra daerah lulusan Politeknik Negeri Jakarta dari jurusan Teknik Mesin lulusan 2022 yang kini sukses memimpin tim proyek. Kiprah talenta muda ini membuktikan bahwa anak daerah sanggup menguasai teknologi energi modern.
Pemanfaatan energi panas bumi pada akhirnya bukan sekadar menghasilkan pasokan listrik bersih bagi jaringan nasional. Sektor ini berfungsi sebagai motor pemberdayaan yang mengangkat martabat sosial serta ekonomi masyarakat pelosok. Kolaborasi erat institusi pendidikan vokasi dan korporasi energi membuka jalan lebar bagi kemandirian energi berkeadilan.
