Eddy Soeparno: Sinergi Infrastruktur Digital dan Kedaulatan Bahan Bakar B50 Menuju Indonesia Hijau

Sumber Gambar: Transisi Energi Berkelanjutan: Wakil Ketua MPR RI Dr. Eddy Soeparno, S.H., M.H. (kiri) bersama Direktur Politeknik Negeri Jakarta Dr. Syamsurizal, S.E., M.M. (kanan) Memberikan Keterangan Pers Mengenai Pentingnya Pemanfaatan Energi Terbarukan Untuk Mendukung Pusat Data Global dan Program Biodiesel B50. (Foto: Stapo.id)
Depok, Stapo.id – Wakil Ketua MPR RI Dr. Eddy Soeparno menyoroti arah baru transisi kelistrikan dan kemandirian energi nasional. Peningkatan taraf hidup masyarakat kini mendorong lonjakan konsumsi daya listrik secara signifikan di berbagai daerah. Selain penggunaan alat pendingin udara, pembangunan pusat data berskala global turut mendongkrak kebutuhan pasokan listrik nasional.
Pertumbuhan fasilitas komputasi modern menuntut ketersediaan infrastruktur pendukung yang tangguh dan berkelanjutan. Investor internasional menetapkan kriteria ketat terkait kecepatan konektivitas internet dan keberadaan pasokan listrik bersih. “Mereka akan mensyaratkan dua hal: pertama, visi di mana internetnya harus lebih cepat bagi mereka; dan kedua, energinya akan menggunakan sumber energi terbarukan,” ujar Eddy.
Syarat Utama Pengembangan Data Center
Kawasan Batam di Kepulauan Riau kini menempati posisi strategis sebagai poros pertumbuhan pusat data masa depan. Ditemui di Sarasehan Vol III Politeknik Negeri Jakarta Eddy menilai integrasi infrastruktur digital, manufaktur cip, dan eksplorasi energi nuklir mampu memperkuat daya saing kawasan. Langkah strategis ini membuka jalan bagi lompatan besar teknologi informasi Indonesia di kancah global.
Indonesia juga memiliki kekayaan alam berlimpah yang mencakup panas bumi, tenaga surya, hingga potensi nuklir. Pelaku industri dapat memanfaatkan potensi tersebut secara langsung di lokasi sumber energi tanpa baterai penyimpan berbiaya tinggi. “Kita punya sumber daya baik dari panas bumi, nuklir, bahkan dari surya itu sendiri. Sekarang kita tidak lagi harus menghubungkannya dengan baterai. Kita bisa menggunakan panas bumi secara langsung di lokasi-lokasi yang memang sangat potensial,” pungkas Eddy.
Dorongan Energi Terbarukan Melalui Program B50
Selain sektor kelistrikan, pemerintah mulai menerapkan kebijakan bahan bakar nabati B50 secara bertahap sejak beberapa bulan lalu. Campuran minyak sawit sebesar 50 persen menghadirkan solusi konkret untuk memperkuat kedaulatan energi domestik. Inisiatif hijau ini mempercepat dekarbonisasi sektor transportasi darat di tanah air.
Eddy mengakui penyaluran B50 memerlukan pasokan bahan baku yang konsisten dan stabil di lapangan. Produsen saat ini terus menggenjot volume FAME agar distribusi bahan bakar nabati menjangkau seluruh wilayah. “Belum merata, tetapi sudah dipergunakan. Produksinya dilakukan secara bertahap, tidak bisa sekaligus. Oleh karena itu, kita ingin supaya bisa diproduksi lebih besar lagi karena FAME, bahan bakunya, memang kita butuhkan peningkatan volumenya,” ujar Eddy.
Pemanfaatan bahan bakar nabati memberikan dampak ganda bagi stabilitas devisa dan kebersihan lingkungan hidup. Pengurangan ketergantungan pada solar impor memperkokoh ketahanan ekonomi dari gejolak harga minyak dunia. “Lebih bersih. Pertama, lebih bersih. Kedua, artinya kita bisa mengurangi volume impor diesel kita. Kurang lebih begitu,” tambah Eddy.
Sinergi antara digitalisasi dan kedaulatan bahan bakar mencerminkan komitmen kuat menuju masa depan berkelanjutan. Keberhasilan agenda ini bertumpu pada konsistensi penyediaan bahan baku dan kesiapan infrastruktur pendukung di seluruh nusantara.
