Insight

Dari Tugas Kuliah hingga Diretas, Ini Kisah Jatuh Bangun Sluk Bluk Oto Membangun Media

Dari Tugas Kuliah hingga Diretas, Ini Kisah Jatuh Bangun Sluk Bluk Oto Membangun Media

Sumber Gambar: Muhammad Tegar Alhamsyah Founder Sluk Bluk Otomotif Membagikan Pandangan dan Cerita Saat Memulai Membangun Media Otomotif di Starting Point Talks Series 8. (Foto: stapo.id)

Depok, Stapo.id — Di tengah disrupsi industri media dan maraknya perebutan atensi digital, mempertahankan media komunitas independen bukanlah perkara mudah. Hal tersebut dibuktikan oleh M. Tegar Alhamsyah, Founder Sluk Bluk Oto, yang membagikan peta jalan resiliensi medianya dalam forum Starting Point Talks Series 8 via Zoom pada Rabu (28/10).

Lahir pada 2014, Sluk Bluk Oto sejatinya bermula dari sebuah proyek tugas kuliah biasa. Ketiadaan modal besar dan latar belakang non-korporasi justru menjadi kawah candradimuka bagi Tegar dan timnya. Di balik konsistensi liputan otomotif yang kini meluas ke berbagai daerah, tersimpan narasi bertahan hidup yang penuh hantaman, mulai dari krisis finansial, serangan siber, hingga friksi antarpelaku industri.

“Seluk Beluk Oto sebenarnya awalnya bukan media serius, melainkan hanya proyek kuliah saja,” ungkap Tegar membuka sesi diskusi. Minat mendalam terhadap ekosistem otomotif tanah air lantas mendorong inisiatif akademis ini bertransformasi menjadi platform media yang lebih terstruktur dan berkesinambungan.

Namun, jalur independen menuntut harga mahal. Di fase rintisan awal, keterbatasan modal menjadi rintangan terbesar. Strategi operasional dijalankan secara mandiri dengan anggaran serbaminim. Kondisi kian pelik ketika Sluk Bluk Oto menghadapi kerugian aset digital signifikan: akun Instagram resmi mereka yang telah mengumpulkan lebih dari 5.600 pengikut diretas pihak tak bertanggung jawab. Kehilangan basis audiens digital secara mendadak memaksa tim memulai kembali eksistensi media sosial mereka dari titik nol.

Tak berhenti pada kerentanan teknologis, Tegar juga menyinggung dinamika eksternal berupa rivalitas destruktif. Ia membeberkan bahwa Sluk Bluk Oto sempat mengalami tekanan dari oknum media maupun kreator lain yang berupaya mereduksi eksistensi mereka di ruang publik.

Lantas, apa resep yang membuat media ini tetap tegak bertahan hingga hari ini? Menurut analisis Tegar, kuncinya terletak pada tiga pilar fundamental: loyalitas terhadap kualitas kurasi konten, ketahanan mental tim, dan kedekatan autentik dengan komunitas otomotif.

Alih-alih mengandalkan sensasionalisme atau perangkap klik (clickbait) demi memulihkan angka pengikut secara instan, Sluk Bluk Oto memilih jalur kurasi organik. Mereka fokus memproduksi informasi yang dapat diandalkan dan relevan dengan realitas para pegiat roda dua maupun roda empat. Pilihan ini terbukti membangun modal sosial yang kokoh—sebuah fondasi yang tidak mudah runtuh meski kanal distribusi utama sempat dibobol.

Kini, seiring proses pemulihan basis audiens digitalnya, Sluk Bluk Oto menunjukkan bahwa media skala mikro dapat bertahan melewati siklus krisis selama mempertahankan diferensiasi dan integritas liputan. Eksistensi mereka menjadi preseden penting bagi media-media komunitas lainnya di Indonesia: dalam lanskap digital yang kian bising, daya tahan tidak semata-mata diukur dari tebalnya modal, melainkan dari kedalaman hubungan dengan audiens yang dilayani.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.