Kabar

Danantara Siapkan Investasi Domestik, Bidik Peluang di Bursa Saham

Ilustrasi konseptual investasi dan pasar modal dengan grafik keuangan serta elemen energi bersih di atas meja kerja

Danantara berencana memperbesar investasi dalam negeri, membuka peluang masuk ke pasar saham saat valuasi menarik, serta menjajaki sektor energi, infrastruktur digital, dan kecerdasan buatan.

Depok, Stapo.id – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berencana meningkatkan penempatan modal di dalam negeri dalam beberapa bulan mendatang. Strategi ini mencakup investasi pada proyek strategis nasional, pasar modal, transisi energi, infrastruktur digital, hingga pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan kepada Bloomberg pada Jumat (9/10/2026) bahwa lembaganya akan lebih berfokus pada peluang domestik dalam tiga hingga enam bulan ke depan. Pandu menyebut Danantara telah menyalurkan sekitar US$5 miliar hingga US$6 miliar dari rencana investasi 2026 sebesar US$13 miliar.

Selain itu, Danantara memiliki komitmen investasi tambahan sekitar US$5 miliar yang sebagian besar diarahkan ke pasar domestik. Sektor transisi energi, energi terbarukan, dan infrastruktur digital menjadi sejumlah bidang yang menarik minat investor. Danantara juga menjajaki pendanaan lanjutan melalui penerbitan obligasi di Amerika Serikat dan China serta hubungan dengan perbankan.

Danantara Buka Peluang Masuk Saat Bursa Tertekan

Di pasar modal, Head of Public Investment Danantara Investment Management, Rani Piputri, menyatakan kepada Reuters pada 9 Oktober bahwa Danantara terbuka membeli saham domestik ketika pasar mengalami tekanan, selama peluang tersebut memenuhi pertimbangan investasi.

Rani mengungkapkan bahwa divisi investasi publik Danantara telah menempatkan sekitar US$3 miliar pada saham dan obligasi domestik maupun internasional. Lembaga tersebut berencana menambah investasi sekitar US$1 miliar hingga akhir 2026, bergantung pada kondisi pasar dan hasil uji tuntas.

Menurut Rani, tekanan akibat sentimen eksternal yang bersifat sementara dapat membuka peluang memperoleh aset dengan valuasi menarik. Namun, ia menegaskan bahwa keputusan investasi tetap harus melalui analisis dan bukan semata-mata untuk menopang indeks saham.

Rencana tersebut menjadi perhatian menjelang tinjauan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI pada November 2026. MSCI sebelumnya menyampaikan kekhawatiran mengenai keterbukaan informasi dan investabilitas pasar Indonesia. Jika kemajuan reformasi dinilai belum memadai, MSCI dapat mempertimbangkan konsultasi mengenai perubahan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.

Ekspansi Investasi dan Tantangan Tata Kelola

Reuters melaporkan bahwa portofolio investasi publik Danantara terdiri atas sekitar 65% ekuitas, 30% instrumen pendapatan tetap, dan 5% hedge fund. Sekitar seperempat portofolio tersebut ditempatkan di Indonesia.

Danantara juga menjajaki pembentukan konsorsium bersama dana pensiun domestik dan satu hingga dua perusahaan lokal untuk mengakuisisi saham Bursa Efek Indonesia (BEI). Di sektor teknologi, Pandu menyebut lembaganya ingin meningkatkan eksposur pada AI, dengan tetap memperhatikan risiko valuasi.

Perluasan investasi tersebut berpotensi menambah sumber pembiayaan bagi proyek produktif dan memperdalam pasar modal. Namun, dampaknya bergantung pada transparansi keputusan investasi, tata kelola, pengelolaan risiko, dan kemampuan menghasilkan imbal hasil yang sepadan.

Keterlibatan Danantara di pasar saham juga perlu dibedakan dari mandat penyelamatan pasar. Pembelian saham saat harga turun tidak menjamin indeks akan pulih. Keberhasilan strategi ini pada akhirnya ditentukan oleh kualitas aset yang dipilih, disiplin investasi, serta kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.