Tech

Cegah Risiko Blackout, Hitachi Energy Kenalkan Teknologi HVDC untuk Stabilkan Grid Fluktuatif

Ilustrasi teknologi HVDC untuk Stapo.id

Sumber Gambar: Arsitektur Jaringan HVDC: Memangkas Losses Daya pada Interkoneksi Listrik Sumatra-Jawa 2,6 GW (arsip stapo.id)

Depok, Stapo.id – Peralihan menuju sumber energi bersih menuntut kesiapan infrastruktur jaringan listrik modern. Perusahaan Hitachi Energy memperkenalkan sistem transmisi mutakhir pada gelaran Electricity Connect di ICE BSD. Teknologi HVDC memegang peran krusial dalam menyalurkan listrik secara efisien melintasi jarak yang sangat jauh.

Sistem transmisi ini mengubah arus bolak-balik menjadi arus searah demi meminimalkan kehilangan daya listrik. Perwakilan Hitachi Energy, Rifky, membeberkan sejumlah keunggulan teknis dari pemanfaatan sistem tersebut. “Nilai loss-nya lebih kecil, lalu DC tidak memiliki skin effect dan tidak ada frekuensi, jadi lebih efisien,” ungkapnya.

Kesiapan jaringan transmisi menjadi sangat mendesak seiring target pemerintah menambah kapasitas pembangkit bersih. Pasalnya, pasokan listrik dari sumber terbarukan memiliki karakteristik daya yang cenderung naik dan turun secara fluktuatif. Jaringan konvensional kerap menghadapi kendala besar saat menerima pasokan daya baru yang belum stabil.

Rifky mengingatkan bahaya integrasi daya yang fluktuatif ke dalam sistem jaringan konvensional. “Kestabilan grid akan terganggu dan terjadi hilangnya inersia di grid. Ujung-ujungnya ada potensi blackout,” tegas Rifky. Penerapan teknologi HVDC berfungsi menjaga kestabilan sistem sekaligus memperkuat ketahanan pasokan listrik secara menyeluruh.

Keunggulan Teknologi HVDC untuk Interkoneksi Pulau

Pemerintah telah memasukkan rencana interkoneksi antarpulau ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik. Proyek strategis Sumatra menuju Jawa membidik penyaluran daya sebesar 2,6 gigawatt pada tahun 2031 mendatang. Sistem transmisi dua arah ini memfasilitasi pengiriman daya bersih menuju sentra beban industri secara optimal.

Rifky menegaskan pentingnya interkoneksi tersebut bagi pemerataan pemanfaatan sumber daya alam nasional. “Hal ini diproyeksikan untuk energi terbarukan agar pulau-pulau di luar Jawa bisa mengirimkan dayanya ke pusat beban,” ujar Rifky. Teknologi HVDC terbukti mempermudah proses restorasi listrik saat sistem kelistrikan daerah mengalami gangguan teknis.

Tantangan Distribusi dan Prospek Jaringan Regional

Selain rute Sumatra dan Jawa, rencana interkoneksi turut mencakup lintasan Pulau Kalimantan menuju Sulawesi. Namun, pembangunan infrastruktur transmisi di kawasan timur Indonesia seperti Papua masih menemui berbagai hambatan geografis. Pola persebaran penduduk yang berjauhan menuntut penanganan teknis penurunan tegangan terlebih dahulu.

Rifky menjelaskan kondisi jaringan kelistrikan yang berada di wilayah timur tersebut secara lugas. “Untuk Papua, rencananya masih sangat terbatas karena distribusinya masih 20 kV dan belum ada transmisi setahu saya. Di sana rata-rata jarak antarkampung masih jauh sehingga polanya radial,” tambahnya.

Integrasi jaringan listrik antarpulau membentuk fondasi penting bagi kemandirian energi nasional jangka panjang. Langkah modernisasi transmisi ini mempercepat pencapaian bauran energi hijau sekaligus mencegah risiko krisis pasokan. Keberhasilan penguatan infrastruktur kelistrikan akan mengantar Indonesia mewujudkan ketahanan energi yang tangguh dan berkelanjutan.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.